@financeinbloom: Everyone talks about cutting coffee to save money. But one of the biggest ways I've saved money as someone living alone is taking care of the things I already own. Cleaning your appliances. Protecting your phone. Maintaining your laptop. Wiping down your kitchen appliances after every use. The longer they last, the longer you can delay spending thousands on replacements. Sometimes the best money-saving habit isn't spending less but it's making what you already bought last longer. What's one item you've had for YEARS because you took good care of it? 👇 #PersonalFinance #MoneyTips #MoneySavingTips #FinancialFreedom #Budgeting

Finance in Bloom ✿
Finance in Bloom ✿
Open In TikTok:
Region: PH
Thursday 09 July 2026 22:30:00 GMT
11671
633
16
33

Music

Download

Comments

cathjalosenriquez
Mommy Cath, CPA 🤍✨ :
Investing in more durable and quality things rather than having many options, gaya na lang nga ng phonecase and tempered glass. 😊
2026-07-09 23:47:07
4
heeleena_11
Qtiee🍓 :
true sis! Take care of what you have, and your wallet will thank you later.
2026-07-09 23:00:54
2
hanbeesyosafinds
hanbeesyosafinds :
this is very true!
2026-07-12 02:42:35
1
themodernmamamuse
The Modern Mama Muse :
Truuuueee!!
2026-07-11 01:29:42
0
emptieswithmillie
emptieswithmillie :
Yes true! As an OC person, I always make sure my appliances and gadgets are well maintained. ✨🥰
2026-07-10 08:32:19
1
engrjoannacris
EngrJo :
i agree
2026-07-10 01:02:26
1
titaforkfit
titaforkfit :
Agreee 💯 💯💯💯
2026-07-09 22:42:08
1
budol1_1
🥰🥰🥰 :
hello po mam. wat app po yung ginagamit nyu para mamonitor yung finances nyu?
2026-07-10 16:11:07
1
peachycheeks32
♑🧿Kimchi🧿♑ :
ang cute ng earrings mam😍😍
2026-07-09 22:41:45
1
To see more videos from user @financeinbloom, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Jakarta 2007: Ketika Ibu Kota Tenggelam dalam Sehari” adalah salah satu bencana banjir paling dramatis dalam sejarah modern Indonesia—sebuah momen ketika kota metropolitan berpenduduk jutaan orang tiba-tiba lumpuh total hanya dalam hitungan jam. Pada tanggal 2 Februari 2007, langit Jakarta seakan membuka pintunya selebar mungkin. Hujan ekstrem dengan intensitas sekitar 340 mm dalam 24 jam turun menghantam kota, menjadikannya salah satu curah hujan harian tertinggi yang pernah tercatat sejak era kolonial. Namun hujan deras bukan satu-satunya biang kerok. Dari kawasan hulu di Bogor, limpahan air besar meluncur turun melalui sungai-sungai yang sudah lama kehilangan kapasitas alaminya akibat penyempitan, sedimentasi, serta urbanisasi yang tak terkendali. Ketika dua kekuatan ini bertemu—hujan ekstrem dan air kiriman—Jakarta pun kolaps. Sekitar 70 persen wilayah kota terendam, dari pusat bisnis Sudirman–Thamrin hingga pemukiman padat seperti Kampung Melayu dan Bukit Duri. Kedalaman air di beberapa area mencapai 3–4 meter, menenggelamkan rumah hingga lantai dua dan membuat mobil-mobil hanya terlihat bagian atapnya. Jalan-jalan protokol berubah menjadi kanal darurat, jaringan listrik padam, dan kegiatan ekonomi berhenti seketika. Bandara terganggu, transportasi umum tak bisa bergerak, dan kantor-kantor harus ditutup. Dalam semalam, Jakarta berubah dari pusat ekonomi Asia Tenggara menjadi kota yang tak bisa bergerak sama sekali. Di balik bencana ini ada cerita panjang. Tahun 2007 berada dalam pengaruh La Niña, fenomena yang meningkatkan curah hujan secara signifikan. Di sisi lain, Jakarta telah kehilangan banyak wilayah resapan air—mangrove yang ditebang, rawa yang ditimbun, dan permukiman yang meluas hingga menekan bantaran sungai. Kombinasi faktor alam dan ulah manusia inilah yang membuat banjir 2007 tidak hanya besar, tetapi nyaris tak