@amliy755: المادح على المبارك 4

amliy
amliy
Open In TikTok:
Region: EG
Tuesday 14 July 2026 07:22:54 GMT
78934
3812
198
562

Music

Download

Comments

amliy755
amliy :
لولاك يا الرسول الدنيا ما بانت 🥰🥰🥰
2026-07-14 07:25:07
9
user6821905947176
ودالشيخ :
الرجل المحب والمخلص لله
2026-07-16 21:03:59
2
1122khalid2
خالد المساعد :
اللهم صل وسلم وبارك علي سيدنا محمد وعلي آله عدد كمال الله وكما يليق بكماله ❤️
2026-07-18 07:20:36
1
wadidi770
عبد الرحمن-WADiDi :
الله الله الله ❤️
2026-07-15 11:03:29
1
omermohammedabdala
Omer Cotch2022 :
صلي الله عليه وسلم وغفر الله للشيخ علي المبارك "مدحه عبارة عن منهاج كامل"
2026-07-19 17:57:56
1
414mutaz
ابو صالح :
لطالما اتحف مسامعنا المادح الورع الزاهد علي المبارك ان صوته يذهب بنا الي عوالم بعيدة في دنيا التبتل وحبنا لنبينا لنبينا الاعظم . اللهم ارحمه وادخله جنات الخلد 🙏
2026-07-16 15:06:19
3
boushkar
الرفاعي👑 :
عليه أفضل الصلاة والسلام
2026-07-16 14:16:16
1
juljool
Aziz Wasila :
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين
2026-07-16 12:12:01
1
un_knowun5
غيم الوجع :
عليه افضل الصلاة وأتم التسليم 🥰
2026-07-17 07:46:13
1
omerelmukashfi
omerelmukashfi :
اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمد و على آله وسلم
2026-07-18 12:33:47
1
user379692961
Siraj :
اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
2026-07-15 12:09:37
1
hassanmoka482
hassanmustafabadawimoka482 :
ياسلااااااام شيخ علي الزووووووق كلو صلو عليه ❤️اللهم صل وسلم وبارك عليه ❤️
2026-07-15 17:28:20
1
user80124979818711
user80124979818711 :
ضواليليالسودالمادح على المبارك له الرحمه والمغفره والعتق من النار
2026-07-15 19:43:15
1
user6039685038155
ام مبشر :
عليه افضل الصلاة والسلام
2026-07-17 03:05:17
1
user5610912766781
user5610912766781 :
صلى الله عليه وسلم
2026-07-16 08:59:46
1
ibrahim.hamad.elh
Ibrahim Hamad Elhag :
صلي الله عليه وسلم
2026-07-15 12:54:01
1
mhm18674
محمد هاشم :
أللهم صلي علي النبي
2026-07-15 16:44:37
1
user6821905947176
ودالشيخ :
عليك رحمة الله المادح على المبارك
2026-07-16 21:03:27
1
92tiga
👑 أودي/ody👑 :
2026-07-15 14:57:23
1
.hashim.hashim
babikerhashim3 :
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ونبينا وحبيبنا وشفيعنا محمد المبعوث رحمة للعالمين وعلى آله الطيبين الطاهرين وصحبه الكرام أجمعين.
2026-07-16 03:45:33
2
user13966100831084
عمر سعد :
والله الحمد الله على نعمة التوحيد
2026-07-16 08:11:36
0
user3281800307320
مـــــــــولانا :
اللهم صلي وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
2026-07-16 09:22:16
2
.4145825
مصطفي محمد رفاعي414 :
مرحب بي الرسول مرحب بي الرسول ❤❤❤ صلي الله عليه وسلم 🌹🥰🌹🥰
2026-07-15 10:30:26
2
omerabdo2
ابو 😎 مصعــ818ــــب 👆👆 :
علي المبارك .... الف رحمة ومورك تنزل عليك ان شاءالله
2026-07-17 18:49:57
1
bloola2
ايلان ادم :
اللهم صلي وسلم عليه وسلم
2026-07-15 09:17:10
1
To see more videos from user @amliy755, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dalam filsafat Islam, kesalahan bukanlah aib terbesar manusia. Yang paling berbahaya justru ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengakui kesalahannya. Dosa masih bisa diampuni, tetapi kesombongan sering kali membuat seseorang bahkan tidak merasa perlu memohon ampun. Ironisnya, manusia modern begitu sibuk menjadi hakim bagi kesalahan orang lain, sementara dirinya sendiri hidup di atas gunung kekeliruan yang disamarkan oleh ego. Mereka menguliti dosa orang lain dengan kaca pembesar, tetapi menutupi cacat dirinya dengan selimut seribu alasan. Lidahnya fasih berbicara tentang moral, tetapi akalnya menjadi pengacara bagi hawa nafsunya sendiri. Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa penyakit hati yang paling sulit disembuhkan adalah 'ujub (kagum terhadap diri sendiri) dan kibr (kesombongan). Ketika seseorang menganggap dirinya selalu benar, pintu ilmu telah tertutup baginya. Sebab ilmu hanya masuk ke hati yang rendah, bukan ke dada yang dipenuhi keakuan. Orang yang sadar diri masih memiliki peluang menjadi lebih baik, sedangkan orang yang bangga diri mengira dirinya telah sampai, padahal baru tersesat. Lebih tajam lagi, Ibn Miskawayh mengajarkan bahwa akhlak yang mulia lahir dari kemampuan jiwa mengendalikan hawa nafsu melalui akal. Namun ketika hawa nafsu menjadi raja, akal hanya berubah menjadi penasihat yang tidak pernah didengar. Maka lahirlah manusia yang bukan sekadar berbuat salah, tetapi menjadikan kesalahan sebagai identitas yang dibanggakan. Mereka menyebut kesombongan sebagai prinsip, keras kepala sebagai keteguhan, dan kemunafikan sebagai strategi hidup. Sementara itu, Ibnu Atha'illah as-Sakandari mengingatkan bahwa dosa yang membuatmu menangis lebih dekat kepada Allah daripada ketaatan yang membuatmu merasa lebih suci daripada orang lain. Sebab air mata taubat melunakkan hati, sedangkan rasa bangga terhadap diri sendiri mengeraskannya seperti batu. Betapa banyak orang rajin beribadah, tetapi gagal menjadi rendah hati karena yang mereka sembah diam-diam bukan lagi Allah, melainkan citra dirinya sendiri. Tidak berhenti di sana, Jalaluddin Rumi mengisyaratkan bahwa luka adalah tempat cahaya masuk. Akan tetapi cahaya tidak akan pernah masuk ke hati yang sibuk memoles topeng kesempurnaan. Orang yang terus merasa paling benar sesungguhnya sedang mengunci pintu hidayah dari dalam. Di sinilah perbedaan tiga jenis manusia itu tampak jelas. Yang pertama, sadar diri. Ia mengakui kekeliruannya, meminta maaf, memperbaiki diri, dan terus belajar. Ia mungkin jatuh berkali-kali, tetapi setiap jatuh membuatnya semakin mengenal kelemahannya di hadapan Allah. Yang kedua, bangga diri. Kesalahannya dipoles menjadi prestasi. Nasihat dianggap penghinaan. Kritik dianggap permusuhan. Baginya, meminta maaf adalah tanda kelemahan, padahal justru itulah tanda kedewasaan. Yang ketiga adalah manusia yang tak tahu diri. Inilah tingkatan yang paling menyedihkan. Ia tidak sadar bahwa dirinya salah, tidak mau belajar karena merasa sudah tahu, dan tidak mau berubah karena menganggap dunia yang keliru. Ia sibuk mengukur dosa orang lain dengan timbangan besi, sementara dosanya sendiri ditimbang memakai bulu. Begitulah cara ego mempermainkan akal. Pada akhirnya, ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah seberapa sedikit kesalahan yang pernah dilakukan, melainkan seberapa besar keberanian mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Sebab manusia terbaik bukanlah mereka yang tidak pernah tergelincir, tetapi mereka yang ketika jatuh tidak menyalahkan jalan, tidak menyalahkan orang lain, apalagi membanggakan lumpur yang melekat di kakinya. Orang yang sadar diri sedang menempuh jalan menuju kebijaksanaan, sedangkan orang yang bangga diri dan tak tahu diri sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri—dengan senyum penuh kesombongan seolah-olah itulah kemenangan. #FilsafatHidup #LogikaJiwa #MuhasabahDiri #RumiQuotes #SelfReminder
