@centralgeeck: Deve ter várias engavetado #creatorsearchinsights #viralvideo #meme #7mz

centralgeeck
centralgeeck
Open In TikTok:
Region: BR
Wednesday 08 July 2026 00:05:15 GMT
437
56
5
1

Music

Download

Comments

gabriellucasvelloso
Gabriel Lucas Vellos :
kaksksksksksksksk até hoje eu estou esperando ele lançar rico rapper nerd
2026-07-08 12:50:37
1
ianfaustolima
@Ianfaustolima :
😂😂😂
2026-07-08 00:52:57
0
To see more videos from user @centralgeeck, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

DI BERANDA RUMAH TUA YANG TAK PERNAH BERUBAH   Dulu, bertahun-tahun yang lalu, di beranda rumah tua ini, hari-hari terasa begitu sederhana namun penuh kebahagiaan. Kita masih muda, masih bersekolah, dan dunia seolah milik kita berdua. Sore-sore sering kita habiskan di sini, duduk berdampingan, saling bercerita tentang mimpi-mimpi yang ingin kita wujudkan kelak.  Engkau bersandar di pundaku, lalu menatapku dalam-dalam dan berjanji tak peduli ke mana waktu membawa kita, kita akan selalu kembali ke sini, ke tempat di mana cinta kita pertama kali tumbuh dan bersemi..   Kita tak pernah menyangka, bahwa perpisahan ternyata datang begitu cepat. Tak ada pertengkaran, tak ada kebencian — hanya keadaan yang memaksa langkahmu berjalan jauh.  Hari perpisahan itu tiba begitu tenang, namun merobek hatiku perlahan. Engkau pergi menuntut ilmu ke tempat yang jauh, berjanji akan kembali secepat mungkin.  Aku percaya, dan aku menunggu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Namun kabar darimu tak kunjung datang.   Dulu aku pikir, mungkin engkau sibuk, mungkin engkau lupa memberi kabar. Namun tahun-tahun terus berlalu, rambutku mulai memutih, dan engkau tetap tak kembali, jejakmu seakan hilang ditelan bumi. Aku mencari ke mana-mana, bertanya kepada siapa saja yang mungkin tahu keberadaanmu, namun tak ada yang tahu. Seakan-akan engkau hanyalah sebuah mimpi indah yang tiba-tiba lenyap.   Kini aku kembali ke beranda ini, setiap hari, setiap sore. Tempat dudukmu masih kosong, tiang kayu tempat engkau bersandar masih tegak berdiri, tanaman di sudut halaman masih tumbuh subur — semuanya masih sama persis, hanya satu yang berubah: engkau tak pernah lagi ada di sini.   Foto ini, yang kita ambil dulu, adalah satu-satunya bukti bahwa semua itu sungguh pernah terjadi. Bahwa tawa itu nyata, pelukan itu nyata, janji itu nyata. Kadang aku memandanginya berjam-jam, mencoba mengingat setiap detail wajahmu, mencoba mendengar kembali suaramu yang lembut. Namun semakin aku ingat, semakin aku sadar: semua itu kini hanya tinggal kenangan.   Aku tak tahu di mana engkau berada sekarang. Entah engkau bahagia di sana, entah engkau masih mengingatku, atau bahkan engkau sudah melupakan segalanya. Yang aku tahu, hatiku tak pernah benar-benar beranjak dari beranda ini. Aku masih menunggumu, meski aku tahu waktu tak akan berulang.   Beranda ini tak akan pernah berubah, sama seperti cintaku padamu. Namun engkau tak akan pernah kembali.  Dan itulah yang paling menyakitkan — bukan karena kau pergi, tapi karena aku masih di sini, menunggu seseorang yang mungkin tak pernah tahu, bahwa hingga hari ini pun, aku masih merindukannya dengan segenap jiwaku.
DI BERANDA RUMAH TUA YANG TAK PERNAH BERUBAH Dulu, bertahun-tahun yang lalu, di beranda rumah tua ini, hari-hari terasa begitu sederhana namun penuh kebahagiaan. Kita masih muda, masih bersekolah, dan dunia seolah milik kita berdua. Sore-sore sering kita habiskan di sini, duduk berdampingan, saling bercerita tentang mimpi-mimpi yang ingin kita wujudkan kelak. Engkau bersandar di pundaku, lalu menatapku dalam-dalam dan berjanji tak peduli ke mana waktu membawa kita, kita akan selalu kembali ke sini, ke tempat di mana cinta kita pertama kali tumbuh dan bersemi.. Kita tak pernah menyangka, bahwa perpisahan ternyata datang begitu cepat. Tak ada pertengkaran, tak ada kebencian — hanya keadaan yang memaksa langkahmu berjalan jauh. Hari perpisahan itu tiba begitu tenang, namun merobek hatiku perlahan. Engkau pergi menuntut ilmu ke tempat yang jauh, berjanji akan kembali secepat mungkin. Aku percaya, dan aku menunggu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Namun kabar darimu tak kunjung datang. Dulu aku pikir, mungkin engkau sibuk, mungkin engkau lupa memberi kabar. Namun tahun-tahun terus berlalu, rambutku mulai memutih, dan engkau tetap tak kembali, jejakmu seakan hilang ditelan bumi. Aku mencari ke mana-mana, bertanya kepada siapa saja yang mungkin tahu keberadaanmu, namun tak ada yang tahu. Seakan-akan engkau hanyalah sebuah mimpi indah yang tiba-tiba lenyap. Kini aku kembali ke beranda ini, setiap hari, setiap sore. Tempat dudukmu masih kosong, tiang kayu tempat engkau bersandar masih tegak berdiri, tanaman di sudut halaman masih tumbuh subur — semuanya masih sama persis, hanya satu yang berubah: engkau tak pernah lagi ada di sini. Foto ini, yang kita ambil dulu, adalah satu-satunya bukti bahwa semua itu sungguh pernah terjadi. Bahwa tawa itu nyata, pelukan itu nyata, janji itu nyata. Kadang aku memandanginya berjam-jam, mencoba mengingat setiap detail wajahmu, mencoba mendengar kembali suaramu yang lembut. Namun semakin aku ingat, semakin aku sadar: semua itu kini hanya tinggal kenangan. Aku tak tahu di mana engkau berada sekarang. Entah engkau bahagia di sana, entah engkau masih mengingatku, atau bahkan engkau sudah melupakan segalanya. Yang aku tahu, hatiku tak pernah benar-benar beranjak dari beranda ini. Aku masih menunggumu, meski aku tahu waktu tak akan berulang. Beranda ini tak akan pernah berubah, sama seperti cintaku padamu. Namun engkau tak akan pernah kembali. Dan itulah yang paling menyakitkan — bukan karena kau pergi, tapi karena aku masih di sini, menunggu seseorang yang mungkin tak pernah tahu, bahwa hingga hari ini pun, aku masih merindukannya dengan segenap jiwaku.

About