@samaralwadani11: #تصيم_فاطمه

💕سموره الودعاني 💕
💕سموره الودعاني 💕
Open In TikTok:
Region: SA
Thursday 09 July 2026 01:38:01 GMT
4877
259
6
86

Music

Download

Comments

user786918113686
ماجد الحربي :
فطوم تاج الكون 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
2026-07-09 02:05:08
4
fadma.sufi
Maram🍫 :
👍👍👏👏👏
2026-07-09 12:30:55
1
asuwii3
, :
ابي اشرب حقيقه شبعت من الحلوم
2026-07-10 03:22:39
1
fssss051
Fatma :
شربنا قهرا وحزنا ياربي ليتنا ماعرفناهم وما سمحنا لقلوبنا ........ياليت.....
2026-07-09 12:20:11
1
hla123hla2
حله الضيعت ابنه :
🖤
2026-07-09 08:23:32
1
To see more videos from user @samaralwadani11, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Surga Bukan Tujuan, Tapi Aroma Kopi yang Kautinggal demi Sang Pemilik Kedai Ada getar di kedalaman jiwa yang lebih purba daripada impian akan taman. Sebuah kerinduan yang tak terucap, murni, seperti embun yang merindukan mentari untuk menguap dalam pelukan cahaya.
Surga Bukan Tujuan, Tapi Aroma Kopi yang Kautinggal demi Sang Pemilik Kedai Ada getar di kedalaman jiwa yang lebih purba daripada impian akan taman. Sebuah kerinduan yang tak terucap, murni, seperti embun yang merindukan mentari untuk menguap dalam pelukan cahaya. "Surga Bukan Tujuan, Tapi Aroma Kopi yang Kautinggal demi Sang Pemilik Kedai" adalah peta buta menuju pusat hasrat, di mana amal berubah dari transaksi menjadi teguk kerinduan, dari kewajiban menjadi napas cinta. Bayangkan kedai itu. Ruang kecil di sudut zaman. Banyak yang datang, meneguk, lalu pergi. Mereka membayar dengan keping logam untuk kepuasan sesaat. Lalu, ada satu sosok. la tak memesan. la hanya duduk dekat konter, matanya tak lepas dari sang Pemilik Kedai. la menghirup aroma sangrai, membersihkan tumpahan gula. la ada di sana bukan untuk kopi, tapi karena di sana ada Dia. Senyum kecil Pemilik Kedai itulah "surganya". Aroma kopi hanyalah medium, pembawa pesan kehadiran yangdirindukannya, la meninggalkan aroma itu sebagai doa bisu: "Biarkan aku selalu diingat-Mu. Al-Qur'an mengisyaratkan puncak ini. "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya." (QS. Al-Baqarah: 25). Bagi sang pecinta, sungai-sungai itu adalah gemercik suara Kekasih. Puncaknya adalah firman-Nya: "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat." (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Inilah Ru'yatullah-melihat Allah. Ibnu Qayyim berbisik: "Nikmat tertinggi di surga adalah melihat Wajah Yang Maha Pengasih. Segala kenikmatan lain hanyalah anak tangga menuju singgasana penglihatan ini." Dalam tasawuf, ini perjalanan dari 'ubudiyyah (penghambaan) ke 'ubudah (cinta dalam penghambaan). Al-Ghazali menggambarkannya seperti melayani raja. Budak melayani karena takut. Pedagang mengharap upah. Sang kekasih melayani hanya karena cinta. Filosofi Jawamenyebutnya "Hamemayu Hayuning Bawana" menjadi ekspresi dari sifat Jamāl (Keindahan) Ilahi. Amal kita adalah aroma kopi itu. Tahajud di kegelapan, sabar menghadapi ujian, senyum tulus-semua adalah wangi yang kita tinggalkan. Kita tidak mengumpulkannya untuk ditukar. Kita meninggalkannya sebagai jejak bahwa kita "pernah berada di sini", dalam hadirat-Nya. Dalam hadis qudsi yang mengharukan, Allah berfirman: "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam Diri-Ku..." (HR. Bukhari & Muslim). Inilah puncak: ingatan hamba memicu Ingatan Sang Raja. Aroma itu telah tercium oleh Sang Pemilik. Maka, tanyalah pada palung hati yang paling sunyi: Untuk apa kita shalat? Untuk siapa kita bersedekah? Jika jawabannya adalah, "Aku ingin Engkau melihatku, Ya Rahman. Aku rindu pada keridaan-Mu, yang lebih luas dari semua surga," maka benih kerinduan itu telah tumbuh. Kita mulai paham: surga hanyalah nama lain untuk "tempat di mana kerinduanini berhenti", karena kita telah bertemu Sumbernya. Perjalanan spiritual adalah peralihan dari mencintai karunia kepada mencintai Sang Pemberi Karunia. Dari beribadah untuk surga, menjadi beribadah karena rindu pada Pelindung surga. Seperti kata Syekh Ibnu 'Atha'illah: "Bukanlah tanda dekatnya seseorang kepada Allah banyaknya shalat dan puasa, tetapi dekatnya hati kepada Allah tanpa adanya sebab." Kedekatan itu sendiri telah menjadi tujuan. Hidup ini adalah kedai fana. Setiap detik adalah biji kopi yang disangrai takdir. Amal kita adalah aroma yang kita tebarkan. Semoga kita bukan tamu yang rakus, menghitung-hitung cangkir yang akan diterima. Tetapi jadilah pecinta yang setia, yang duduk di sudut hening, menghirup setiap napas sebagai bentuk kedekatan, dan meninggalkan aroma kebaikan sebagai tanda: "Aku pernah di sini, merindukan-Mu. Dan kerinduan itulah ibadahku yang sejati." .

About