Dalam filsafat Islam, kesalahan bukanlah aib terbesar manusia. Yang paling berbahaya justru ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengakui kesalahannya. Dosa masih bisa diampuni, tetapi kesombongan sering kali membuat seseorang bahkan tidak merasa perlu memohon ampun. Ironisnya, manusia modern begitu sibuk menjadi hakim bagi kesalahan orang lain, sementara dirinya sendiri hidup di atas gunung kekeliruan yang disamarkan oleh ego. Mereka menguliti dosa orang lain dengan kaca pembesar, tetapi menutupi cacat dirinya dengan selimut seribu alasan. Lidahnya fasih berbicara tentang moral, tetapi akalnya menjadi pengacara bagi hawa nafsunya sendiri. Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa penyakit hati yang paling sulit disembuhkan adalah 'ujub (kagum terhadap diri sendiri) dan kibr (kesombongan). Ketika seseorang menganggap dirinya selalu benar, pintu ilmu telah tertutup baginya. Sebab ilmu hanya masuk ke hati yang rendah, bukan ke dada yang dipenuhi keakuan. Orang yang sadar diri masih memiliki peluang menjadi lebih baik, sedangkan orang yang bangga diri mengira dirinya telah sampai, padahal baru tersesat. Lebih tajam lagi, Ibn Miskawayh mengajarkan bahwa akhlak yang mulia lahir dari kemampuan jiwa mengendalikan hawa nafsu melalui akal. Namun ketika hawa nafsu menjadi raja, akal hanya berubah menjadi penasihat yang tidak pernah didengar. Maka lahirlah manusia yang bukan sekadar berbuat salah, tetapi menjadikan kesalahan sebagai identitas yang dibanggakan. Mereka menyebut kesombongan sebagai prinsip, keras kepala sebagai keteguhan, dan kemunafikan sebagai strategi hidup. Sementara itu, Ibnu Atha'illah as-Sakandari mengingatkan bahwa dosa yang membuatmu menangis lebih dekat kepada Allah daripada ketaatan yang membuatmu merasa lebih suci daripada orang lain. Sebab air mata taubat melunakkan hati, sedangkan rasa bangga terhadap diri sendiri mengeraskannya seperti batu. Betapa banyak orang rajin beribadah, tetapi gagal menjadi rendah hati karena yang mereka sembah diam-diam bukan lagi Allah, melainkan citra dirinya sendiri. Tidak berhenti di sana, Jalaluddin Rumi mengisyaratkan bahwa luka adalah tempat cahaya masuk. Akan tetapi cahaya tidak akan pernah masuk ke hati yang sibuk memoles topeng kesempurnaan. Orang yang terus merasa paling benar sesungguhnya sedang mengunci pintu hidayah dari dalam. Di sinilah perbedaan tiga jenis manusia itu tampak jelas. Yang pertama, sadar diri. Ia mengakui kekeliruannya, meminta maaf, memperbaiki diri, dan terus belajar. Ia mungkin jatuh berkali-kali, tetapi setiap jatuh membuatnya semakin mengenal kelemahannya di hadapan Allah. Yang kedua, bangga diri. Kesalahannya dipoles menjadi prestasi. Nasihat dianggap penghinaan. Kritik dianggap permusuhan. Baginya, meminta maaf adalah tanda kelemahan, padahal justru itulah tanda kedewasaan. Yang ketiga adalah manusia yang tak tahu diri. Inilah tingkatan yang paling menyedihkan. Ia tidak sadar bahwa dirinya salah, tidak mau belajar karena merasa sudah tahu, dan tidak mau berubah karena menganggap dunia yang keliru. Ia sibuk mengukur dosa orang lain dengan timbangan besi, sementara dosanya sendiri ditimbang memakai bulu. Begitulah cara ego mempermainkan akal. Pada akhirnya, ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah seberapa sedikit kesalahan yang pernah dilakukan, melainkan seberapa besar keberanian mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Sebab manusia terbaik bukanlah mereka yang tidak pernah tergelincir, tetapi mereka yang ketika jatuh tidak menyalahkan jalan, tidak menyalahkan orang lain, apalagi membanggakan lumpur yang melekat di kakinya. Orang yang sadar diri sedang menempuh jalan menuju kebijaksanaan, sedangkan orang yang bangga diri dan tak tahu diri sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri—dengan senyum penuh kesombongan seolah-olah itulah kemenangan. #FilsafatHidup #LogikaJiwa #MuhasabahDiri #RumiQuotes #SelfReminder

About