@bluaek: missing them Hours #usagi #arisu #aliceinborderland #aliceinborderlandedit #aib

￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴￴ ￴￴ ￴￴￴ ￴ ￴ ￴
￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴￴ ￴￴ ￴￴￴ ￴ ￴ ￴
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 07 July 2026 18:08:48 GMT
817
94
12
9

Music

Download

Comments

desdagoatfr11
︴𝓢u zai zai 彡 :
I LOVE THIS
2026-07-09 13:34:16
1
dihdri_
ᴅ ᥫ᭡ :
PEAK
2026-07-07 20:02:26
1
jackiesgirlf
￴￴ :
I MISS TGEM
2026-07-07 20:04:02
1
juunmiu
🐰 :
Omg i miss Aib
2026-07-07 18:10:00
1
dihdri_
ᴅ ᥫ᭡ :
AHHHHHHH AIB
2026-07-07 20:02:22
1
jackiesgirlf
￴￴ :
STOP
2026-07-07 20:03:51
1
juunmiu
🐰 :
soooo Good
2026-07-07 18:10:07
1
To see more videos from user @bluaek, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

FYI : video diatas hanyalah simulasi untuk karena seluruh teleskop di Bumi telah dikerahkan untuk mengamati tetapi masih belum jelas terekam.  Pada 5 Agustus 2026, bagian atas (upper stage) roket SpaceX Falcon 9 menghantam permukaan Bulan setelah mengembara di ruang angkasa selama lebih dari satu tahun. Tabrakan ini bukanlah bagian dari misi yang direncanakan, melainkan terjadi karena tahap roket tersebut kehabisan bahan bakar setelah berhasil mengirim dua wahana pendarat menuju Bulan pada Januari 2025. Berdasarkan pengamatan para astronom, roket berbobot sekitar 4 ton itu menabrak Bulan dengan kecepatan sekitar 8.700 km/jam (2,43 km/detik). Karena Bulan tidak memiliki atmosfer, roket tidak terbakar saat memasuki permukaan, sehingga menghantam tanah secara langsung dan membentuk kawah baru berdiameter sekitar 20 meter, dengan beberapa perkiraan mencapai hampir 40 meter. Meski banyak observatorium di seluruh dunia mengarahkan teleskopnya ke Bulan untuk menyaksikan momen tersebut, kilatan tumbukan tidak berhasil direkam secara jelas. Namun, teleskop European Southern Observatory (ESO) di Chile berhasil mendeteksi awan material hasil tumbukan yang mengandung natrium dari tanah Bulan dan litium yang diduga berasal dari roket. Awan material itu sempat membumbung hingga puluhan kilometer sebelum perlahan menghilang. Bagi para ilmuwan, peristiwa ini menjadi kesempatan langka untuk mempelajari bagaimana tumbukan berkecepatan tinggi memengaruhi permukaan Bulan. Data yang diperoleh dapat membantu memahami proses pembentukan kawah, karakteristik debu Bulan, hingga meningkatkan kesiapan menghadapi sampah antariksa seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi Bulan di masa depan. Walaupun terdengar dramatis, tumbukan ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi maupun misi aktif di Bulan. Namun, peristiwa tersebut kembali mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah antariksa agar sisa-sisa roket tidak menjadi risiko bagi eksplorasi luar angkasa di masa mendatang.  Sumber: * NASA  * The Guardian  * EarthSky  * Space. com
FYI : video diatas hanyalah simulasi untuk karena seluruh teleskop di Bumi telah dikerahkan untuk mengamati tetapi masih belum jelas terekam. Pada 5 Agustus 2026, bagian atas (upper stage) roket SpaceX Falcon 9 menghantam permukaan Bulan setelah mengembara di ruang angkasa selama lebih dari satu tahun. Tabrakan ini bukanlah bagian dari misi yang direncanakan, melainkan terjadi karena tahap roket tersebut kehabisan bahan bakar setelah berhasil mengirim dua wahana pendarat menuju Bulan pada Januari 2025. Berdasarkan pengamatan para astronom, roket berbobot sekitar 4 ton itu menabrak Bulan dengan kecepatan sekitar 8.700 km/jam (2,43 km/detik). Karena Bulan tidak memiliki atmosfer, roket tidak terbakar saat memasuki permukaan, sehingga menghantam tanah secara langsung dan membentuk kawah baru berdiameter sekitar 20 meter, dengan beberapa perkiraan mencapai hampir 40 meter. Meski banyak observatorium di seluruh dunia mengarahkan teleskopnya ke Bulan untuk menyaksikan momen tersebut, kilatan tumbukan tidak berhasil direkam secara jelas. Namun, teleskop European Southern Observatory (ESO) di Chile berhasil mendeteksi awan material hasil tumbukan yang mengandung natrium dari tanah Bulan dan litium yang diduga berasal dari roket. Awan material itu sempat membumbung hingga puluhan kilometer sebelum perlahan menghilang. Bagi para ilmuwan, peristiwa ini menjadi kesempatan langka untuk mempelajari bagaimana tumbukan berkecepatan tinggi memengaruhi permukaan Bulan. Data yang diperoleh dapat membantu memahami proses pembentukan kawah, karakteristik debu Bulan, hingga meningkatkan kesiapan menghadapi sampah antariksa seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi Bulan di masa depan. Walaupun terdengar dramatis, tumbukan ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi maupun misi aktif di Bulan. Namun, peristiwa tersebut kembali mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah antariksa agar sisa-sisa roket tidak menjadi risiko bagi eksplorasi luar angkasa di masa mendatang. Sumber: * NASA * The Guardian * EarthSky * Space. com

About