@natsukislanderu: This is after Rudeus tried to run the fade with Otto 😭 #rezero #slander #Otto #fyp #xyzbca

Natsuki Slanderu
Natsuki Slanderu
Open In TikTok:
Region: US
Monday 20 July 2026 17:05:36 GMT
15070
2451
118
565

Music

Download

Comments

mitosnik
ᛉMiłośnik :
W slander ig😭💔
2026-07-20 17:36:47
121
dynomedias
dyno :
Pre reincarnation Rudy no diffs rezero entire cast
2026-07-22 07:54:48
0
okpainter271
okpainter271 :
who is this and why does everyone hate him
2026-07-21 06:13:37
8
idks114
Idk114 • Following :
Now show me the ai version
2026-07-21 19:36:12
13
tatesraider
caesar :
Haven’t seen this base in years holy shit😭
2026-07-20 17:12:18
19
hotpocketeat
hotpocketeat :
I got no words for this guy
2026-08-16 08:30:44
2
sokodonuts
Marin Kitagawa Glazer :
Re:Zero gets to much glaze like omg bro its not that good
2026-07-22 23:24:50
0
gamb605
The Limbus Man :
Can I pick two options?
2026-07-21 00:40:57
5
yunotuop
yuno(fem robin number 1 fan) :
rudeus best character oat
2026-07-22 16:33:44
5
ezawakyou
Ezawa :
2026-07-28 22:50:34
1
mugitard_
Mugi :
Moot Otto the goat 🥺
2026-07-21 18:33:43
4
timdnchanter
TimDNchanter :
Otto no diffs him.
2026-07-22 18:20:22
3
banana_a1vis0_0
𝓐𝓻𝓲|| alv1s0🍓🌹 :
Otto solos😭✌️
2026-07-22 16:08:37
1
To see more videos from user @natsukislanderu, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

