@kell0ggsss_:

Kelss °❀⋆
Kelss °❀⋆
Open In TikTok:
Region: US
Monday 13 July 2026 21:35:54 GMT
706
44
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @kell0ggsss_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Studio rekaman di Belanda, akhir 1974, menyimpan keheningan yang berbeda. Johannes Hans Bouwens, yang lebih dikenal dengan nama panggung George Baker, menutup mata di hadapan mikrofon. Ia bukan sedang merangkai lagu tentang cinta yang indah atau patah hati yang puitis. Ia sedang menuliskan pengakuan paling jujur tentang penyesalan seorang pria yang telah mengkhianati kepercayaan kekasihnya. “How can I say to you, I love somebody new.” Dari ruang sederhana di Belanda itulah, lahir sebuah mahakarya yang tidak pernah ia duga akan menjadi lebih abadi di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari kampung halamannya. Lagu ciptaan Johannes Hans Bouwens ini tidak dirancang sebagai hits komersial. Ia adalah potret kejujuran seorang musisi yang sedang merenungkan pengkhianatan dan konsekuensinya. “Don't look that way to me” adalah permohonan putus asa agar kekasihnya berhenti menatap dengan luka yang ia sendiri ciptakan. Lagu bergenre pop dengan sentuhan khas Schlager Eropa ini pertama kali muncul sebagai sisi-B dari single “Sing A Song Of Love” pada 1974. Keputusan Negram Records untuk menjadikan lagu ini sebagai sisi-B, di tengah euforia kesuksesan sang vokalis, adalah taruhan yang nyaris melupakan sebuah permata. Namun kekuatan lagu ini terlalu besar untuk tetap terpendam. Pelepasan terjadi dalam dua gelombang. Pertama sebagai singel pada 1974, kemudian masuk ke dalam album studio kelima mereka yang bertajuk “Paloma Blanca” pada 1975. Di Eropa, lagu ini tidak menjadi hits raksasa seperti “Paloma Blanca” yang mencapai posisi nomor satu di Swiss. Namun di sisi lain dunia, tepatnya di Korea Selatan, lagu ini justru menemukan takdirnya yang sesungguhnya. Ia menjadi salah satu lagu paling populer dari George Baker Selection di Nusantara, dinyanyikan di radio-radio, menjadi favorit di acara nostalgia, dan diingat oleh generasi demi generasi. Sebuah keajaiban bahwa sebuah sisi-B yang tidak mendominasi tangga lagu Eropa, justru menjadi legenda di seberang lautan. “I’ve Been Away Too Long” menjadi bukti bahwa sebuah karya tidak selalu diukur dari posisi di tangga lagu. Ia diukur dari kemampuannya untuk bertahan, untuk menemukan pendengarnya, dan untuk menjadi bagian dari kenangan kolektif. George Baker Selection, yang kemudian meraih ketenaran internasional di era 1970an, tidak pernah menyangka bahwa sisi-B mereka akan menjadi salah satu warisan paling abadi di Korea Selatan. Lagu ini mengajarkan bahwa penyesalan, jika diungkapkan dengan jujur, bisa menjadi doa yang didengar oleh jutaan orang di seluruh dunia. Bahwa sebuah lagu tentang seorang pria yang mengkhianati cinta, bisa menjadi pengakuan yang menyatukan hati mereka yang pernah merasakan hal yang sama. Hingga kini, ketika melodi yang lembut dan syahdu itu bergema, pendengar masih larut dalam satu kesadaran: bahwa kadang, lagu terbaik adalah lagu yang tidak pernah menjadi hits di negerinya sendiri, tetapi justru menemukan rumah di hati mereka yang merindukan kejujuran. Visual Discography: George Baker Selection – I’ve Been Away Too Long  Dirilis sebagai single pada 1974 melalui Negram Records (Belanda) dan Cardinal Records (Belgia), serta sebagai bagian dari album “Paloma Blanca” pada 1975 melalui Warner Bros. Records. Tersedia dalam format Vinyl 7
