@hellowtnbe_tvs: POV : Lovin'u Anywhere (Part 1) 📌 Haruto as Gestara Pradeepa Hwarang Lake sore ini tampak seperti lukisan cat air yang mulai memudar. Aku duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, membiarkan jemariku menelusuri sketsa gaun di buku catatan, meski pikiranku melayang jauh ke tempat lain. Aku menghela napas panjang, suaranya hampir tertelan riuh rendah angin danau. Aku teringat bagaimana seseorang dulu sering kali membuatku merasa seolah-olah duniaku adalah kesalahan. Bahwa setiap tawa yang kuberikan harus ada hitung-hitungannya, dan setiap impian yang kuceritakan hanya dianggap sebagai angin lalu yang tidak penting. Aku selalu mencoba terlihat ceria, menutupi retakan di dalam sini dengan sapuan warna-warna pastel pada desainku. Namun, di saat-saat sepi seperti ini, aku sadar bahwa aku hanya sedang berusaha membangun rumah di atas fondasi yang rapuh; lelah karena harus terus-menerus memaafkan hal-hal yang bahkan tidak pernah ia sesali. Rintik hujan mulai menyentuh permukaan danau, menciptakan riak-riak kecil yang memecah bayangan awan kelabu. Langit benar-benar runtuh. Harusnya aku segera beranjak, tapi kakiku terasa berat, seolah enggan membawa tubuh ini pergi dari kesunyian yang justru terasa akrab. Namun, gerimis yang tadinya dingin menyentuh kulit, tiba-tiba berhenti. Aku mengerutkan kening. Aneh. Di depanku, air danau jelas masih menari-nari dihantam rintik hujan. Aku menoleh ke samping. Napas yang tadinya tercekat di tenggorokan seolah tertahan. Seorang pria tinggi berdiri tepat di sampingku, memegang payung hitam besar yang melindungi kepalaku dari basah. Aku menatapnya lamat-lamat. Ia mengenakan kemeja flanel cokelat gelap dengan lengan yang digulung sampai siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan berurat—tanda ia terbiasa dengan kerja fisik yang berat. Postur tubuhnya tegak, auranya tenang namun sangat dominan, seolah ia adalah pusat gravitasi di tempat ini. Garis rahangnya tegas, dan matanya yang tajam menatap lurus ke arah danau dengan ekspresi datar namun teduh. Ia tampak seperti seseorang yang menghabiskan banyak waktu di bawah sinar matahari dan udara pegunungan. Sontak, aku menarik diri, menjaga jarak. Instingku untuk menutup diri kembali menyala. "Sorry, lo nggak berniat pindah?", suaranya rendah, berat, dan tenang. Begitu sopan, namun ada nada kebingungan yang nyata di sana. Aku menatapnya dengan tatapan bertanya, enggan menjawab. "Hujan bukan tempat buat kontemplasi kalau lo nggak mau berakhir kena flu, kan? Gue nggak bermaksud lancang. Cuma, aneh saja lihat orang membiarkan dirinya basah kuyup di saat dia punya pilihan buat neduh", lanjutnya. Ia menggeser payungnya lebih ke arahku, memastikan tak ada tetesan hujan yang menyentuh pundakku, padahal pundak kirinya sendiri mulai basah terkena rintik rintik gerimis. Tindakan itu refleks, alami, dan tanpa pamrih. "Gue lagi menikmati suasana di sini. Sendirian..., jawabku singkat, berusaha menjaga nada suaraku tetap dingin agar dia tahu kalau aku tidak ingin diganggu. Ia tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis yang membuat garis wajahnya yang tegas melunak. "Menikmati suasana itu baik. Tapi, nggak perlu sampai menyiksa diri sendiri, kan? Kesehatan lo itu prioritas di atas segalanya" Lagi-lagi, ia tidak mencoba berkenalan atau menanyakan namaku. Ia hanya berdiri di sana, memayungiku dalam diam, membiarkan hujan menumpahkan amarahnya sementara ia tetap menjadi tempat perlindungan yang tenang. Aku tidak kenal siapa dia, tapi ketenangannya justru membuat hatiku yang sedang kacau merasa semakin tidak nyaman. Siapa sebenarnya pria ini? (kelanjutannya di kolom komentar yaa) #haruto #treasure #pov #fyp #trending

🦋
🦋
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 19 July 2026 17:01:29 GMT
5003
1828
13
116

