@temperoemharmonia: Depois que aprendi a fazer beterraba assim, minha cozinha ficou muito mais prática! 😍 Sem sujeira, sem panela e com um sabor adocicado que parece até outra fruta. Como fazer: 1. Selecione 2 beterrabas médias (com casca, bem lavadas). 2. Envolva cada uma em papel-alumínio com um fio de azeite e uma pitada de sal. 3. Leve à Airfryer por cerca de 30 minutos (temperatura média de 180°C a 200°C). 4. Retire, descasque (a casca sai facinho) e sirva. O resultado é uma beterraba macia, doce e deliciosa – perfeita para saladas, acompanhamentos ou lanches nutritivos. Guarda essa dica para testar depois! 😋 @temperoemharmonia_ #beterrabanaairfryer #airfryerbrasil #receitafacil #legumesassados #comidasaudavel

TEMPERO EM HARMONIA
TEMPERO EM HARMONIA
Open In TikTok:
Region: FR
Tuesday 21 July 2026 22:33:01 GMT
574
17
0
2

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @temperoemharmonia, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Maaf agak telat bahas tenaga kesehatan (nakes) paling kurang ajar di dunia. Pasien sudah mau sakratul maut, nulis pesan terakhir, lalu dibalas nakes dengan kalimat, potong aja nadinya. Beberapa hari kemudian, nyawa melayang. Spesies nakes langka hanya ada di negeri ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Ada dua jenis orang menghadapi kematian. Yang takut mati dan yang malah sibuk mengetik komentar sambil menertawakan orang yang sedang berjuang hidup. Yurizal Tri Chaerawan mungkin termasuk pertama. Pada 22 Juli 2026, ia menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs.” Delapan jam, wak! Kalau menunggu gorengan mungkin sebentar. Kalau tubuh sedang sakit, delapan jam bisa terasa seperti delapan tahun. Yurizal takut menyebut nama rumah sakit karena khawatir didiskriminasi gara-gara memakai BPJS. Ironisnya, yang datang bukan pertolongan, melainkan komentar yang membuat akal sehat ingin resign. Ada menyuruhnya masuk ruang jenazah agar cepat mendapat kamar. Akun @widhiyarini bahkan menulis, “Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan.” Potong nadi! Ini rumah sakit atau audisi film horor? Dokter RSUD IA Moeis Samarinda, dr. Renanda Maulidya Fadyla, menulis, “bacot nih pasien.” Tenaga kesehatan berinisial NZ dari RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya menghina Yurizal dengan menyebutnya miskin harta, miskin akal, tetapi ingin diistimewakan. Akun @erudarahaadini ikut menyindir kemampuan berpikir Yurizal. Pasien sedang berjuang hidup, malah disambut seperti sedang mengganggu jam istirahat kerajaan. Sahabat Yurizal, Firhan Arief, kemudian mengungkap, Yurizal menangis setelah membaca komentar-komentar tersebut. Ia sudah sakit secara fisik. Kini hatinya ikut dihantam. Pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia. Apakah komentar-komentar itu menyebabkan kematiannya? Jangan asal menyimpulkan. Penyebab medis harus dibuktikan secara medis. Namun satu hal jelas, komentar seperti itu sungguh kejam. Boleh masuk kategori, biadab. Apalagi diarahkan kepada orang yang sedang sakit dan menunggu pertolongan. Setelah Yurizal meninggal, permintaan maaf bermunculan. Whidiyarini Pangestika mengakui komentarnya tidak profesional dan menambah beban emosional keluarga almarhum. Maaf tentu penting. Tetapi ada maaf dah terlambat. Kemarahan publik pun meledak. Komisi IX DPR RI mendesak Kementerian Kesehatan menginvestigasi dugaan diskriminasi terhadap pasien BPJS. RSUD IA Moeis Samarinda menonaktifkan dr. Renanda dari pelayanan medis. RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya memproses oknum NZ. RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM membentuk tim untuk memeriksa residen ERP yang disebut terlibat. Kemenkes mengecam perilaku tersebut dan mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial. BPJS Kesehatan menegaskan peserta aktif berhak memperoleh pelayanan setara tanpa diskriminasi. Ombudsman juga menyoroti potensi maladministrasi. Semua bergerak. Sayangnya, semuanya bergerak setelah Yurizal pergi. Inilah ironi paling pahit. Yurizal tidak menyebut rumah sakit karena takut diskriminasi akibat BPJS. Namun diskriminasi justru datang melalui orang-orang