@godofwar3792: #God #of #war #ps4 #ps5

God of war
God of war
Open In TikTok:
Region: AO
Monday 20 July 2026 22:07:59 GMT
72576
2017
27
76

Music

Download

Comments

alquezbaby
ZXCზხც :
bros playing on easy mod 😂
2026-07-26 15:20:43
2
jayhufano
amber jay :
damn bro ahhaa
2026-07-27 19:17:11
0
rami_karlsefni
𒀯 :
What is the item that causes you to shift worlds when dodging?
2026-07-23 21:03:45
3
angelgs51
Angel Gonzalez :
ese atq verde que parecen espadas o lanzas es un ataque runico ?
2026-07-21 17:07:27
11
alexpunk2077
alexpunk2077 :
Esa espada azul cuál es y como se saca
2026-07-21 21:51:06
1
emiliano_cas0
Castel_19 :
como hago el cambio de reino cada ves que esquivo??
2026-07-21 06:50:07
3
user45025340042490
Ricardo León :
ese pobre no veia venir un golpe cuando ya tenía como 20 encima
2026-07-27 18:49:06
0
karakonabdoulaye4
Karakon Abdoulaye :
😳😳Woooh
2026-07-22 21:11:38
1
jhon_.ldlc
jhon_ie𓆩𓆪 :
Cómo se llama el talismán que utiliza para paralizar el tiempo y en donde se encuentra , es que me he pasado todo God of war pero no lo encuentro
2026-07-26 20:21:33
0
im.ma3hdi
﮼المهدي،المجبري || 1422 هـ. :
2026-07-25 07:53:16
0
jero.04
jero :
pero para usarla tiene que ser en NG + ?
2026-07-22 04:53:59
1
justsmile199005
JustSmile :
👍👍👍
2026-07-26 06:21:44
1
userjaqgsmfi66
Vincent Lépine375 :
🥰🥰🥰
2026-07-21 21:45:38
1
youbacalifornia2
youba California⚛️ :
👏👏👏
2026-07-25 23:30:17
0
To see more videos from user @godofwar3792, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bandara Internasional Soekarno–Hatta malam itu penuh koper, doa, dan wajah haru para calon jamaah umroh. Di sudut ruang tunggu, duduk seorang wanita sederhana bernama Bu Darmi. Nama lengkapnya Sudarmi. Kerudungnya biasa saja. Tas kecilnya tampak kusam. Sandalnya murah dan mulai tipis. “Bu, koper umrohnya cuma satu?” tanya seorang ibu sambil tersenyum tipis. “Iya, Bu… seperlunya aja…” “Anaknya gak ikut nganter?” Bu Darmi tersenyum pelan. “Anak saya lagi kerja…” Tak ada yang bertanya lagi. Tak ada yang tahu kalau sejak suaminya meninggal belasan tahun lalu, Bu Darmi sendirilah yang membesarkan anak laki-lakinya dengan berjualan nasi uduk setiap subuh di depan gang sempit. Ia pernah kehujanan sambil mendorong gerobak. Pernah menahan lapar agar anaknya tetap bisa sekolah. Bahkan saat anaknya diterima sekolah penerbangan, Bu Darmi menjual satu-satunya sawah warisan keluarga. “Biar kamu sekolah tinggi, Nak… Ibu gak mau hidupmu susah kayak Ibu…” Pesawat menuju Jeddah akhirnya lepas landas. Bu Darmi duduk tenang sambil menggenggam tasbih kecil. Sementara beberapa jamaah lain sibuk membicarakan pekerjaan anak mereka. “Anak saya dokter spesialis…” “Kalau anak saya kerja di perusahaan minyak…” Bu Darmi hanya tersenyum kecil. Tak lama kemudian suara pilot terdengar dari pengeras kabin. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Kapten Pambagyo Utomo yang akan menerbangkan penerbangan menuju Jeddah malam ini…” Semua mendengarkan biasa saja. Namun beberapa detik kemudian, suara sang pilot berubah pelan. “Dan malam ini… izinkan saya menyampaikan sesuatu yang sangat pribadi…” Kabin mendadak hening. “Di pesawat ini ada ibu saya tercinta yang akhirnya bisa berangkat umroh setelah puluhan tahun berjuang membesarkan saya…” Bu Darmi langsung menunduk. Tangannya gemetar. “Saya hanyalah anak penjual nasi uduk. Ibu saya yang kehujanan setiap subuh demi membayar sekolah saya… bahkan menjual sawah terakhir keluarga agar saya bisa menjadi pilot…” Beberapa jamaah mulai saling pandang. “Dan malam ini saya ingin seluruh penumpang tahu… wanita paling hebat di pesawat ini bukan pilotnya… tapi ibu saya…” Tangis mulai terdengar di beberapa kursi. Pramugari kemudian berjalan mendekati Bu Darmi. “Ibu Sudarmi ya, Bu? Kapten meminta kami menjaga Ibu selama perjalanan…” Orang-orang yang tadi sempat memandang rendah kini hanya bisa diam menunduk malu. Bu Darmi menangis pelan. Untuk pertama kalinya dalam hidup… perjuangannya terasa benar-benar dihargai. Tak lama kemudian Kapten Pambagyo keluar dari cockpit. Ia berjalan perlahan menuju kursi ibunya. Di depan seluruh penumpang, ia berlutut dan mencium tangan renta itu lama sekali. “Ibu… akhirnya Pambagyo bisa menerbangkan Ibu ke Tanah Suci…” Tangis Bu Darmi pecah. “Ibu cuma jualan nasi uduk, Nak… gak nyangka Allah kasih hidup sejauh ini…” Kapten Pambagyo menggenggam tangan ibunya erat. “Justru dari tangan Ibu itulah Pambagyo bisa sampai ke langit…” Seketika