@bengocbu:

bengocbu
bengocbu
Open In TikTok:
Region: VN
Tuesday 21 July 2026 02:15:08 GMT
6733
156
1
11

Music

Download

Comments

phucmy0907
Mimi babi :
Oki bè
2026-07-21 03:54:13
1
To see more videos from user @bengocbu, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV 6 |  Hari itu sekolah jauh lebih ramai dari biasanya. Turnamen basket antarkelas sudah memasuki babak semifinal. Lapangan dipenuhi siswa yang berdiri di sekitar tribun, sebagian membawa minuman, sebagian lagi sibuk meneriakkan nama kelas masing-masing.  Kamu sebenarnya tidak berencana menonton, sampai Hana menghampirimu dari belakang dan menarik lenganmu.
POV 6 | Hari itu sekolah jauh lebih ramai dari biasanya. Turnamen basket antarkelas sudah memasuki babak semifinal. Lapangan dipenuhi siswa yang berdiri di sekitar tribun, sebagian membawa minuman, sebagian lagi sibuk meneriakkan nama kelas masing-masing. Kamu sebenarnya tidak berencana menonton, sampai Hana menghampirimu dari belakang dan menarik lenganmu. "Yuk, ke lapangan" Kamu menoleh. "Ngapain?" "Nonton basket lah. Kelas Martin main" Kamu langsung mendengus kecil "Terus?" "Daripada lo di kelas sendirian" Hana sudah lebih dulu berjalan, memaksamu mengikuti langkahnya. Kamu akhirnya menurut. Lagipula, selama dua tahun bersama Martin, kamu sudah terlalu sering berada di pinggir lapangan seperti ini. Menunggu pertandingan selesai, mendengar dia mengeluh kalau timnya kalah, atau justru mendengar ocehannya sepanjang jalan karena terlalu senang setelah menang. Jadi, datang ke lapangan bukan sesuatu yang asing. Apalagi Martin sedang bermain. Kamu mengambil tempat di salah satu sisi tribun. Pertandingan sudah berlangsung beberapa menit ketika Martin terlihat berlari melewati lapangan. Nomor punggungnya terlihat jelas. Dia sedang fokus. Bahkan dari jauh kamu bisa melihat wajahnya yang biasanya santai berubah serius ketika bermain. Sesekali dia berteriak memberi instruksi kepada teman satu timnya. Kalau ada yang melakukan kesalahan, dia langsung menegur tanpa basa-basi. Sampai beberapa menit kemudian, pertandingan berlangsung semakin cepat. Martin langsung menggiringnya melewati garis tengah, berusaha mencari celah untuk melakukan serangan. Namun salah satu pemain lawan berhasil mengejarnya dari belakang. Dalam perebutan bola yang berlangsung cepat, bola terlepas dari kendali Martin dan kembali dikuasai tim lawan. Pemain tersebut langsung mengoper bola ke rekannya yang berada di sisi lain lapangan. Namun operannya terlalu keras. Bola justru melambung keluar dari area permainan dan mengarah ke tribun, tepat ke arahmu. Kamu baru sempat menoleh ketika suara seseorang terdengar keras. "AWAS!" Bruk. Bola menghantam sisi kepalamu. Tubuhmu kehilangan keseimbangan. Kamu sempat berpegangan pada kursi di samping sebelum pandanganmu mendadak berkunang-kunang. Suara di sekitar berubah samar. Ada seseorang yang berteriak memanggil namamu. Lalu semuanya gelap. Martin melihatnya. Bahkan sebelum bola benar-benar jatuh ke lantai, dia sudah berlari. Sepatu olahraganya berhenti mendadak ketika sampai di depan tribun. "Y/N!" Tidak ada jawaban. Martin langsung berjongkok di depanmu. Tangannya menahan bahumu agar tubuhmu tidak kembali jatuh. "Hei" Wajahnya berubah. Tidak ada lagi ekspresi santai. Tidak ada lagi senyumn"Y/n bangun!" Kamu masih diam. Martin menepuk pelan pipimu "Hei, lihat gue" Hana langsung ikut berjongkok. "Kayaknya dia pingsan" Martin menoleh ke arah lapangan. Salah satu pemain dari tim lawan berdiri tidak jauh dari sana. Wajahnya langsung berubah ketika tatapan Martin menemukannya. "Sorry, Mar. Gue nggak sengaja—" Martin sudah berdiri. Dalam beberapa langkah, dia sampai di depannya. Tangannya langsung mencengkeram bagian depan jersey pemain itu dan menariknya mendekat. "Martin!" Pemain itu bahkan belum sempat menjelaskan ketika Martin mengangkat tangannya. Kepalannya sudah terangkat, siap menghantam. Beberapa anak langsung bergerak mendekat. "Martin, WOI!" Dua orang dari timnya buru-buru menarik tubuh Martin ke belakang sebelum tangannya sempat mengenai apa pun. Martin masih berusaha maju. "Lepasin gue" "Udah, Martin!" Gue bilang lepas!" Temannya menahannya lebih kuat. Martin akhirnya berhenti melawan, tetapi tatapannya masih terkunci pada pemain tadi. Napasnya berat. Rahangnya mengeras. "Kalau sampai dia kenapa-kenapa, gue nggak peduli itu nggak sengaja atau bukan..." "...gue cari lo abis pertandingan ini" Nada suaranya rendah. Justru itu yang membuat beberapa orang di sekitar langsung diam. Pemain itu mundur sedikit. [ lanjut di saluran ] #pov #alternativeuniverse #martin #cortis

About