@malaysiagazette: Apa Barisan Dia Buat Sini? Parit Depan Rumah Dari Kecil Sampai Besar Itulah Paritnya Perkembangan terkini sempena Pilihan Raya Dewan Undangan Negeri (DUN) Negeri Sembilan ke-16 Video: Jamieshah Jamil #malaysiagazette #PRNNegeriSembilan #N9memilih #PRNNegeriSembilan2026 #UndiN9 #PakatanHarapan #PH

malaysiagazette
malaysiagazette
Open In TikTok:
Region: MY
Sunday 19 July 2026 09:06:52 GMT
1028
29
1
6

Music

Download

Comments

pipi.zola64
pipi zola :
Kalau satu hari nanti Anwar Ibrahim bukan lagi Perdana Menteri… Aku akan cerita kepada anak cucu aku. Aku akan beritahu mereka bahawa pernah ada satu zaman, rakyat miskin tak perlu terlalu risau nak beli beras kerana ada bantuan SARA yang terus masuk untuk membeli keperluan asas. Aku juga akan cerita bahawa sejak beliau mengambil alih pentadbiran pada hujung 2022, setiap kali musim perayaan, rakyat tidak lagi berdepan lonjakan mendadak harga ayam dan telur seperti yang pernah berlaku sebelum ini. Mungkin Anwar Ibrahim bukan pemimpin yang pandai mengambil hati ahli politik supaya sentiasa mengelilingi dan memujinya. Tetapi dia memilih untuk mengambil hati rakyat. Dalam keadaan negara masih menanggung defisit, beliau tetap mencari ruang untuk membantu puluhan ribu anak daripada keluarga miskin melanjutkan pelajaran ke universiti melalui sokongan PTPTN. Kerana beliau percaya, pendidikan adalah jalan keluar daripada kemiskinan. Anwar Ibrahim mungkin tidak mampu membuat semua orang hidup mewah dalam sekelip mata. Tetapi beliau berusaha membaiki asas negara yang telah lama bocor. Membetulkan dasar, mengukuhkan institusi dan menyusun semula sistem supaya generasi akan datang dapat menikmati hasilnya. Pokok yang akarnya kuat tidak terus berbuah dalam sehari. Tetapi apabila tiba masanya, buahnya lebih manis dan tahan lama. Dan satu lagi yang ramai mungkin sudah terlupa… Hari ini kita masuk ke pasar raya, minyak masak ada di rak. Beras masih ada. Bekalan lebih teratur. Dulu, kita pernah melalui zaman minyak masak hilang dari pasaran. Rakyat terpaksa mencari dari satu kedai ke satu kedai. Kadang-kadang kita hanya benar-benar menghargai sesuatu apabila ia sudah tiada. Semoga apa sahaja jasa yang membawa manfaat kepada rakyat akan terus dikenang, walaupun suatu hari nanti sejarah bergerak ke halaman yang baharu. #pokwiejebond
2026-07-19 09:32:30
1
To see more videos from user @malaysiagazette, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov|| “Kak mau gak jadi pacar aku?” Suaramu sedikit gemetar, tapi kamu paksa tetap terdengar santai. Tanganmu terulur, memberikan cokelat, tanpa berani menatap wajah orang di depanmu. Kamu sudah latihan kalimat itu semalaman. Sudah hafal intonasinya. Sudah siap dengan kemungkinan ditolak. Tapi kamu belum siap untuk ini. Tepuk tangan tiba-tiba pecah di sekitar kalian. “WOOOHHH!” “Keren juga, langsung nembak!” Tubuhmu langsung kaku. Lalu suara yang sangat kamu kenal dan justru bukan yang kamu harapkan, terdengar jelas. “Riki ditembak cewek.” Itu suara Sunghoon. Pelan-pelan, seperti adegan film horor yang kamu sendiri tak mau lihat akhirnya, kamu mengangkat kepala. Dan. Deg. Bukan Sunghoon. Di depanmu