kabin dipenuhi air mata. Ada yang diam-diam menghapus tangis. Ada yang teringat ibunya di rumah. Ada pula yang malu karena tadi sempat menilai Bu Darmi hanya dari penampilannya. Di atas langit malam menuju Tanah Suci, semua orang akhirnya sadar… Kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari pakaian mahal atau koper mewah. Kadang wanita sederhana yang duduk diam di pojok kursi itulah orang tua paling hebat. Karena dari tangan kasarnya… lahir anak yang mampu menerbangkan manusia menembus langit. “Jangan pernah malu dengan kesederhanaan orang tuamu. Sebab bisa jadi, doa merekalah yang membuatmu terbang setinggi langit.” catatan tangan kanan wiedmust-240526 (Terinspirasi dari tulisan Eka Munandar : 'Langit Menjadi Saksi')
Bandara Internasional Soekarno–Hatta malam itu penuh koper, doa, dan wajah haru para calon jamaah umroh. Di sudut ruang tunggu, duduk seorang wanita sederhana bernama Bu Darmi. Nama lengkapnya Sudarmi. Kerudungnya biasa saja. Tas kecilnya tampak kusam. Sandalnya murah dan mulai tipis. “Bu, koper umrohnya cuma satu?” tanya seorang ibu sambil tersenyum tipis. “Iya, Bu… seperlunya aja…” “Anaknya gak ikut nganter?” Bu Darmi tersenyum pelan. “Anak saya lagi kerja…” Tak ada yang bertanya lagi. Tak ada yang tahu kalau sejak suaminya meninggal belasan tahun lalu, Bu Darmi sendirilah yang membesarkan anak laki-lakinya dengan berjualan nasi uduk setiap subuh di depan gang sempit. Ia pernah kehujanan sambil mendorong gerobak. Pernah menahan lapar agar anaknya tetap bisa sekolah. Bahkan saat anaknya diterima sekolah penerbangan, Bu Darmi menjual satu-satunya sawah warisan keluarga. “Biar kamu sekolah tinggi, Nak… Ibu gak mau hidupmu susah kayak Ibu…” Pesawat menuju Jeddah akhirnya lepas landas. Bu Darmi duduk tenang sambil menggenggam tasbih kecil. Sementara beberapa jamaah lain sibuk membicarakan pekerjaan anak mereka. “Anak saya dokter spesialis…” “Kalau anak saya kerja di perusahaan minyak…” Bu Darmi hanya tersenyum kecil. Tak lama kemudian suara pilot terdengar dari pengeras kabin. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Kapten Pambagyo Utomo yang akan menerbangkan penerbangan menuju Jeddah malam ini…” Semua mendengarkan biasa saja. Namun beberapa detik kemudian, suara sang pilot berubah pelan. “Dan malam ini… izinkan saya menyampaikan sesuatu yang sangat pribadi…” Kabin mendadak hening. “Di pesawat ini ada ibu saya tercinta yang akhirnya bisa berangkat umroh setelah puluhan tahun berjuang membesarkan saya…” Bu Darmi langsung menunduk. Tangannya gemetar. “Saya hanyalah anak penjual nasi uduk. Ibu saya yang kehujanan setiap subuh demi membayar sekolah saya… bahkan menjual sawah terakhir keluarga agar saya bisa menjadi pilot…” Beberapa jamaah mulai saling pandang. “Dan malam ini saya ingin seluruh penumpang tahu… wanita paling hebat di pesawat ini bukan pilotnya… tapi ibu saya…” Tangis mulai terdengar di beberapa kursi. Pramugari kemudian berjalan mendekati Bu Darmi. “Ibu Sudarmi ya, Bu? Kapten meminta kami menjaga Ibu selama perjalanan…” Orang-orang yang tadi sempat memandang rendah kini hanya bisa diam menunduk malu. Bu Darmi menangis pelan. Untuk pertama kalinya dalam hidup… perjuangannya terasa benar-benar dihargai. Tak lama kemudian Kapten Pambagyo keluar dari cockpit. Ia berjalan perlahan menuju kursi ibunya. Di depan seluruh penumpang, ia berlutut dan mencium tangan renta itu lama sekali. “Ibu… akhirnya Pambagyo bisa menerbangkan Ibu ke Tanah Suci…” Tangis Bu Darmi pecah. “Ibu cuma jualan nasi uduk, Nak… gak nyangka Allah kasih hidup sejauh ini…” Kapten Pambagyo menggenggam tangan ibunya erat. “Justru dari tangan Ibu itulah Pambagyo bisa sampai ke langit…” Seketika kabin dipenuhi air mata. Ada yang diam-diam menghapus tangis. Ada yang teringat ibunya di rumah. Ada pula yang malu karena tadi sempat menilai Bu Darmi hanya dari penampilannya. Di atas langit malam menuju Tanah Suci, semua orang akhirnya sadar… Kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari pakaian mahal atau koper mewah. Kadang wanita sederhana yang duduk diam di pojok kursi itulah orang tua paling hebat. Karena dari tangan kasarnya… lahir anak yang mampu menerbangkan manusia menembus langit. “Jangan pernah malu dengan kesederhanaan orang tuamu. Sebab bisa jadi, doa merekalah yang membuatmu terbang setinggi langit.” catatan tangan kanan wiedmust-240526 (Terinspirasi dari tulisan Eka Munandar : 'Langit Menjadi Saksi')

About