@patpat_contentcreator: Bob wig💞 13*4 💞 @Dekume @dekume hair amazon #humanhair #bobwig

patpat // Content Creator //
patpat // Content Creator //
Open In TikTok:
Region: JM
Sunday 19 July 2026 16:06:10 GMT
596
38
5
1

Music

Download

Comments

just_terr_
Terr ★ | Wigs & luxury finds ☆ :
🥰🥰🥰 Need this
2026-07-19 19:38:34
2
chosen_one055
chosen_one055 :
How much???
2026-07-19 20:41:45
2
To see more videos from user @patpat_contentcreator, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Suara benturan pintu terdengar cukup keras dibuka dari depan. Mulanya kamu bersandar manja dalam rengkuhan Jay seraya fokus menamatkan serial televisi bersamanya. Namun kedatangan Jasmine, anak semata wayang kalian yang berusia genap enam tahun sontak menjadi perhatian. “Mama, aku nggak mau main sama Kak Jaewon,” keluhnya cemberut menghampirimu. Tubuh kecilnya mendesak ruang agar Jay melepaskan pelukan sebab Jasmine ingin memelukmu bergantian. “Kenapa, Sayang? Bukannya Jasmine paling suka main sama Kak Jaewon? Kan Jasmine sendiri yang bilang kalau ingin ikut gathering biar bisa ketemu Kak Jaewon,” ucapmu terbesit pertanyaan. Jasmine bersedekap lucu memeluk boneka kelinci yang hampir seukuran dengannya. Kamu tersenyum tipis memerhatikan betapa kucel putrimu tengah bersungut.  “Kak Jaewon kasih Kak Laura bunga. Akunya nggak dikasih,” sebalnya cemburu yang membuat Jay tak kuasa menahan senyum. Rasa gemas itu membuat Jay mengecupi puncak kepala anaknya dari belakang lantaran sengaja dipunggungi Jasmine.  “Nanti Papa belikan bunga, ya? Jasmine mau bunga apa?” tawar Jay ketika kamu merapikan poni Jasmine. Gadis itu menoleh dengan mata memicing kesal. “Nggak mau. Aku maunya bunga yang dikasih Kak Jaewon soalnya dia metik sendiri pakai tangan,” sahut Jasmine menolak usaha Jay. Pria itu betulan tak bisa menahan senyum gemas.  “Papa bisa petikkan.” “Tapi Papa bukan Kak Jaewon. Aku maunya Kak Jaewon yang kasih,” tandas Jasmine begitu mengharapkan putra semata wayang Dokter Yang, rekan kerja Jay.  Kamu hanya bisa menggelengkan kepala tanda heran menatap bagaimana Jasmine turun dari sofa melenggang masuk ke dalam kamar. Dapat dipastikan ia sedang merajuk. “Biarkan saja, Ma. Anaknya lagi kecintaan itu,” kata Jay santai memperbaiki posisi duduk. Ia kembali menarikmu masuk ke dalam pelukan. Kamu mendongakkan kepala sejenak untuk menatap Jay. “Mirip Om kalau cemburu,” balasmu yang membuat Jay menaikkan satu alisnya menatapmu. “Memangnya saya begitu?” Kamu mengangguk. “Berarti menyebalkan, ya, Ma?” Lagi, lagi kamu mengangguk dengan menahan ulaman senyum. “Nyebelin banget, Pa. Tapi aku nggak bisa marah,” balasmu menjawab. Jay tampak menaruh minat akan topik pembahasan. Wajahnya semakin dekat denganmu sampai ujung hidung kalian bersinggungan.  “Kenapa nggak bisa marah sama saya?” Kamu turut memajukan paras kian menghapus jarak. Untuk beberapa saat, bibirmu mengecup milik Jay cepat.  “Karena aku cinta sama Om Dokter satu ini,” bisikmu memeluknya tak kalah erat. Jay sempat menggaungkan tawa kesenangan. Ia kembali mengecup balik bibirmu berulang. “Om, udah! Sakit!” Meski kamu mengingatkan, Jay tetap mengecup agresif. Mulai dari bibir, merambat ke pipi, lalu naik ke dahi.  “Papa, Sayang,” ingatnya padamu.  “Iya, Papa.” Jay tersenyum lembut kala tanganmu melingkari lehernya. Posisi seperti ini selalu menjadi letak berasmara yang Jay senangi. Jarak tipis menjadi pembuka aksi. Perlahan namun pasti, Jay mengulangi lagi tindakan yang menggelitik batin. Memastikan bahwa situasi aman dari interupsi Jasmine, Jay memadu cium. Matamu terpejam lamban bersamaan dengan gerakan bibir yang membuka diri akan kedatangan objek manis suami.  “Sayang,” panggil Jay melenguh tipis memulai lumatan tanpa berisik seraya menyapu punggung belakangmu. Kamu yang tahu akan maksudnya bergerak mengeratkan lingkar tangan. Tak berselang lama, Jay mengangkat tubuhmu guna berpangku padanya.  “Om…” Kamu sempat tersentak akibat gigitan kecil dari Jay karena salah akan panggilan. “Papa…” “Hm?” Sahut deham itu tak membuat Jay menghentikan aktivitasnya. Ia tetap tenang melumat bibirmu bergantian atas bawah, sesekali menjejalkan linguanya. Kamu yang merasa jalan udara terlalu dipenuhi oleh Jay mencoba menepuk bahunya mengingatkan.  “Papa… bahaya… nanti bisa kebablasan,” ujarmu mengatur napas kala tautan berhasil direnggangkan. Jay sama. Ia juga menata ulang udara yang keluar masuk dari rongga pernapasan. Derunya sangat jelas terasa menyapu wajah. “Kita buat teman untuk Jasmine.” (+(1-3)) #enhypen #jay