Music

Download

Comments

hellowtnbe_tvs
🦋 :
(3). "Sorry, gue gak punya uang tunai atau hal berharga buat diberikan sebagai imbalan", kataku to the point, sedikit defensif. Saat merogoh saku blazerku, aku menemukan sebuah voucher makan gratis di restoran dekat sini. Aku baru ingat voucher itu sempat ku terima dari rekan kerjaku. Aku menyodorkannya ke arahnya. "Ah, ini ada voucher makan gratis. Ambil saja, itu satu-satunya yang gue punya sekarang" Prita itu terdiam. Ia tidak menyentuh kertas itu, hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Serasa nggak sopan kalau gue menerima sesuatu dari orang yang belum gue kenal. Gue udah nunggu tiga puluh menit di sini cuma buat tahu siapa nama cewek yang nekat bertahan di bawah hujan sendirian", katanya dingin. Aku mendengus, merasa konyol dengan situasinya. "Selaksa Jelita. Cepat terima vouchernya. Gue harus pergi sekarang" Ia menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum tipis—kali ini senyum yang lebih ramah. "Gue Gestara Pradeepa. Terima kasih atas tawarannya, Jelita. Tapi gue nggak bisa terima" "Kenapa lagi?", tanyaku ketus. "Karena sepengetahuan gue, itu restoran seafood, dan gue alergi berat dengan makanan laut" Aku menarik kembali voucher itu dengan kasar, merasa kesal sendiri. "Dikasih gratis kok malah banyak alasan. Aneh lo" "Gue nggak mau apa-apa dari lo, Jelita. Iya kan, panggilan lo Jelita?", ia melangkah setapak mendekat, suaranya merendah. "Nama yang cantik" Aku tidak membalas pujian itu. Aku tidak butuh validasi dari pria asing. "Kalau lo nggak butuh apa-apa lagi, gue permisi" Aku bergegas melangkah pergi, membiarkan dinginnya sisa hujan menyapu pipiku. Namun, saat langkahku sudah cukup jauh, aku mendengar suaranya berseru, memecah gemuruh air di danau. "Semoga kita ketemu lagi, Jelita! Gue belum sempat lihat senyum indah yang serupa dengan keindahan nama lo!" Aku tidak menoleh. Namun, tanpa sadar, sudut bibirku sedikit tertarik—sebuah gerakan spontan yang membuatku semakin membenci diriku sendiri karena merasa sedikit hidup.
2026-07-19 17:03:23
6
kony_teum
konyxteume :
kaa, baru awal ajaa udh bikin salting brutaal😭 ahhh mood aku hari ini pastii baguuus poll krna sarapan yg manis22🤣
2026-07-20 00:59:04
2
lyyee789_
tnpanme :
huhuhu asikk nih kakk 🤭
2026-07-27 04:12:52
1
hellowtnbe_tvs
🦋 :
disini kelanjutannya.. (2). Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang kaku. Satu-satunya suara yang mengisi udara hanyalah deru hujan yang menghantam permukaan Hwarang Lake, menciptakan melodi monoton yang seharusnya menenangkan, namun bagiku, justru terasa menekan. Pria tadi tetap di sini, mematung seperti patung penjaga. Ia tidak mencoba mengajak bicara, tidak pula mendesak untuk mengetahui identitasku. Ia hanya menjadi tiang penyangga payung yang konsisten melindungi tubuhku, sementara separuh kemeja flanelnya perlahan berubah warna menjadi lebih gelap karena basah. Aku tidak tahan lagi. Rasa sesak di dada akibat memori masa lalu seolah terkunci rapat, digantikan oleh rasa canggung yang menjalar ke seluruh saraf. Aku memutuskan untuk berdiri. Namun, gerakan kakiku yang terburu-buru membuat kepala bagian sampingku beradu keras dengan gagang payung hitam yang dipegang Gestara. "Aduh!", ringisanku lolos begitu saja. Refleks, tanganku memegangi pelipis yang berdenyut ngilu. Tanpa perlu diperintah, tangan besarnya yang tadi memegang payung kini beralih ke kepalaku. Ia mengusap area yang terbentur dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati. Hening kembali merayap, namun kali ini berbeda. Ia tampak membeku. Matanya melebar sesaat sebelum ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia menarik tangannya secepat kilat, ekspresi wajahnya berubah dari tenang menjadi kikuk. "Sorry... gue gak bermaksud lancang. Gue refleks tadi", ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar karena rasa bersalah. Aku menarik napas panjang, menenangkan debaran jantung yang tiba-tiba berpacu. Aku memang menutup diri, terutama terhadap pria mana pun, namun aku tahu kapan harus berterima kasih. "Terima kasih udah mayungin gue selama setengah jam ini. Gue sangat menghargainya" Aku segera membalikkan badan, berniat pergi sebelum suasana menjadi lebih canggung. Namun, sebuah tangan menahan lenganku, cukup untuk menghentikan langkahku. "Udah, gitu aja?" Aku menoleh, mengerutkan kening. Apakah dia menginginkan sesuatu? Apakah ini skenario klasik di mana kebaikan dibalas dengan tuntutan?
2026-07-19 17:03:01
6
To see more videos from user @hellowtnbe_tvs, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About