Babibubebo :
@Ree: ini bagus bgt kak, malah series fav gw.
izin gw jabarin dr sisi psikologis smua tokoh ya,
kdua org itu tertekan scra mental, org tertekan boro2 mkirin org lain, toh dirinya aja gak dterima seutuhnya, si cowok punya mimpi jd sastrawan tp ayahnya mau dia nerusin bisnis keluarga, menikah pun atas perintah ayahnya, dia nurut terus dr kecil sama ayahnya, meskipun mimpinya harus dkubur. dia udah berusaha menjauh dr cewek itu, berbulan2 gak ketemu, tp konfliknya pas dia berantem dg ayahnya, dia minta satu aja keinginannya dipenuhi, dia kira ayahnya mau dengar dia, tp ayahnya malah bakar buku2 dia, puisi2 dia, bagi seorang sastrawan, itu 'nyawa' dia, dn istri sah ttp dblkg mertua, gak bisa support dia. alasan dia gak bisa cinta dg istri sah meskipun buaaiik bgt, mengayomi, keibuan, anggun, tp dia marah krna istri sahnya bukan ny support dia sbg suami malah support ayahnya.
si cewek itu dr kalangan miskin, dia penyanyi sopran wanita prtama korea, jd tulang punggung keluarga, ayah ibunya sehat, adik2nya sekolah tinggi dg jerih payah dia. ayah ibunya gak peduli bakatnya, yg penting buat mereka adalah uangnya, keduanya punya keluarga yg sama2 menekan, toxic, egois, smpai mentalnya benar2 kena. saat kduanya ketemu satu sama lain, seperti ketemu 'nyawa' yg slama ini gak diterima, si cewek suka puisi2 nya dn support dia jd penulis, si cowok cuma nikmatin nyanyian ceweknya tnpa tendensi apapun, mereka menemukan 'rumah penerimaan' yg tahunan di cari, mereka merasa pulang. kalau mau nunjuk siapa yg jahat, ya keluarganya, mereka bertiga korbannya, si cowok, cewek slingkuhan, sma istri sah. bukan menormalisasi perselingkuhan, tp gw memandang dr sisi psikologis tokoh, pentingnya jd org tua yg tdk egois trhadap anak, brtahun2 mereka penurut bukan berarti mereka gak capek, justru pesannya di sana.
2026-07-24 02:17:24