@lainiethernandezr: #magnesium

Lainiet💞☪️
Lainiet💞☪️
Open In TikTok:
Region: US
Tuesday 21 July 2026 11:11:06 GMT
546
7
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @lainiethernandezr, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Keesokan harinya, Jingjing bilang ingin keluar sebentar.
Keesokan harinya, Jingjing bilang ingin keluar sebentar. "Mau ke mana?" "Ketemu temen." "Sendiri?" "Iya." "Oke." "Nanti aku jemput?" "Nggak usah." "Sebentar aja." Janhae mengangguk tanpa banyak tanya. --- Menjelang sore... Jingjing akhirnya pulang. Wajahnya terlihat tenang. Bahkan terlalu tenang. Janhae yang sedang menyiram tanaman langsung menghampiri. "Gimana?" "Ketemu?" "Iya." "Seru?" Jingjing tersenyum kecil. "Iya." "Lho." "Kok senyum-senyum?" "Nggak." "Lagi seneng aja." Janhae ikut tersenyum. "Syukurlah." Malam itu mereka makan bersama seperti biasa. Menonton film. Lalu masuk kamar. Janhae lebih dulu tertidur. Sementara Jingjing masih terjaga. Dia bangun perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Masuk ke ruang tamu. Mengambil tasnya. Lalu mengeluarkan sebuah amplop putih. Tangannya sedikit gemetar saat membuka isinya. Selembar kertas perlahan terbuka. Tatapannya berhenti pada satu kalimat. Positif. Jingjing menutup mulutnya. Air matanya jatuh tanpa suara. Dia tertawa kecil di sela tangisnya. "Akhirnya..." bisiknya lirih. Beberapa menit kemudian, dia melipat kembali kertas itu.Menyimpannya rapi ke dalam amplop. Lalu menoleh ke arah kamar. "Besok..." "...aku kasih tau Jan." Dia mematikan lampu ruang tamu. Masuk kembali ke kamar. Berbaring di samping Janhae yang masih tertidur pulas. Pelan-pelan... Jingjing menggenggam tangan istrinya. Senyumnya tak pernah selebar malam itu. --- Pagi itu... Janhae terbangun lebih dulu. Saat keluar kamar, dia melihat Jingjing sedang memasak sambil bersenandung pelan. Sudah lama dia tidak melihat istrinya semurung beberapa minggu terakhir. "Kok pagi-pagi senyum sendiri?" Jingjing menoleh. "Nggak boleh?" "Boleh." "Takut aja." "Takut kenapa?" "Nanti dibilang aneh." Janhae tertawa kecil. "Lagian dari dulu juga aneh." "Heh." Jingjing mengambil sendok kayu lalu memukul pelan lengannya. Setelah sarapan... Jingjing tiba-tiba meletakkan sebuah amplop putih di atas meja. "Jan." "Hm?" "Buka." Janhae mengernyit. "Apaan?" "Buka aja." Dia membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya ada selembar hasil pemeriksaan. Matanya bergerak cepat membaca isi kertas. Lalu berhenti. Dua detik. Tiga detik. Dia kembali membaca dari awal. Seolah takut salah lihat. Perlahan, matanya membesar. "Jing..." Jingjing mengangguk sambil tersenyum. "Iya." Janhae masih belum percaya. "Serius?" "Iya." "Beneran?" "Iya." Janhae langsung memeluknya erat. Sangat erat. "Beneran?" Jingjing tertawa di bahunya. "Iya, Maa." Tangis mereka pecah bersamaan. Bertahun-tahun menunggu. Bertahun-tahun menjawab pertanyaan yang sama. Dan pagi itu...akhirnya mereka punya jawaban. --- Kabar itu langsung sampai ke keluarga. Mama Janhae datang membawa banyak makanan. "Makanya dijaga." "Jangan capek." "Jangan angkat yang berat." Jingjing hanya mengangguk sambil tertawa. "Iya, Ma." Rumah yang biasanya sepi mulai dipenuhi suara tawa. Janhae bahkan mulai sibuk mencari nama bayi. "Kalau cowok..." "Jack." Jingjing langsung menggeleng. "Nggak cocok." "Kalau cewek?" "Jewel." "Bagus." "Kalau kembar?" Janhae langsung melotot. "Jangan doa yang aneh-aneh." Jingjing tertawa sampai memegang perut. --- Minggu demi minggu berlalu. Janhae menjadi istri yang jauh lebih cerewet. "Jangan jalan cepat." "Minum air." "Udah makan belum?" Jingjing sampai menghela napas. "Yang hamil aku." "Yang panik kamu." "Ya emang." Jawaban itu membuat Jingjing tersenyum. --- Suatu sore... Janhae pulang lebih awal sambil membawa sebuah kotak kecil. "Apa lagi?" "Buka." Di dalamnya ada sepasang sepatu bayi. Ukurannya bahkan lebih kecil dari telapak tangan. Jingjing memegangnya pelan. Lucu. Kecil. Dan untuk pertama kalinya... Semua terasa nyata. "Makasih." bisiknya. Janhae duduk di sampingnya. "Nanti..." "...kalau dia udah lahir." "Kita ajak jalan tiap minggu." "Kalau dia nangis malam?" "Gantian jaganya." "Kalau dia bandel?" Janhae tersenyum. "Yaudah." "Dia kan anak kita." Jingjing ikut tersenyum. "Iya." "Anak kita." #janhae #jingjing #janjingjing #au #fypp

About