@23victorcn: uma missão meu amigos #nofap #foryou

cauã labubu
cauã labubu
Open In TikTok:
Region: BR
Sunday 19 July 2026 19:19:07 GMT
1098726
189161
3447
114083

Music

Download

Comments

vitormr7770
I am batman🦇 :
Perdi no alistamento😔
2026-07-21 03:12:24
8529
street.silvaxx
Putz.eo_gui💤 :
todo ano chego em monge numa boa, e so desinstalar o YouTube kids
2026-07-21 19:58:30
2708
07maxvzz
maxweulvz__ :
O último foi soldado…., esse ano é monge anotem!!
2026-07-20 22:09:48
3764
thulio.moraes0
Thulio moraes :
Dessa vez vai será fácil eu aceitei Jesus na minha vida
2026-07-21 17:45:22
3196
itz_x_x00
ITALOXZ :
o último eu perdi no primeiro dia as 00:00 mas esse ano é monge anotem
2026-07-21 02:56:02
614
manoelrlk0
𝕄𝕒𝕟𝕠𝕖𝕝𝕣𝕝𝕜 :
desse fez ta fácil... Jesus esta do meu lado
2026-07-22 02:59:51
199
lucaskaique252
Lczin🪽 :
Monge de novo certeza, vai ser hat trick familia
2026-07-21 02:22:39
272
junin_736
️￴￴ :
boa sorte a tds..
2026-07-21 01:46:10
151
th_zn7
moraisx🤹🏽‍♂️ :
quem faz isso em 2026🤦🏽‍♂️
2026-07-21 13:31:46
16
.verdadeiro
alitaW• :
O “Soldado” que nunca virou “Rei” 😓
2026-07-22 18:15:16
98
arthur___editz2
thuzx :
tropa que já foi monge------>
2026-07-21 15:30:51
28
lczin.silva_
LC :
O último foi soldado
2026-07-20 17:18:40
52
lukinhassss23
~~𝒍𝒖𝒌𝒂𝒔™😝😝 :
que que siginifica? n sei que que vai acontecer daqui 2 meses? vai cair meteoro?
2026-07-21 12:57:34
8
To see more videos from user @23victorcn, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bagian 8 | POV : Setelahnya, sekolah mulai benar-benar sepi.  Suara hujan yang tadi deras kini udah berhenti, hanya menyisakan aroma tanah basah yang terbawa angin sore. Koridor yang tadi ramai perlahan kosong, pintu-pintu kelas mulai tertutup, dan dari kejauhan hanya kedengeran bunyi ring basket yang sesekali berderit pelan tertiup angin. Kamu masih berdiri cukup lama di depan gedung kelas. Tas masih menggantung di bahumu. Sementara tanganmu...masih menggenggam erat gantungan kecil berbentuk susu strawberry yang sedari tadi kamu simpan di dalam saku. Kamu menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Setelah mengumpulkan sedikit keberanian...kakimu akhirnya melangkah. Bukan ke arah gerbang sekolah, bukan juga ke parkiran, melainkan...ke lapangan basket. Dari kejauhan...kamu langsung menemukannya. Juhoon masih ada di sana. Duduk sendirian di tribun paling depan, tubuhnya sedikit membungkuk sambil memegang kamera kecil yang sedari tadi menemaninya. Sesekali terdengar tawa pelan keluar dari bibirnya saat melihat hasil foto di layar kamera itu. Kamu cuma menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. Kemudian melanjutkan langkahmu. Sampai akhirnya...kamu berhenti tepat di depannya. Juhoon yang terlalu fokus menatap layar kameranya bahkan gak sadar kalau ada seseorang berdiri di depannya. “Ju, lo gak pulang?” Suaramu membuat Juhoon refleks mengangkat kepala. “Kak?” Matanya langsung membesar. “Kok... kakak di sini?” “Lho, emangnya kenapaa?” “Bukannya udah pulang?” Kamu hanya mengangkat bahu pelan. “Belum.” Juhoon buru-buru mematikan kameranya. Lalu bergeser sedikit ke samping. Menyisakan ruang kosong di sebelahnya. “Kak... duduk.” Kamu sempat diam beberapa detik. Menatap bangku kosong itu. Lalu tanpa banyak bicara...kamu benar-benar duduk.  Di sebelahnya. bkan berdiri, bukan menjaga jarak. Tapi...tepat di sampingnya. Juhoon sampai beberapa kali melirikmu diam-diam. Seolah masih memastikan kalau semua ini benar-benar terjadi. “Kok begitu banget lihatnya?” “Kakak yang nyamperin duluan.” “Iya, kenapa?”  “Langka.” Kamu langsung menyenggol pelan lengannya. “Berisik.” Juhoon malah terkekeh pelan. “Iya deh.” Setelah itu...kalian kembali diam. Gak ada yang memulai obrolan, gak ada yang merasa perlu mengisi keheningan. Hanya duduk berdampingan memandang lapangan basket yang semakin kosong, ditemani angin sore yang sesekali menerbangkan daun-daun kecil di sekitar lapangan. Aneh, biasanya Juhoon paling gak bisa diam. Selalu ada saja yang dia ceritakan, tapi kali ini...dia justru memilih menikmati momen itu. Seolah keheningan bersama kamu...sudah cukup membuatnya senang. “Kak.” “Hm?” “Aku boleh nanya?” “Nanya mulu.” “Ini beneran.” “Iya, langsung aja.” Juhoon menoleh pelan. Tatapannya jatuh tepat ke wajahmu. “Kakak kenapa nyamperin aku?” Deg, pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa...rasanya justru paling sulit dijawab. “Iseng.” Juhoon langsung tertawa kecil. “Kakak bohong.” “Enggak.” “Bohong.” “Iya iya emang bohong, kenapa bisa tau?” Dia tersenyum kecil. “...kalau kakak lagi bohong, kakak gak pernah berani lihat aku.” Refleks. Kamu langsung menoleh. “Siapa juga yang ngajarin lo begitu?” “Gak ada.” “Terus?” “Aku terlalu hafal semuanya.”  Deg, Juhoon benar. Tanpa sadar...pandanganmu memang selalu menghindar setiap kali berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Kamu mengembuskan napas pelan. Lalu memasukkan tangan ke dalam saku tas. Juhoon memperhatikan setiap gerakanmu dengan bingung.
