@user8127580373465:

أبو خاديجا
أبو خاديجا
Open In TikTok:
Region: TD
Wednesday 15 July 2026 16:35:01 GMT
16231
1050
0
33

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @user8127580373465, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Penjelasan📍📌: Cahaya bergerak 300.000 kilometer per detik. Itu batas kecepatan tercepat di alam semesta. Bukan sekadar cepat — tapi batas maksimum yang tidak bisa dilampaui. Tapi kalau ada yang tercepat… apakah ada yang terlambat? Jawabannya… lebih aneh dari yang kamu kira. --- Mulai dari yang paling obvious — benda diam. Tapi dalam fisika, “diam” itu ilusi. Bahkan batu yang terlihat tidak bergerak pun, atom-atom di dalamnya terus bergetar. Selama suhunya masih di atas nol mutlak, gerakan itu tidak pernah benar-benar berhenti. --- Jadi pertanyaannya berubah: Seberapa lambat sesuatu bisa bergerak? Jawabannya membawa kita ke suhu −273,15°C — batas terdingin di alam semesta. Di dekat suhu ini, atom bergerak sangat… sangat lambat. Sampai akhirnya mereka kehilangan identitas masing-masing dan “menyatu” dalam satu keadaan kuantum yang sama. Kondisi ini disebut Bose-Einstein Condensate. Di sinilah kita menemukan materi dengan gerakan paling lambat yang pernah dibuat manusia. --- Tapi kemudian, seorang fisikawan bernama *Lene Hau* punya ide yang tidak masuk akal: Bagaimana kalau kondisi ekstrem ini dipakai… untuk memperlambat cahaya? Tahun 1999, ia menembakkan cahaya ke dalam awan atom super dingin itu. Hasilnya? Cahaya yang biasanya melaju 300 juta meter per detik… tampak melambat drastis hingga hanya beberapa meter per detik saat melewati medium tersebut. Lebih lambat dari kamu berlari. --- Tapi di sini twist-nya: Cahaya itu sendiri tidak benar-benar melanggar batas kecepatannya. Kecepatan cahaya di ruang hampa tetap sama — ini adalah hukum dasar dalam Relativitas Khusus. Yang berubah adalah bagaimana cahaya berinteraksi dengan medium di sekitarnya. --- Bahkan dalam eksperimen lanjutan, cahaya bisa “dihentikan”. Tapi bukan seperti mobil direm. Energi dan informasi dari cahaya itu disimpan sementara dalam sistem atom… lalu dilepaskan kembali. Seolah-olah cahaya di-pause. --- Jadi siapa yang “terlambat”? Bukan satu benda. Tapi kondisi.  Semakin ekstrem kondisinya, semakin jauh kita bisa “memperlambat” fenomena yang kita kira mutlak. --- Konstanta alam tidak berubah. Tapi cara kita berinteraksi dengannya… bisa dimanipulasi. Dan di situlah batas pengetahuan manusia terus bergeser. #sains #fisika #edukasi #fyp
Penjelasan📍📌: Cahaya bergerak 300.000 kilometer per detik. Itu batas kecepatan tercepat di alam semesta. Bukan sekadar cepat — tapi batas maksimum yang tidak bisa dilampaui. Tapi kalau ada yang tercepat… apakah ada yang terlambat? Jawabannya… lebih aneh dari yang kamu kira. --- Mulai dari yang paling obvious — benda diam. Tapi dalam fisika, “diam” itu ilusi. Bahkan batu yang terlihat tidak bergerak pun, atom-atom di dalamnya terus bergetar. Selama suhunya masih di atas nol mutlak, gerakan itu tidak pernah benar-benar berhenti. --- Jadi pertanyaannya berubah: Seberapa lambat sesuatu bisa bergerak? Jawabannya membawa kita ke suhu −273,15°C — batas terdingin di alam semesta. Di dekat suhu ini, atom bergerak sangat… sangat lambat. Sampai akhirnya mereka kehilangan identitas masing-masing dan “menyatu” dalam satu keadaan kuantum yang sama. Kondisi ini disebut Bose-Einstein Condensate. Di sinilah kita menemukan materi dengan gerakan paling lambat yang pernah dibuat manusia. --- Tapi kemudian, seorang fisikawan bernama *Lene Hau* punya ide yang tidak masuk akal: Bagaimana kalau kondisi ekstrem ini dipakai… untuk memperlambat cahaya? Tahun 1999, ia menembakkan cahaya ke dalam awan atom super dingin itu. Hasilnya? Cahaya yang biasanya melaju 300 juta meter per detik… tampak melambat drastis hingga hanya beberapa meter per detik saat melewati medium tersebut. Lebih lambat dari kamu berlari. --- Tapi di sini twist-nya: Cahaya itu sendiri tidak benar-benar melanggar batas kecepatannya. Kecepatan cahaya di ruang hampa tetap sama — ini adalah hukum dasar dalam Relativitas Khusus. Yang berubah adalah bagaimana cahaya berinteraksi dengan medium di sekitarnya. --- Bahkan dalam eksperimen lanjutan, cahaya bisa “dihentikan”. Tapi bukan seperti mobil direm. Energi dan informasi dari cahaya itu disimpan sementara dalam sistem atom… lalu dilepaskan kembali. Seolah-olah cahaya di-pause. --- Jadi siapa yang “terlambat”? Bukan satu benda. Tapi kondisi. Semakin ekstrem kondisinya, semakin jauh kita bisa “memperlambat” fenomena yang kita kira mutlak. --- Konstanta alam tidak berubah. Tapi cara kita berinteraksi dengannya… bisa dimanipulasi. Dan di situlah batas pengetahuan manusia terus bergeser. #sains #fisika #edukasi #fyp

About