@eduardakarolayne06: #fyyyyppppppp #fyy

Dudaa
Dudaa
Open In TikTok:
Region: BR
Wednesday 08 July 2026 19:39:17 GMT
2152
414
11
1

Music

Download

Comments

brendoviniciusm41
𝖁𝖎𝖓𝖓𝖞 𝖁𝖎𝖓í𝖈𝖎𝖚𝖘 :
gata 😍
2026-07-15 21:54:37
0
jesus.azevedo32
Jesus Azevedo :
Top☺️
2026-07-13 18:52:11
0
csar.soares896
Cesar :
uau charmosa Linda demais Parabéns pela Beleza isnubrante com todo o respeito é solteira e é de onde
2026-07-08 21:54:26
0
italosouza624
italosouza624 :
lindaaah
2026-07-08 21:18:38
0
leandroferreira390
Leandro Ferreira :
qbb
2026-07-09 11:09:01
0
anderson.medeiros51
Anderson Medeiros :
gstz 😍😍🤭
2026-07-09 12:19:57
0
niltonsilva788
Nilton Silva :
eita Bb linda gostei de Más 😍💓💓
2026-07-08 20:38:49
0
adnildo.pereira
Adnildo Pereira :
😍😍😘😘
2026-07-09 16:16:20
1
mateusdasilvalima12
MT1998🫡 :
❣️❣️❣️
2026-07-09 04:31:58
0
niltonsilva788
Nilton Silva :
😍😍😍
2026-07-08 20:38:40
0
hefer491
hefer :
linda maravilhosa chow top gata dança muito 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2026-07-09 17:31:53
0
To see more videos from user @eduardakarolayne06, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov|| Enam tahun. Enam tahun kamu hidup dengan nama baru, kota baru, dan toko bunga kecil yang nyaris tak pernah ramai. Bagimu, kehidupan sederhana jauh lebih baik daripada kembali mengingat mansion megah milik keluarga Park. Hari itu hujan turun tipis. Kamu sedang merangkai buket bunga matahari ketika ponsel di meja kasir berdering. Nomor tidak dikenal. “Hallo?” Tak ada jawaban selama beberapa detik. Lalu terdengar suara pria yang sangat kamu kenal. “Aku menemukanmu.” Jantungmu berhenti berdetak. Tanganmu gemetar hingga gunting bunga jatuh ke lantai. Tanpa berkata apa pun, kamu langsung mematikan sambungan telepon. “Tidak! tidak mungkin,” Dia tidak mungkin menemukanmu. Kamu menggeleng berulang kali, buru-buru menutup toko lebih awal. Langkah kakimu tergesa memasuki rumah kecil yang berada tepat di belakang toko. Koper. Uang tunai. Paspor. Dokumen penting. Kamu memasukkan semuanya dengan tangan yang terus bergetar. “Aku harus pergi sekarang,” Saat tanganmu memutar gagang pintu Brak! Pintu terbuka lebih dulu. Tubuhmu terdorong mundur hingga hampir kehilangan keseimbangan. Seseorang melangkah masuk. Jas hitam. Tatapan dingin. Dan wajah yang tak pernah berhasil kamu lupakan selama enam tahun terakhir. “Sunghoon.” Pria itu menatap seluruh ruangan sederhana di sekelilingmu. Lalu kembali menatapmu. “Bukankah dulu kamu menerima dua puluh miliar dari kakekku?” Tatapannya menyapu rumah kecil itu. “Kenapa hidupmu justru menyedihkan seperti ini?” Kamu mengepalkan tangan. “Itu bukan urusanmu.” “Kamu masih keras kepala.” “Aku bilang keluar.” Sunghoon justru melangkah semakin dekat. Kamu mundur. Satu langkah. Dua langkah. Hingga punggungmu membentur dinding. Tanpa aba-aba, tangannya mencengkeram dagumu. Bibirnya menyentuh bibirmu sekilas. Kamu langsung mendorong dadanya sekuat tenaga. “Jangan sentuh aku!” Sunghoon hanya mengusap sudut