@nopann______: *5 cara biar nggak gampang kecewa*: *1. Turunin ekspektasi, naikin usaha* Kecewa itu = ekspektasi - kenyataan. Daripada berharap "dia harus bales chat 1 detik", ganti jadi "kalau dia bales ya syukur". Usahanya tetep jalan, tapi hatinya nggak gantung. *2. Fokus ke hal yang bisa kamu kontrol* Kamu nggak bisa ngontrol orang lain, hasil, atau masa depan. Yang bisa kamu kontrol: usaha kamu, respon kamu, cara kamu jaga diri. Pas fokus ke situ, hasilnya mau gimana pun jadi lebih tenang. *3. Anggap semua orang & situasi itu "bonus"* Temen dateng = bonus. Kerjaan lancar = bonus. Dia masih peduli = bonus. Kalau dari awal nganggepnya bonus, pas nggak ada pun kamu nggak ngerasa "dirampas". *4. Punya "plan B" di kepala* Misal diajak nongkrong dibatalin → plan B: nonton/otak-atik motor. Ditolak lamaran kerja → plan B: lamar tempat lain. Punya opsi lain bikin kamu nggak ngerasa dunia runtuh di 1 titik aja. *5. Validasi perasaan, tapi jangan tinggal di situ* Kecewa itu wajar. Nangis, marah, diem sehari gapapa. Tapi kasih batas waktu: "oke 1 hari buat kecewa, besok jalan lagi". Jangan diputer terus di kepala sampe jadi luka lama. Intinya: jaga hati secukupnya. Sayang boleh, berharap boleh, tapi sisain ruang buat diri sendiri juga. #vario #boreup #fyp

️
Open In TikTok:
Region: ID
Saturday 11 July 2026 15:27:50 GMT
26938
2323
1
45

Music

Download

Comments

usey._7
useonly :
minta teks nya kak🙂
2026-07-25 01:34:32
0
To see more videos from user @nopann______, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

(Lanjutan)—Di balik semua amarah itu… ada sesuatu yang sedang dihancurkan oleh Sunghoon setiap hari. Dan ternyata… yang paling menderita bukan hanya dirimu. Tetapi juga dirinya sendiri. Sejak mengetahui soal penyakit Sunghoon, hidupmu tidak berubah menjadi lebih mudah. Justru lebih sulit. Karena sekarang setiap kali Sunghoon marah, kamu tidak hanya merasa takut. Kamu juga merasa khawatir. Dan itu membuat semuanya menjadi semakin rumit. Pagi itu kamu sudah menyiapkan sarapan seperti biasa. Saat Sunghoon turun dari lantai atas, kamu memberanikan diri berbicara.
(Lanjutan)—Di balik semua amarah itu… ada sesuatu yang sedang dihancurkan oleh Sunghoon setiap hari. Dan ternyata… yang paling menderita bukan hanya dirimu. Tetapi juga dirinya sendiri. Sejak mengetahui soal penyakit Sunghoon, hidupmu tidak berubah menjadi lebih mudah. Justru lebih sulit. Karena sekarang setiap kali Sunghoon marah, kamu tidak hanya merasa takut. Kamu juga merasa khawatir. Dan itu membuat semuanya menjadi semakin rumit. Pagi itu kamu sudah menyiapkan sarapan seperti biasa. Saat Sunghoon turun dari lantai atas, kamu memberanikan diri berbicara. "Sunghoon…aku mau ngomong sesuatu." Sunghoon langsung mengangkat tatapannya. Tatapan yang membuatmu gugup seketika. "Soal dokter…" Kamu menggenggam ujung bajumu. BRAK! Cangkir yang ada di tangannya langsung dibanting ke meja. "Saya udah bilang jangan bahas itu!" "Ta… tapi aku cuma—" Kamu refleks mundur. "Saya engga sakit!" Suara Sunghoon menggema di seluruh ruangan. Dan seperti biasa, kamu langsung terdiam. Sunghoon berdiri lalu pergi meninggalkan meja makan. Pintu ruang kerjanya dibanting keras. Meninggalkanmu sendirian. Hari itu kamu menangis di dapur. Bukan karena dimarahi. Tapi karena kamu benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Dokter bilang dia harus rutin kontrol. Tapi setiap kali kamu mencoba membahasnya, Sunghoon langsung marah. Seolah kata "dokter" adalah sesuatu yang paling dia benci di dunia. Beberapa hari kemudian. Kamu sedang membersihkan ruang kerja Sunghoon ketika menemukan sesuatu. Sebuah botol obat. Masih tersegel. Belum pernah dibuka. Kamu membeku. Karena tanggal pada kemasannya menunjukkan obat itu sudah ditebus hampir tiga bulan yang lalu. Artinya… Sunghoon membeli obatnya. Tapi tidak meminumnya. Entah kenapa, hal itu membuat dadamu terasa sesak. Malam harinya, kamu memberanikan diri lagi. Saat Sunghoon sedang duduk di sofa, kamu meletakkan segelas air di depannya. Sunghoon tidak menoleh. "Kamu minum obat?" Tidak ada jawaban. "Kamu beli kan?" Masih diam. "Kamu sebenarnya mau sembuh kan?" Kalimat itu membuat Sunghoon membeku. Perlahan rahangnya mengeras. Dan untuk beberapa detik, kamu pikir dia akan marah lagi. Tapi tidak, Sunghoon hanya menundukkan kepala. Sangat lama. Sampai akhirnya berkata pelan. "Saya capek." Kamu terkejut. Karena itu pertama kalinya kamu mendengar Sunghoon terdengar lemah. Bukan marah. Bukan membentak. Tapi lelah. "Saya capek harus terus kayak gini." Kamu terdiam. Dan untuk pertama kalinya… kamu melihat seseorang yang sebenarnya sedang berjuang melawan dirinya sendiri. Besoknya kamu tidak membahas dokter sama sekali. Tidak memaksa. Tidak mengingatkan. Tidak mengatakan apa pun. Dan justru itu yang membuat Sunghoon heran. Sampai beberapa hari kemudian… saat dia pulang kerja, dia melihat sebuah catatan kecil di meja makan. Tulisanmu. || Aku engga bakal maksa kamu || || Tapi kalau suatu hari kamu mau pergi ke dokter… aku bakal nemenin || Sunghoon membaca tulisan itu lama. Sangat lama. Lalu tanpa sadar menggenggam kertas tersebut. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… dia mulai mempertimbangkan untuk kembali datang ke tempat yang paling ingin dia hindari. Karena untuk pertama kalinya… ada seseorang yang ingin menemaninya. Beberapa hari setelah meninggalkan catatan itu, kamu tidak pernah lagi membahas soal dokter. Tidak sekali pun. Kamu tetap menyiapkan sarapan. Tetap membersihkan rumah. Tetap menjalani hari-harimu seperti biasa. Namun setiap kali melihat Sunghoon, ada perasaan khawatir yang tidak bisa kamu hilangkan. Karena semakin lama, kamu merasa emosinya semakin tidak stabil. Kadang dia diam seharian. Kadang tiba-tiba marah karena hal kecil. Dan yang paling membuatmu takut… kamu tidak pernah tahu kapan ledakan itu akan datang. Pagi hari saat Sunghoon hendak berangkat kerja, pandangannya tertuju pada meja makan. Ada kotak makan yang sudah kamu siapkan, seperti biasa. Namun kali ini ada secarik kertas kecil di sampingnya. || Semangat kerjanya || || Jangan lupa makan siang || (+komen) #sunghoon #pov #trend #fyp

About