terhindarkan. Dampaknya luar biasa. Lebih dari 60.000 warga mengungsi pada hari-hari awal, dan angka itu sempat melonjak lebih tinggi di puncak banjir. Kerugian ekonomi diperkirakan melampaui Rp 8 triliun, menjadikan kejadian ini salah satu kerugian finansial terbesar akibat banjir dalam sejarah kota tersebut. Total area banjir yang mencapai 400 km²—hampir empat kali luas Kota Paris—menggambarkan betapa masifnya skala peristiwa ini. Banjir Jakarta 2007 bukan sekadar bencana alam; itu adalah titik balik yang membuka mata banyak orang tentang rapuhnya sebuah kota ketika berhadapan dengan perubahan iklim, tata ruang yang buruk, dan sejarah panjang penurunan muka tanah. Hari itu, ibu kota benar-benar “tenggelam dalam sehari,” meninggalkan jejak yang masih dibicarakan hingga sekarang—sebagai pengingat bahwa bahkan kota sebesar Jakarta pun bisa tumbang oleh kekuatan yang selama ini dianggap biasa: air hujan.
“Jakarta 2007: Ketika Ibu Kota Tenggelam dalam Sehari” adalah salah satu bencana banjir paling dramatis dalam sejarah modern Indonesia—sebuah momen ketika kota metropolitan berpenduduk jutaan orang tiba-tiba lumpuh total hanya dalam hitungan jam. Pada tanggal 2 Februari 2007, langit Jakarta seakan membuka pintunya selebar mungkin. Hujan ekstrem dengan intensitas sekitar 340 mm dalam 24 jam turun menghantam kota, menjadikannya salah satu curah hujan harian tertinggi yang pernah tercatat sejak era kolonial. Namun hujan deras bukan satu-satunya biang kerok. Dari kawasan hulu di Bogor, limpahan air besar meluncur turun melalui sungai-sungai yang sudah lama kehilangan kapasitas alaminya akibat penyempitan, sedimentasi, serta urbanisasi yang tak terkendali. Ketika dua kekuatan ini bertemu—hujan ekstrem dan air kiriman—Jakarta pun kolaps. Sekitar 70 persen wilayah kota terendam, dari pusat bisnis Sudirman–Thamrin hingga pemukiman padat seperti Kampung Melayu dan Bukit Duri. Kedalaman air di beberapa area mencapai 3–4 meter, menenggelamkan rumah hingga lantai dua dan membuat mobil-mobil hanya terlihat bagian atapnya. Jalan-jalan protokol berubah menjadi kanal darurat, jaringan listrik padam, dan kegiatan ekonomi berhenti seketika. Bandara terganggu, transportasi umum tak bisa bergerak, dan kantor-kantor harus ditutup. Dalam semalam, Jakarta berubah dari pusat ekonomi Asia Tenggara menjadi kota yang tak bisa bergerak sama sekali. Di balik bencana ini ada cerita panjang. Tahun 2007 berada dalam pengaruh La Niña, fenomena yang meningkatkan curah hujan secara signifikan. Di sisi lain, Jakarta telah kehilangan banyak wilayah resapan air—mangrove yang ditebang, rawa yang ditimbun, dan permukiman yang meluas hingga menekan bantaran sungai. Kombinasi faktor alam dan ulah manusia inilah yang membuat banjir 2007 tidak hanya besar, tetapi nyaris tak terhindarkan. Dampaknya luar biasa. Lebih dari 60.000 warga mengungsi pada hari-hari awal, dan angka itu sempat melonjak lebih tinggi di puncak banjir. Kerugian ekonomi diperkirakan melampaui Rp 8 triliun, menjadikan kejadian ini salah satu kerugian finansial terbesar akibat banjir dalam sejarah kota tersebut. Total area banjir yang mencapai 400 km²—hampir empat kali luas Kota Paris—menggambarkan betapa masifnya skala peristiwa ini. Banjir Jakarta 2007 bukan sekadar bencana alam; itu adalah titik balik yang membuka mata banyak orang tentang rapuhnya sebuah kota ketika berhadapan dengan perubahan iklim, tata ruang yang buruk, dan sejarah panjang penurunan muka tanah. Hari itu, ibu kota benar-benar “tenggelam dalam sehari,” meninggalkan jejak yang masih dibicarakan hingga sekarang—sebagai pengingat bahwa bahkan kota sebesar Jakarta pun bisa tumbang oleh kekuatan yang selama ini dianggap biasa: air hujan.

About