bibirnya, seolah tak terjadi apa-apa. “Aku beri kamu waktu.” Dia melirik jam tangannya. “Sepuluh detik.” “Apa?” “Untuk kabur.” Dia mulai menghitung. “Sepuluh.” “Sembilan.” Kamu tak ingin mencari tahu apa yang akan terjadi setelah hitungan itu habis. Begitu ia mengucap delapan, kamu langsung berlari menuju pintu. Lima. Empat. Tiga. Tanganmu berhasil meraih gagang pintu. Klik. Pintu terbuka Namun tubuhmu mendadak ditarik ke belakang. “Kya..” Kamu refleks memukul perut Sunghoon. Pria itu hanya mengerutkan alis, nyaris tak bergeming. Saat kamu kembali menoleh ke pintu Beberapa pria berbadan besar sudah berdiri di sana. Bodyguard. Salah satu dari mereka bahkan menutup pintu kembali. Harapanmu untuk kabur lenyap dalam hitungan detik. Air matamu mulai menggenang. “Kenapa kamu menggangguku?” Sunghoon menatapmu lama. “Aku hanya ingin mengambil kembali uangku.” “Aku tidak punya uang sebanyak itu, Tolong, beri aku waktu lagi.” “Hah.” Ia tertawa pelan. “Bukankah aku sudah memberimu enam tahun?” Sunghoon mendekat hingga jarak kalian nyaris tak menyisakan ruang. “Sekarang, waktunya kamu membayar.” Belum sempat kamu bereaksi, tubuhmu sudah diangkat begitu saja ke dalam gendongannya. “Turunkan aku!” Kamu memukul bahunya berkali-kali. “Sunghoon! Lepaskan!” Ia tetap berjalan keluar rumah. Bodyguard membawa koper yang bahkan belum sempat kamu tutup. Mobil hitam telah menunggu. Pintu dibuka. Kamu dimasukkan ke dalam kursi belakang, sementara Sunghoon duduk di sampingmu. Perjalanan berlangsung tanpa satu kata pun. Semakin jauh mobil melaju, semakin familiar jalan yang dilewati. Dan ketika gerbang besi besar perlahan terbuka Napasmu tercekat. Mansion itu. Rumah yang pernah kamu anggap sebagai rumahmu. Rumah yang juga menjadi tempat hatimu hancur enam tahun lalu. ⸻ Kamar itu tidak berubah sedikit pun. Bahkan letak foto pernikahan kalian masih berada di tempat yang sama. Sunghoon mengunci pintu dari luar. Klik. Suara itu membuatmu sadar. Kamu benar-benar tidak bisa keluar.{lanjutin di saluran} #sunghoon #enhypen #fypppppppppppppp
Pov|| Enam tahun. Enam tahun kamu hidup dengan nama baru, kota baru, dan toko bunga kecil yang nyaris tak pernah ramai. Bagimu, kehidupan sederhana jauh lebih baik daripada kembali mengingat mansion megah milik keluarga Park. Hari itu hujan turun tipis. Kamu sedang merangkai buket bunga matahari ketika ponsel di meja kasir berdering. Nomor tidak dikenal. “Hallo?” Tak ada jawaban selama beberapa detik. Lalu terdengar suara pria yang sangat kamu kenal. “Aku menemukanmu.” Jantungmu berhenti berdetak. Tanganmu gemetar hingga gunting bunga jatuh ke lantai. Tanpa berkata apa pun, kamu langsung mematikan sambungan telepon. “Tidak! tidak mungkin,” Dia tidak mungkin menemukanmu. Kamu menggeleng berulang kali, buru-buru menutup toko lebih awal. Langkah kakimu tergesa memasuki rumah kecil yang berada tepat di belakang toko. Koper. Uang tunai. Paspor. Dokumen penting. Kamu memasukkan semuanya dengan tangan yang terus bergetar. “Aku