The life of Robert Frost began on March 26, 1874, in San Francisco, California. After his father’s death in 1885, Frost moved with his mother to Lawrence, Massachusetts, where he developed a love for reading and writing. He briefly attended Dartmouth College and later Harvard University, but he did not complete a degree. Instead, he worked various jobs, including teaching and farming, while quietly pursuing poetry. In 1894, Frost sold his first poem, My Butterfly: An Elegy, marking the start of his literary journey. However, recognition came slowly. In 1912, seeking better opportunities, he moved to England, where he published his first poetry collections, A Boy’s Will (1913) and North of Boston (1914). These works established his voice, rooted in rural life and deep philosophical reflection. Returning to the United States in 1915, Frost gained widespread acclaim. Over the years, he became one of America’s most celebrated poets, known for works like The Road Not Taken and Stopping by Woods on a Snowy Evening. He won four Pulitzer Prizes for Poetry, a rare and remarkable achievement. Despite personal tragedies, including the loss of several children, Frost continued to write with resilience and depth. His poetry often explored themes of nature, choice, isolation, and human struggle. In his later years, Frost became a national literary figure and even recited a poem at President John F. Kennedy’s inauguration in 1961. Robert Frost passed away on January 29, 1963, in Boston, Massachusetts, leaving behind a timeless legacy in American literature. Text- You will never reach your destination if you stop and throw stones at every dog that barks. - Unknown  - @logicword  #philosophy #deepthoughts #truth #history #thoughts
The life of Robert Frost began on March 26, 1874, in San Francisco, California. After his father’s death in 1885, Frost moved with his mother to Lawrence, Massachusetts, where he developed a love for reading and writing. He briefly attended Dartmouth College and later Harvard University, but he did not complete a degree. Instead, he worked various jobs, including teaching and farming, while quietly pursuing poetry. In 1894, Frost sold his first poem, My Butterfly: An Elegy, marking the start of his literary journey. However, recognition came slowly. In 1912, seeking better opportunities, he moved to England, where he published his first poetry collections, A Boy’s Will (1913) and North of Boston (1914). These works established his voice, rooted in rural life and deep philosophical reflection. Returning to the United States in 1915, Frost gained widespread acclaim. Over the years, he became one of America’s most celebrated poets, known for works like The Road Not Taken and Stopping by Woods on a Snowy Evening. He won four Pulitzer Prizes for Poetry, a rare and remarkable achievement. Despite personal tragedies, including the loss of several children, Frost continued to write with resilience and depth. His poetry often explored themes of nature, choice, isolation, and human struggle. In his later years, Frost became a national literary figure and even recited a poem at President John F. Kennedy’s inauguration in 1961. Robert Frost passed away on January 29, 1963, in Boston, Massachusetts, leaving behind a timeless legacy in American literature. Text- You will never reach your destination if you stop and throw stones at every dog that barks. - Unknown - @logicword #philosophy #deepthoughts #truth #history #thoughts
Saat Pemerintah Kembali Datang ke Rumah Rena dan Rendi Langkah kaki para pejabat kembali berhenti di sebuah rumah sederhana di Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Kota Agung Timur, Jumat, 22 Mei 2026. Untuk kedua kalinya dalam sepekan terakhir, Pemerintah Kabupaten Tanggamus datang memastikan bahwa kisah Rena dan Rendi tidak berhenti hanya sebagai berita yang ramai diperbincangkan. Di rumah itu, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kominfo Suhartono, bersama aparatur pekon kembali duduk bersama keluarga Ibu Erna alias Jumnah. Bukan sekadar membawa pertanyaan, tetapi mencoba menghadirkan jalan keluar bagi dua anak yang perlahan menjauh dari bangku sekolah. Beberapa hari sebelumnya, kisah Rena dan Rendi menjadi perhatian publik. Banyak yang menilai negara terlambat hadir. Namun sejak laporan itu mencuat, pemerintah daerah mulai bergerak dari satu pintu ke pintu lainnya untuk memastikan kondisi sebenarnya. Hasilnya, satu harapan mulai menemukan arah. Rena, anak pertama, akhirnya dipastikan akan difasilitasi melanjutkan pendidikan melalui jalur PKBM pada tahun ajaran 2026–2027. Perjalanan pendidikannya memang tidak berjalan biasa. Ia sempat belajar di pondok pesantren salafiyah di Tasikmalaya dengan sistem pendidikan berbasis kesetaraan. Karena itu, jalur pendidikan yang disiapkan pemerintah harus menyesuaikan riwayat sekolahnya. Sementara itu, cerita Rendi masih menyisakan tanda tanya panjang. Anak laki-laki itu belum sepenuhnya memastikan apakah dirinya siap kembali melanjutkan sekolah. Pemerintah memilih tidak memaksa. Pendekatan yang dilakukan kini lebih banyak melalui pendampingan dan motivasi dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Di tengah persoalan pendidikan itu, pemerintah juga memastikan keluarga Ibu Jumnah tidak sepenuhnya berjalan sendiri menghadapi tekanan ekonomi. Selama beberapa tahun terakhir, bantuan sosial masih terus diterima keluarga tersebut, mulai dari bantuan pangan, BPNT hingga BLT Dana Desa sebelum anggaran mengalami pengurangan pada tahun 2026. Bagi sebagian orang, kunjungan itu mungkin hanya rutinitas pemerintahan. Namun bagi keluarga kecil di Tanjung Jati, kedatangan itu menjadi tanda bahwa cerita mereka didengar. Karena terkadang, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan atau biaya sekolah, melainkan keyakinan bahwa masih ada pihak yang mau datang, duduk, mendengar, lalu membantu mencari jalan keluar bersama. Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus Jumat, 22 Mei 2026 #Tanggamus #PekonTanjungJati #KotaAgungTimur #RenaDanRendi #PendidikanUntukSemua           @KOMINFO TANGGAMUS @dinas sosial @Indonesian all star[RSS]⭐
Saat Pemerintah Kembali Datang ke Rumah Rena dan Rendi Langkah kaki para pejabat kembali berhenti di sebuah rumah sederhana di Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Kota Agung Timur, Jumat, 22 Mei 2026. Untuk kedua kalinya dalam sepekan terakhir, Pemerintah Kabupaten Tanggamus datang memastikan bahwa kisah Rena dan Rendi tidak berhenti hanya sebagai berita yang ramai diperbincangkan. Di rumah itu, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kominfo Suhartono, bersama aparatur pekon kembali duduk bersama keluarga Ibu Erna alias Jumnah. Bukan sekadar membawa pertanyaan, tetapi mencoba menghadirkan jalan keluar bagi dua anak yang perlahan menjauh dari bangku sekolah. Beberapa hari sebelumnya, kisah Rena dan Rendi menjadi perhatian publik. Banyak yang menilai negara terlambat hadir. Namun sejak laporan itu mencuat, pemerintah daerah mulai bergerak dari satu pintu ke pintu lainnya untuk memastikan kondisi sebenarnya. Hasilnya, satu harapan mulai menemukan arah. Rena, anak pertama, akhirnya dipastikan akan difasilitasi melanjutkan pendidikan melalui jalur PKBM pada tahun ajaran 2026–2027. Perjalanan pendidikannya memang tidak berjalan biasa. Ia sempat belajar di pondok pesantren salafiyah di Tasikmalaya dengan sistem pendidikan berbasis kesetaraan. Karena itu, jalur pendidikan yang disiapkan pemerintah harus menyesuaikan riwayat sekolahnya. Sementara itu, cerita Rendi masih menyisakan tanda tanya panjang. Anak laki-laki itu belum sepenuhnya memastikan apakah dirinya siap kembali melanjutkan sekolah. Pemerintah memilih tidak memaksa. Pendekatan yang dilakukan kini lebih banyak melalui pendampingan dan motivasi dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Di tengah persoalan pendidikan itu, pemerintah juga memastikan keluarga Ibu Jumnah tidak sepenuhnya berjalan sendiri menghadapi tekanan ekonomi. Selama beberapa tahun terakhir, bantuan sosial masih terus diterima keluarga tersebut, mulai dari bantuan pangan, BPNT hingga BLT Dana Desa sebelum anggaran mengalami pengurangan pada tahun 2026. Bagi sebagian orang, kunjungan itu mungkin hanya rutinitas pemerintahan. Namun bagi keluarga kecil di Tanjung Jati, kedatangan itu menjadi tanda bahwa cerita mereka didengar. Karena terkadang, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan atau biaya sekolah, melainkan keyakinan bahwa masih ada pihak yang mau datang, duduk, mendengar, lalu membantu mencari jalan keluar bersama. Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus Jumat, 22 Mei 2026 #Tanggamus #PekonTanjungJati #KotaAgungTimur #RenaDanRendi #PendidikanUntukSemua @KOMINFO TANGGAMUS @dinas sosial @Indonesian all star[RSS]⭐

About