@wilmedicyfernandes: #wilmedicy

Wilmedicy
Wilmedicy
Open In TikTok:
Region: PT
Sunday 12 July 2026 12:02:29 GMT
254
10
0
2

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @wilmedicyfernandes, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

10) Setiap langkah panjangnya, kaki pendekmu selalu menyelaraskan dari belakang. Satu ketukan. Tangan besar itu menggenggammu, erat, hangat. Wajahnya kerap menoleh ke belakang, memastikan kamu aman. Trotoar jalan tak terlalu ramai, angin pagi berhambus pelan menerpa tubuh. Tapi kalian justru merasa lebih tenang, damai. Tak ada anak kelas. Tak ada gaduh yang menjadi sebab kalian berjarak sangat jauh. Kalian bebas.  Lebih tenang. Kamu berhenti, jemarimu menarik pelan hoodienya. Heeseung menoleh.
10) Setiap langkah panjangnya, kaki pendekmu selalu menyelaraskan dari belakang. Satu ketukan. Tangan besar itu menggenggammu, erat, hangat. Wajahnya kerap menoleh ke belakang, memastikan kamu aman. Trotoar jalan tak terlalu ramai, angin pagi berhambus pelan menerpa tubuh. Tapi kalian justru merasa lebih tenang, damai. Tak ada anak kelas. Tak ada gaduh yang menjadi sebab kalian berjarak sangat jauh. Kalian bebas. Lebih tenang. Kamu berhenti, jemarimu menarik pelan hoodienya. Heeseung menoleh. "Itu tempat nongkrong kakak aku tiap minggu" Di sebrang jalan, sebuah markas. Suara bahakan tawa terdengar ramai. Motor-motor besar berjejer. Mata Heeseung menyipit. "Anak geng?" Tanyanya dalam hati. Keberadaan kalian membuat tawa itu berhenti, tatapan langsung tertuju pada kalian. Pakaian berwarna mencolok, kontraks dengan warna hitam milik mereka. Mengundang dengusan sarkas. "Ngapain anak ingusan ke sini? Berani banget ya?! Mau ngajak masak-masakan?!" Bahaknya. Laki-laki itu mendekatimu. Pandangannya memindai penampilanmu. "Lo cantik. Mau ngajakin tidur?" Heeseung menarikmu ke belakang tubuh. Tatapannya menajam. Deon terkekeh. "Jangan kira lo lebih tinggi. Gue takut sama lo. Minggir, kasih cewek itu ke gue" Kamu bersembunyi, tanganmu meremas hoodie Heeseung. Dan saat tatapanmu tanpa sengaja melirik ke dalam markas. Matamu membelak. "Kakak!" "Kak Candra!! INI AKU KAK ADIK KAMU!" "Ayo balik kak!" la justru menatapmu datar. "Pulang. Ini bukan tempat lo. Gue samperin balik nanti sore" Deon menyunggingkan smrik. "Oh, gampang dong" Kamu tak pernah tau apa maksud ucapannya. Kamu juga tak pernah tau kebohongan Kakakmu. Hingga akhirnya kalian memutuskan untuk pulang. Dengan harapan besar dan terus menunggu. Namun dia tak pernah kunjung datang ke rumah. - Sebuah mawar merah berhenti di depan wajahmu. Lamuanmu langsung buyar, terganti dengan senyum cengiran. "Apa?" "Ambil," titah Heeseung. Kamu meraihnya, menghirup wangi. "Kamu semprot pake parfum kamu ya?" Laki-laki itu membuka buku-buku di atas karpet lantas mendongak ke kamu yang duduk di sofa. Senyum tipisnya naik. "Dikit. Nggak enak ya?" Tanyanya, mengaruk kepala. "Enak, gue suka wanginya" Setelah itu Bunda datang dengan sepiring buah pepaya yang telah dipotong potong. Meletaknya di atas karpet. "Duh, anak-anak Bunda kompak banget belajar bareng" "Iya dong Nda, bentar lagi ujian semester. Jadi Heeseung wajib ngajarin aku sampai nilai aku setara dengan dia" Kamu beralih duduk di karpet. Bunda terkekeh, tangannya mengelus kepalamu penuh kasih. Perlakuan yang telah membuatmu merasa nyaman di rumah ini. Perlakuan yang tak pernah kamu rasakan di rumah. Justru di sini, Bunda selalu kasih perhatian yang lebih besar. "Oh ya, Papa kemana?" Tanyamu. "Masih di kantor. Bunda juga disuruh ke sana nih, nganterin makan malem" Kamu menatap wadah bekal yang sudah rapi di pangkuan Bunda. Lantas mengangguk. "Biar Heeseung anterin Bunda" "Ga usah Y/N. Biar Abang di sini nemenin kamu. Dah kalian berdua harus fokus belajar. Biar Bunda naik taxi ya" Begitu Bunda pergi Heeseung terkekeh rendah. "Deket banget sekarang sama Bunda" "Kenapa? Lo mau cemburu juga?" Ujarmu sinis. "Aku kamu Y/N. Ini rumah aku bukan di kelas" "Terserah gue dong! Kenapa sih lo protes terus?!" "Dasar cewek plin plan. Kalau lagi nangis aja-" "Lo udah berani godain gue ya sekarang?!" Kedua tanganmu berkacak pinggang. Pipi panas. Heeseung tergelak. "Pipi kamu tuh merah. Pasti salting lagi" "Lee Heeseunggg!!" "HAHAHA" - Ujian dilakukan dalam satu minggu dan kamu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Heeseung. Orang yang dulu kamu anggap bodoh dan menjijikkan. Justru jadi tempat pulang yang paling aman. Dia tak pernah menuntut penjelasan atas sikapmu yang dulu. Tak pernah bersikap kasar padamu. Justru senantiasa tanya keadaanmu. Selalu berusaha memenuhi keinginanmu. Saat kamu lapar, dia selalu tanya menu yang kamu pengen. Saat kamu sedih. Dia selalu ada. Gak banyak nanya. Tapi selalu siap dengerin. Tapi saat kamu mulai dekat dengan Dika di kelas. Dia jadi berbeda. Tak peduli. - #evan

About