POV: Suara benturan pintu terdengar cukup keras dibuka dari depan. Mulanya kamu bersandar manja dalam rengkuhan Jay seraya fokus menamatkan serial televisi bersamanya. Namun kedatangan Jasmine, anak semata wayang kalian yang berusia genap enam tahun sontak menjadi perhatian. “Mama, aku nggak mau main sama Kak Jaewon,” keluhnya cemberut menghampirimu. Tubuh kecilnya mendesak ruang agar Jay melepaskan pelukan sebab Jasmine ingin memelukmu bergantian. “Kenapa, Sayang? Bukannya Jasmine paling suka main sama Kak Jaewon? Kan Jasmine sendiri yang bilang kalau ingin ikut gathering biar bisa ketemu Kak Jaewon,” ucapmu terbesit pertanyaan. Jasmine bersedekap lucu memeluk boneka kelinci yang hampir seukuran dengannya. Kamu tersenyum tipis memerhatikan betapa kucel putrimu tengah bersungut. “Kak Jaewon kasih Kak Laura bunga. Akunya nggak dikasih,” sebalnya cemburu yang membuat Jay tak kuasa menahan senyum. Rasa gemas itu membuat Jay mengecupi puncak kepala anaknya dari belakang lantaran sengaja dipunggungi Jasmine. “Nanti Papa belikan bunga, ya? Jasmine mau bunga apa?” tawar Jay ketika kamu merapikan poni Jasmine. Gadis itu menoleh dengan mata memicing kesal. “Nggak mau. Aku maunya bunga yang dikasih Kak Jaewon soalnya dia metik sendiri pakai tangan,” sahut Jasmine menolak usaha Jay. Pria itu betulan tak bisa menahan senyum gemas. “Papa bisa petikkan.” “Tapi Papa bukan Kak Jaewon. Aku maunya Kak Jaewon yang kasih,” tandas Jasmine begitu mengharapkan putra semata wayang Dokter Yang, rekan kerja Jay. Kamu hanya bisa menggelengkan kepala tanda heran menatap bagaimana Jasmine turun dari sofa melenggang masuk ke dalam kamar. Dapat dipastikan ia sedang merajuk. “Biarkan saja, Ma. Anaknya lagi kecintaan itu,” kata Jay santai memperbaiki posisi duduk. Ia kembali menarikmu masuk ke dalam pelukan. Kamu mendongakkan kepala sejenak untuk menatap Jay. “Mirip Om kalau cemburu,” balasmu yang membuat Jay menaikkan satu alisnya menatapmu. “Memangnya saya begitu?” Kamu mengangguk. “Berarti menyebalkan, ya, Ma?” Lagi, lagi kamu mengangguk dengan menahan ulaman senyum. “Nyebelin banget, Pa. Tapi aku nggak bisa marah,” balasmu menjawab. Jay tampak menaruh minat akan topik pembahasan. Wajahnya semakin dekat denganmu sampai ujung hidung kalian bersinggungan. “Kenapa nggak bisa marah sama saya?” Kamu turut memajukan paras kian menghapus jarak. Untuk beberapa saat, bibirmu mengecup milik Jay cepat. “Karena aku cinta sama Om Dokter satu ini,” bisikmu memeluknya tak kalah erat. Jay sempat menggaungkan tawa kesenangan. Ia kembali mengecup balik bibirmu berulang. “Om, udah! Sakit!” Meski kamu mengingatkan, Jay tetap mengecup agresif. Mulai dari bibir, merambat ke pipi, lalu naik ke dahi. “Papa, Sayang,” ingatnya padamu. “Iya, Papa.” Jay tersenyum lembut kala tanganmu melingkari lehernya. Posisi seperti ini selalu menjadi letak berasmara yang Jay senangi. Jarak tipis menjadi pembuka aksi. Perlahan namun pasti, Jay mengulangi lagi tindakan yang menggelitik batin. Memastikan bahwa situasi aman dari interupsi Jasmine, Jay memadu cium. Matamu terpejam lamban bersamaan dengan gerakan bibir yang membuka diri akan kedatangan objek manis suami. “Sayang,” panggil Jay melenguh tipis memulai lumatan tanpa berisik seraya menyapu punggung belakangmu. Kamu yang tahu akan maksudnya bergerak mengeratkan lingkar tangan. Tak berselang lama, Jay mengangkat tubuhmu guna berpangku padanya. “Om…” Kamu sempat tersentak akibat gigitan kecil dari Jay karena salah akan panggilan. “Papa…” “Hm?” Sahut deham itu tak membuat Jay menghentikan aktivitasnya. Ia tetap tenang melumat bibirmu bergantian atas bawah, sesekali menjejalkan linguanya. Kamu yang merasa jalan udara terlalu dipenuhi oleh Jay mencoba menepuk bahunya mengingatkan. “Papa… bahaya… nanti bisa kebablasan,” ujarmu mengatur napas kala tautan berhasil direnggangkan. Jay sama. Ia juga menata ulang udara yang keluar masuk dari rongga pernapasan. Derunya sangat jelas terasa menyapu wajah. “Kita buat teman untuk Jasmine.” (+(1-3)) #enhypen #jay

About