Studio rekaman di Belanda, akhir 1974, menyimpan keheningan yang berbeda. Johannes Hans Bouwens, yang lebih dikenal dengan nama panggung George Baker, menutup mata di hadapan mikrofon. Ia bukan sedang merangkai lagu tentang cinta yang indah atau patah hati yang puitis. Ia sedang menuliskan pengakuan paling jujur tentang penyesalan seorang pria yang telah mengkhianati kepercayaan kekasihnya. “How can I say to you, I love somebody new.” Dari ruang sederhana di Belanda itulah, lahir sebuah mahakarya yang tidak pernah ia duga akan menjadi lebih abadi di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari kampung halamannya. Lagu ciptaan Johannes Hans Bouwens ini tidak dirancang sebagai hits komersial. Ia adalah potret kejujuran seorang musisi yang sedang merenungkan pengkhianatan dan konsekuensinya. “Don't look that way to me” adalah permohonan putus asa agar kekasihnya berhenti menatap dengan luka yang ia sendiri ciptakan. Lagu bergenre pop dengan sentuhan khas Schlager Eropa ini pertama kali muncul sebagai sisi-B dari single “Sing A Song Of Love” pada 1974. Keputusan Negram Records untuk menjadikan lagu ini sebagai sisi-B, di tengah euforia kesuksesan sang vokalis, adalah taruhan yang nyaris melupakan sebuah permata. Namun kekuatan lagu ini terlalu besar untuk tetap terpendam. Pelepasan terjadi dalam dua gelombang. Pertama sebagai singel pada 1974, kemudian masuk ke dalam album studio kelima mereka yang bertajuk “Paloma Blanca” pada 1975. Di Eropa, lagu ini tidak menjadi hits raksasa seperti “Paloma Blanca” yang mencapai posisi nomor satu di Swiss. Namun di sisi lain dunia, tepatnya di Korea Selatan, lagu ini justru menemukan takdirnya yang sesungguhnya. Ia menjadi salah satu lagu paling populer dari George Baker Selection di Nusantara, dinyanyikan di radio-radio, menjadi favorit di acara nostalgia, dan diingat oleh generasi demi generasi. Sebuah keajaiban bahwa sebuah sisi-B yang tidak mendominasi tangga lagu Eropa, justru menjadi legenda di seberang lautan. “I’ve Been Away Too Long” menjadi bukti bahwa sebuah karya tidak selalu diukur dari posisi di tangga lagu. Ia diukur dari kemampuannya untuk bertahan, untuk menemukan pendengarnya, dan untuk menjadi bagian dari kenangan kolektif. George Baker Selection, yang kemudian meraih ketenaran internasional di era 1970an, tidak pernah menyangka bahwa sisi-B mereka akan menjadi salah satu warisan paling abadi di Korea Selatan. Lagu ini mengajarkan bahwa penyesalan, jika diungkapkan dengan jujur, bisa menjadi doa yang didengar oleh jutaan orang di seluruh dunia. Bahwa sebuah lagu tentang seorang pria yang mengkhianati cinta, bisa menjadi pengakuan yang menyatukan hati mereka yang pernah merasakan hal yang sama. Hingga kini, ketika melodi yang lembut dan syahdu itu bergema, pendengar masih larut dalam satu kesadaran: bahwa kadang, lagu terbaik adalah lagu yang tidak pernah menjadi hits di negerinya sendiri, tetapi justru menemukan rumah di hati mereka yang merindukan kejujuran. Visual Discography: George Baker Selection – I’ve Been Away Too Long Dirilis sebagai single pada 1974 melalui Negram Records (Belanda) dan Cardinal Records (Belgia), serta sebagai bagian dari album “Paloma Blanca” pada 1975 melalui Warner Bros. Records. Tersedia dalam format Vinyl 7", 45 RPM, dan kemudian dirilis ulang dalam berbagai format termasuk CD. Sampul single menampilkan desain sederhana khas era 70an dengan nuansa yang mencerminkan semangat pop Eropa. Karya visual yang polos namun memikat ini menjadi pintu gerbang bagi sebuah perjalanan yang melintasi benua, mengingatkan bahwa kadang, sebuah lagu tentang penyesalan di sisi-B bisa menjadi legenda di negeri orang, dan menjadi doa yang tak pernah usai di hati mereka yang mendengarnya.

About