Bagian 8 | POV : Setelahnya, sekolah mulai benar-benar sepi. Suara hujan yang tadi deras kini udah berhenti, hanya menyisakan aroma tanah basah yang terbawa angin sore. Koridor yang tadi ramai perlahan kosong, pintu-pintu kelas mulai tertutup, dan dari kejauhan hanya kedengeran bunyi ring basket yang sesekali berderit pelan tertiup angin. Kamu masih berdiri cukup lama di depan gedung kelas. Tas masih menggantung di bahumu. Sementara tanganmu...masih menggenggam erat gantungan kecil berbentuk susu strawberry yang sedari tadi kamu simpan di dalam saku. Kamu menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Setelah mengumpulkan sedikit keberanian...kakimu akhirnya melangkah. Bukan ke arah gerbang sekolah, bukan juga ke parkiran, melainkan...ke lapangan basket. Dari kejauhan...kamu langsung menemukannya. Juhoon masih ada di sana. Duduk sendirian di tribun paling depan, tubuhnya sedikit membungkuk sambil memegang kamera kecil yang sedari tadi menemaninya. Sesekali terdengar tawa pelan keluar dari bibirnya saat melihat hasil foto di layar kamera itu. Kamu cuma menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. Kemudian melanjutkan langkahmu. Sampai akhirnya...kamu berhenti tepat di depannya. Juhoon yang terlalu fokus menatap layar kameranya bahkan gak sadar kalau ada seseorang berdiri di depannya. “Ju, lo gak pulang?” Suaramu membuat Juhoon refleks mengangkat kepala. “Kak?” Matanya langsung membesar. “Kok... kakak di sini?” “Lho, emangnya kenapaa?” “Bukannya udah pulang?” Kamu hanya mengangkat bahu pelan. “Belum.” Juhoon buru-buru mematikan kameranya. Lalu bergeser sedikit ke samping. Menyisakan ruang kosong di sebelahnya. “Kak... duduk.” Kamu sempat diam beberapa detik. Menatap bangku kosong itu. Lalu tanpa banyak bicara...kamu benar-benar duduk. Di sebelahnya. bkan berdiri, bukan menjaga jarak. Tapi...tepat di sampingnya. Juhoon sampai beberapa kali melirikmu diam-diam. Seolah masih memastikan kalau semua ini benar-benar terjadi. “Kok begitu banget lihatnya?” “Kakak yang nyamperin duluan.” “Iya, kenapa?” “Langka.” Kamu langsung menyenggol pelan lengannya. “Berisik.” Juhoon malah terkekeh pelan. “Iya deh.” Setelah itu...kalian kembali diam. Gak ada yang memulai obrolan, gak ada yang merasa perlu mengisi keheningan. Hanya duduk berdampingan memandang lapangan basket yang semakin kosong, ditemani angin sore yang sesekali menerbangkan daun-daun kecil di sekitar lapangan. Aneh, biasanya Juhoon paling gak bisa diam. Selalu ada saja yang dia ceritakan, tapi kali ini...dia justru memilih menikmati momen itu. Seolah keheningan bersama kamu...sudah cukup membuatnya senang. “Kak.” “Hm?” “Aku boleh nanya?” “Nanya mulu.” “Ini beneran.” “Iya, langsung aja.” Juhoon menoleh pelan. Tatapannya jatuh tepat ke wajahmu. “Kakak kenapa nyamperin aku?” Deg, pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa...rasanya justru paling sulit dijawab. “Iseng.” Juhoon langsung tertawa kecil. “Kakak bohong.” “Enggak.” “Bohong.” “Iya iya emang bohong, kenapa bisa tau?” Dia tersenyum kecil. “...kalau kakak lagi bohong, kakak gak pernah berani lihat aku.” Refleks. Kamu langsung menoleh. “Siapa juga yang ngajarin lo begitu?” “Gak ada.” “Terus?” “Aku terlalu hafal semuanya.” Deg, Juhoon benar. Tanpa sadar...pandanganmu memang selalu menghindar setiap kali berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Kamu mengembuskan napas pelan. Lalu memasukkan tangan ke dalam saku tas. Juhoon memperhatikan setiap gerakanmu dengan bingung. "Gue mau kasih sesuatu." Dia langsung memandangmu. “...buat aku?” Kamu mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara, kamu mengambil telapak tangannya. Lalu meletakkan gantungan kecil berbentuk susu strawberry itu di atasnya. Benda kecil itu bergoyang pelan tertiup angin sore. Juhoon benar-benar membeku.Matanya bergantian melihat gantungan itu. Lalu menatapmu, lalu kembali melihat benda kecil yang kini ada di genggamannya. “Kak..." Suaranya hampir gak terdengar. “...ini beneran buat aku?” “Iya.” “Beneran?” “Iya.” ( + 💬 ) #pov #juhoon #cortis #fyp #trending

About