harus pergi sekarang,” Saat tanganmu memutar gagang pintu Brak! Pintu terbuka lebih dulu. Tubuhmu terdorong mundur hingga hampir kehilangan keseimbangan. Seseorang melangkah masuk. Jas hitam. Tatapan dingin. Dan wajah yang tak pernah berhasil kamu lupakan selama enam tahun terakhir. “Sunghoon.” Pria itu menatap seluruh ruangan sederhana di sekelilingmu. Lalu kembali menatapmu. “Bukankah dulu kamu menerima dua puluh miliar dari kakekku?” Tatapannya menyapu rumah kecil itu. “Kenapa hidupmu justru menyedihkan seperti ini?” Kamu mengepalkan tangan. “Itu bukan urusanmu.” “Kamu masih keras kepala.” “Aku bilang keluar.” Sunghoon justru melangkah semakin dekat. Kamu mundur. Satu langkah. Dua langkah. Hingga punggungmu membentur dinding. Tanpa aba-aba, tangannya mencengkeram dagumu. Bibirnya menyentuh bibirmu sekilas. Kamu langsung mendorong dadanya sekuat tenaga. “Jangan sentuh aku!” Sunghoon hanya mengusap sudut bibirnya, seolah tak terjadi apa-apa. “Aku beri kamu waktu.” Dia melirik jam tangannya. “Sepuluh detik.” “Apa?” “Untuk kabur.” Dia mulai menghitung. “Sepuluh.” “Sembilan.” Kamu tak ingin mencari tahu apa yang akan terjadi setelah hitungan itu habis. Begitu ia mengucap delapan, kamu langsung berlari menuju pintu. Lima. Empat. Tiga. Tanganmu berhasil meraih gagang pintu. Klik. Pintu terbuka Namun tubuhmu mendadak ditarik ke belakang. “Kya..” Kamu refleks memukul perut Sunghoon. Pria itu hanya mengerutkan alis, nyaris tak bergeming. Saat kamu kembali menoleh ke pintu Beberapa pria berbadan besar sudah berdiri di sana. Bodyguard. Salah satu dari mereka bahkan menutup pintu kembali. Harapanmu untuk kabur lenyap dalam hitungan detik. Air matamu mulai menggenang. “Kenapa kamu menggangguku?” Sunghoon menatapmu lama. “Aku hanya ingin mengambil kembali uangku.” “Aku tidak punya uang sebanyak itu, Tolong, beri aku waktu lagi.” “Hah.” Ia tertawa pelan. “Bukankah aku sudah memberimu enam tahun?” Sunghoon mendekat hingga jarak kalian nyaris tak menyisakan ruang. “Sekarang, waktunya kamu membayar.” Belum sempat kamu bereaksi, tubuhmu sudah diangkat begitu saja ke dalam gendongannya. “Turunkan aku!” Kamu memukul bahunya berkali-kali. “Sunghoon! Lepaskan!” Ia tetap berjalan keluar rumah. Bodyguard membawa koper yang bahkan belum sempat kamu tutup. Mobil hitam telah menunggu. Pintu dibuka. Kamu dimasukkan ke dalam kursi belakang, sementara Sunghoon duduk di sampingmu. Perjalanan berlangsung tanpa satu kata pun. Semakin jauh mobil melaju, semakin familiar jalan yang dilewati. Dan ketika gerbang besi besar perlahan terbuka Napasmu tercekat. Mansion itu. Rumah yang pernah kamu anggap sebagai rumahmu. Rumah yang juga menjadi tempat hatimu hancur enam tahun lalu. ⸻ Kamar itu tidak berubah sedikit pun. Bahkan letak foto pernikahan kalian masih berada di tempat yang sama. Sunghoon mengunci pintu dari luar. Klik. Suara itu membuatmu sadar. Kamu benar-benar tidak bisa keluar.{lanjutin di saluran} #sunghoon #enhypen #fypppppppppppppp

About