berdiri Riki, dengan ekspresi setengah kaget, setengah nahan ketawa. Di belakangnya, Sunghoon berdiri santai, tangan di saku, senyum miring sambil menikmati situasi. Matamu membesar. “Hah?” napasmu tercekat. “Kok Riki?” Beberapa orang di sekitar mulai cekikikan. Panas. Wajahmu panas banget. Dengan gerakan cepat dan canggung, kamu menarik kembali cokelat itu. “G-gue becanda kok, hehe,” tawamu kering, jelas gak meyakinkan. Kamu mundur satu langkah, lalu dua langkah. “Oke, sip, gue cabut ya,” Belum sempat kamu berbalik, tiba-tiba kerah belakang bajumu terangkat. “Loh?” Tubuhmu otomatis tertarik ke belakang. “Tadi katanya nembak gue?” suara Riki terdengar santai, bahkan ada nada jahil di ujungnya. “Ih, lepasin!” kamu berusaha meronta. “Gue becanda tadi!” “Becanda?” Riki mendekat sedikit, alisnya naik. “Serius?” “IYA!” kamu hampir teriak. Tapi bukannya dilepas, dia malah dengan santai mengambil cokelat dari tanganmu. Kamu melongo. “Eh?” “Gue mau kok jadi pacar lo.” Kalimat itu keluar ringan. Dan sebelum otakmu sempat memproses, dia sudah berjalan pergi, membuka bungkus cokelatmu dan langsung menggigitnya. Kamu benar-benar freeze. Sunghoon lewat di sampingmu, masih dengan senyum yang sama. “Lumayan, Rik Dapet gratisan.” “Anjir, Hoon ini bukan,” kamu mencoba protes, tapi Sunghoon cuma tertawa kecil. “Makasih ya hiburannya,” katanya santai, lalu ikut pergi ke arah kantin. Dan kamu. Masih berdiri di sana. Dengan harga diri yang baru saja hancur berkeping-keping. — Kamu berjalan cepat. Bukan, lebih tepatnya hampir lari.	 “Kamar mandi, kamar mandi,” gumammu panik.	 	 Begitu masuk, kamu langsung menutup pintu dan bersandar di sana.	 “DUHHH MAMPUS GUE MAMPUSSS,” kamu menutup wajah dengan kedua tangan.	 “Kenapa sih hari ini?!” kamu mengacak rambut sendiri. “Harusnya Sunghoon! SUNGHOON!”	 	 Kamu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.	 “Tenang tenang, anggap aja gak terjadi apa-apa,”	 	 Butuh beberapa menit sampai detak jantungmu kembali normal.	 	 Akhirnya kamu keluar.	 Dan langsung.	 	 “AAAAAAAAAAAA!”	 	 Refleks, kamu menjerit sekencang-kencangnya.	 	 “WOI!” Riki langsung membekap mulutmu. “DIEM BEGO!”	 	 Matamu melotot. “MMPH!”	 	 Sunghoon di sampingnya ketawa tanpa dosa.	 	 “Lo ngapain sih?” akhirnya kamu berhasil melepaskan tangan Riki.	 	 “Lah? Lo yang ngapain?” Riki balik nanya. “Ngapain di kamar mandi cowok?”	 	 “Hah?” kamu langsung beku.	 	 Pelan-pelan kamu menoleh ke sekitar.	 Ubin yang lebih gelap. Urinal di sisi dinding.	 Dan tulisan besar di pintu: PRIA.	 	 Otakmu blank.	 	 “Saking cintanya itu, Rik, sama lo,” Sunghoon nyengir, “sampe masuk kamar mandi cowok.”	 	 Wajahmu berubah merah total.	 	 “GUE GAK!” kamu bahkan gak bisa menyelesaikan kalimat.	 Tanpa pikir panjang, kamu langsung lari keluar.	 Cepat. Sangat cepat.{ lanjut di sl} #ni_ki #enhypenedit #pov #4u
