@sibiraha3: Why It Sucks to Be the Oracle of Delphi (in Ancient Greece)

Sibiraha
Sibiraha
Open In TikTok:
Region: US
Saturday 11 July 2026 15:29:12 GMT
8524
103
1
1

Music

Download

Comments

To see more videos from user @sibiraha3, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Aku kira setelah menikah, aku akhirnya punya rumah untuk pulang.” Aku menikah dengan seseorang yang dulu aku percaya sepenuhnya. Aku pikir setelah semua yang kami lewati sebelum menikah, akhirnya kami akan punya kehidupan yang baru. Kehidupan yang jauh lebih baik. Aku masuk ke pernikahan itu dengan banyak harapan. Bukan cuma sebagai seorang istri, tapi aku juga mulai membangun mimpi sebagai seorang ibu. Lalu aku hamil. Di tengah kehamilan, tentu nggak semuanya mudah. Ada capek, takut, nangis, banyak hal yang harus aku lewati. Tapi aku tetap bertahan karena aku pikir, sebentar lagi kami akan punya keluarga kecil yang selama ini aku bayangkan. Sampai akhirnya anak kami lahir. Aku pikir hari itu akan menjadi awal paling bahagia dalam hidupku. Aku baru saja menjadi seorang ibu. Tubuhku belum pulih, masih sakit, masih belajar mengurus bayi, masih beradaptasi dengan hidup yang benar-benar berubah. Aku pikir, di masa paling rapuh itu, suamiku akan jadi orang pertama yang menjaga aku. Ternyata aku salah. Kurang lebih dua minggu setelah aku melahirkan, aku mengetahui sesuatu yang sampai sekarang masih sulit aku ceritakan tanpa merasa sakit. Dia selingkuh. Di saat aku sedang berusaha menjadi ibu yang baik. Di saat tubuhku masih dalam proses pulih. Di saat malam-malamku habis untuk menangis, menyusui, mengurus anak, dan belajar bertahan. Aku bahkan baru selesai melahirkan anaknya, tapi ternyata di waktu yang hampir bersamaan, ada perempuan lain di hidupnya. Rasanya seperti seluruh dunia berhenti. Aku nggak cuma kehilangan kepercayaan kepada suamiku. Aku kehilangan rasa aman. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. “Emang aku kurang apa?” “Kenapa setelah semua yang aku lakukan, aku masih bisa digantikan?” “Kenapa harus di saat aku baru saja melahirkan?” Yang paling menyakitkan adalah aku pernah benar-benar percaya bahwa dia adalah rumahku. Tapi ternyata, orang yang seharusnya menjadi tempat aku merasa aman justru menjadi alasan kenapa aku harus belajar menyembuhkan luka sendirian. Aku nggak tahu kapan tepatnya aku berubah. Yang aku tahu, setelah kejadian itu, aku bukan lagi perempuan yang sama seperti sebelum menikah. Aku belajar bahwa cinta saja ternyata nggak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga kalau kepercayaan sudah dihancurkan. Dan sekarang, kalau aku melihat kembali perjalanan itu, aku nggak cuma melihat seorang perempuan yang pernah diselingkuhi. Aku melihat seorang perempuan yang pernah hancur, tapi tetap bangun setiap hari karena ada seorang anak kecil yang membutuhkan ibunya. Mungkin pernikahan itu bukan akhir bahagia yang dulu aku bayangkan. Tapi dari pernikahan itu, aku mendapatkan satu alasan untuk tetap bertahan. Anakku. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika anakku sudah besar dan membaca semua cerita hidup ibunya, aku cuma ingin dia tahu satu hal: Ibu pernah sangat hancur, tapi Ibu memilih untuk tetap hidup dan membangun kembali dirinya sendiri. Bukan karena Ibu nggak pernah terluka, tapi karena Ibu nggak mau luka itu menentukan seluruh hidup Ibu.
“Aku kira setelah menikah, aku akhirnya punya rumah untuk pulang.” Aku menikah dengan seseorang yang dulu aku percaya sepenuhnya. Aku pikir setelah semua yang kami lewati sebelum menikah, akhirnya kami akan punya kehidupan yang baru. Kehidupan yang jauh lebih baik. Aku masuk ke pernikahan itu dengan banyak harapan. Bukan cuma sebagai seorang istri, tapi aku juga mulai membangun mimpi sebagai seorang ibu. Lalu aku hamil. Di tengah kehamilan, tentu nggak semuanya mudah. Ada capek, takut, nangis, banyak hal yang harus aku lewati. Tapi aku tetap bertahan karena aku pikir, sebentar lagi kami akan punya keluarga kecil yang selama ini aku bayangkan. Sampai akhirnya anak kami lahir. Aku pikir hari itu akan menjadi awal paling bahagia dalam hidupku. Aku baru saja menjadi seorang ibu. Tubuhku belum pulih, masih sakit, masih belajar mengurus bayi, masih beradaptasi dengan hidup yang benar-benar berubah. Aku pikir, di masa paling rapuh itu, suamiku akan jadi orang pertama yang menjaga aku. Ternyata aku salah. Kurang lebih dua minggu setelah aku melahirkan, aku mengetahui sesuatu yang sampai sekarang masih sulit aku ceritakan tanpa merasa sakit. Dia selingkuh. Di saat aku sedang berusaha menjadi ibu yang baik. Di saat tubuhku masih dalam proses pulih. Di saat malam-malamku habis untuk menangis, menyusui, mengurus anak, dan belajar bertahan. Aku bahkan baru selesai melahirkan anaknya, tapi ternyata di waktu yang hampir bersamaan, ada perempuan lain di hidupnya. Rasanya seperti seluruh dunia berhenti. Aku nggak cuma kehilangan kepercayaan kepada suamiku. Aku kehilangan rasa aman. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. “Emang aku kurang apa?” “Kenapa setelah semua yang aku lakukan, aku masih bisa digantikan?” “Kenapa harus di saat aku baru saja melahirkan?” Yang paling menyakitkan adalah aku pernah benar-benar percaya bahwa dia adalah rumahku. Tapi ternyata, orang yang seharusnya menjadi tempat aku merasa aman justru menjadi alasan kenapa aku harus belajar menyembuhkan luka sendirian. Aku nggak tahu kapan tepatnya aku berubah. Yang aku tahu, setelah kejadian itu, aku bukan lagi perempuan yang sama seperti sebelum menikah. Aku belajar bahwa cinta saja ternyata nggak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga kalau kepercayaan sudah dihancurkan. Dan sekarang, kalau aku melihat kembali perjalanan itu, aku nggak cuma melihat seorang perempuan yang pernah diselingkuhi. Aku melihat seorang perempuan yang pernah hancur, tapi tetap bangun setiap hari karena ada seorang anak kecil yang membutuhkan ibunya. Mungkin pernikahan itu bukan akhir bahagia yang dulu aku bayangkan. Tapi dari pernikahan itu, aku mendapatkan satu alasan untuk tetap bertahan. Anakku. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika anakku sudah besar dan membaca semua cerita hidup ibunya, aku cuma ingin dia tahu satu hal: Ibu pernah sangat hancur, tapi Ibu memilih untuk tetap hidup dan membangun kembali dirinya sendiri. Bukan karena Ibu nggak pernah terluka, tapi karena Ibu nggak mau luka itu menentukan seluruh hidup Ibu.

About