Pov|| “Kak mau gak jadi pacar aku?” Suaramu sedikit gemetar, tapi kamu paksa tetap terdengar santai. Tanganmu terulur, memberikan cokelat, tanpa berani menatap wajah orang di depanmu. Kamu sudah latihan kalimat itu semalaman. Sudah hafal intonasinya. Sudah siap dengan kemungkinan ditolak. Tapi kamu belum siap untuk ini. Tepuk tangan tiba-tiba pecah di sekitar kalian. “WOOOHHH!” “Keren juga, langsung nembak!” Tubuhmu langsung kaku. Lalu suara yang sangat kamu kenal dan justru bukan yang kamu harapkan, terdengar jelas. “Riki ditembak cewek.” Itu suara Sunghoon. Pelan-pelan, seperti adegan film horor yang kamu sendiri tak mau lihat akhirnya, kamu mengangkat kepala. Dan. Deg. Bukan Sunghoon. Di depanmu berdiri Riki, dengan ekspresi setengah kaget, setengah nahan ketawa. Di belakangnya, Sunghoon berdiri santai, tangan di saku, senyum miring sambil menikmati situasi. Matamu membesar. “Hah?” napasmu tercekat. “Kok Riki?” Beberapa orang di sekitar mulai cekikikan. Panas. Wajahmu panas banget. Dengan gerakan cepat dan canggung, kamu menarik kembali cokelat itu. “G-gue becanda kok, hehe,” tawamu kering, jelas gak meyakinkan. Kamu mundur satu langkah, lalu dua langkah. “Oke, sip, gue cabut ya,” Belum sempat kamu berbalik, tiba-tiba kerah belakang bajumu terangkat. “Loh?” Tubuhmu otomatis tertarik ke belakang. “Tadi katanya nembak gue?” suara Riki terdengar santai, bahkan ada nada jahil di ujungnya. “Ih, lepasin!” kamu berusaha meronta. “Gue becanda tadi!” “Becanda?” Riki mendekat sedikit, alisnya naik. “Serius?” “IYA!” kamu hampir teriak. Tapi bukannya dilepas, dia malah dengan santai mengambil cokelat dari tanganmu. Kamu melongo. “Eh?” “Gue mau kok jadi pacar lo.” Kalimat itu keluar ringan. Dan sebelum otakmu sempat memproses, dia sudah berjalan pergi, membuka bungkus cokelatmu dan langsung menggigitnya. Kamu benar-benar freeze. Sunghoon lewat di sampingmu, masih dengan senyum yang sama. “Lumayan, Rik Dapet gratisan.” “Anjir, Hoon ini bukan,” kamu mencoba protes, tapi Sunghoon cuma tertawa kecil. “Makasih ya hiburannya,” katanya santai, lalu ikut pergi ke arah kantin. Dan kamu. Masih berdiri di sana. Dengan harga diri yang baru saja hancur berkeping-keping. — Kamu berjalan cepat. Bukan, lebih tepatnya hampir lari. “Kamar mandi, kamar mandi,” gumammu panik. Begitu masuk, kamu langsung menutup pintu dan bersandar di sana. “DUHHH MAMPUS GUE MAMPUSSS,” kamu menutup wajah dengan kedua tangan. “Kenapa sih hari ini?!” kamu mengacak rambut sendiri. “Harusnya Sunghoon! SUNGHOON!” Kamu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Tenang tenang, anggap aja gak terjadi apa-apa,” Butuh beberapa menit sampai detak jantungmu kembali normal. Akhirnya kamu keluar. Dan langsung. “AAAAAAAAAAAA!” Refleks, kamu menjerit sekencang-kencangnya. “WOI!” Riki langsung membekap mulutmu. “DIEM BEGO!” Matamu melotot. “MMPH!” Sunghoon di sampingnya ketawa tanpa dosa. “Lo ngapain sih?” akhirnya kamu berhasil melepaskan tangan Riki. “Lah? Lo yang ngapain?” Riki balik nanya. “Ngapain di kamar mandi cowok?” “Hah?” kamu langsung beku. Pelan-pelan kamu menoleh ke sekitar. Ubin yang lebih gelap. Urinal di sisi dinding. Dan tulisan besar di pintu: PRIA. Otakmu blank. “Saking cintanya itu, Rik, sama lo,” Sunghoon nyengir, “sampe masuk kamar mandi cowok.” Wajahmu berubah merah total. “GUE GAK!” kamu bahkan gak bisa menyelesaikan kalimat. Tanpa pikir panjang, kamu langsung lari keluar. Cepat. Sangat cepat.{ lanjut di sl} #ni_ki #enhypenedit #pov #4u

About