seharusnya menjadi bagian dari sistem penyembuhan. BPJS bukan kartu kelas dua. Pasien bukan karung tinju. Kemiskinan bukan dosa. Profesi kesehatan bukan lisensi untuk kehilangan empati. Dokter dan nakes memang manusia. Bisa lelah, stres, jenuh, bahkan marah. Tetapi pasien juga manusia. Mereka datang bukan untuk dihina, melainkan untuk ditolong. Kasus Yurizal harus menjadi tamparan keras. Pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan obat, infus, kamar, dan alat canggih. Ia membutuhkan sesuatu yang tidak dijual di apotek, kemanusiaan. Kita tidak bisa mengembalikan Yurizal. Tetapi kita bisa memastikan keluhannya tidak mati bersamanya. Sebab suatu hari nanti, semua manusia akan mendapat nomor antrean yang sama. Namanya kematian. Semoga ketika giliran kita tiba, di samping kita masih ada manusia. Bukan monster yang memegang keyboard. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
Maaf agak telat bahas tenaga kesehatan (nakes) paling kurang ajar di dunia. Pasien sudah mau sakratul maut, nulis pesan terakhir, lalu dibalas nakes dengan kalimat, potong aja nadinya. Beberapa hari kemudian, nyawa melayang. Spesies nakes langka hanya ada di negeri ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Ada dua jenis orang menghadapi kematian. Yang takut mati dan yang malah sibuk mengetik komentar sambil menertawakan orang yang sedang berjuang hidup. Yurizal Tri Chaerawan mungkin termasuk pertama. Pada 22 Juli 2026, ia menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs.” Delapan jam, wak! Kalau menunggu gorengan mungkin sebentar. Kalau tubuh sedang sakit, delapan jam bisa terasa seperti delapan tahun. Yurizal takut menyebut nama rumah sakit karena khawatir didiskriminasi gara-gara memakai BPJS. Ironisnya, yang datang bukan pertolongan, melainkan komentar yang membuat akal sehat ingin resign. Ada menyuruhnya masuk ruang jenazah agar cepat mendapat kamar. Akun @widhiyarini bahkan menulis, “Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan.” Potong nadi! Ini rumah sakit atau audisi film horor? Dokter RSUD IA Moeis Samarinda, dr. Renanda Maulidya Fadyla, menulis, “bacot nih pasien.” Tenaga kesehatan berinisial NZ dari RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya menghina Yurizal dengan menyebutnya miskin harta, miskin akal, tetapi ingin diistimewakan. Akun @erudarahaadini ikut menyindir kemampuan berpikir Yurizal. Pasien sedang berjuang hidup, malah disambut seperti sedang mengganggu jam istirahat kerajaan. Sahabat Yurizal, Firhan Arief, kemudian mengungkap, Yurizal menangis setelah membaca komentar-komentar tersebut. Ia sudah sakit secara fisik. Kini hatinya ikut dihantam. Pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia. Apakah komentar-komentar itu menyebabkan kematiannya? Jangan asal menyimpulkan. Penyebab medis harus dibuktikan secara medis. Namun satu hal jelas, komentar seperti itu sungguh kejam. Boleh masuk kategori, biadab. Apalagi diarahkan kepada orang yang sedang sakit dan menunggu pertolongan. Setelah Yurizal meninggal, permintaan maaf bermunculan. Whidiyarini Pangestika mengakui komentarnya tidak profesional dan menambah beban emosional keluarga almarhum. Maaf tentu penting. Tetapi ada maaf dah terlambat. Kemarahan publik pun meledak. Komisi IX DPR RI mendesak Kementerian Kesehatan menginvestigasi dugaan diskriminasi terhadap pasien BPJS. RSUD IA Moeis Samarinda menonaktifkan dr. Renanda dari pelayanan medis. RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya memproses oknum NZ. RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM membentuk tim untuk memeriksa residen ERP yang disebut terlibat. Kemenkes mengecam perilaku tersebut dan mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial. BPJS Kesehatan menegaskan peserta aktif berhak memperoleh pelayanan setara tanpa diskriminasi. Ombudsman juga menyoroti potensi maladministrasi. Semua bergerak. Sayangnya, semuanya bergerak setelah Yurizal pergi. Inilah ironi paling pahit. Yurizal tidak menyebut rumah sakit karena takut diskriminasi akibat BPJS. Namun diskriminasi justru datang melalui orang-orang seharusnya menjadi bagian dari sistem penyembuhan. BPJS bukan kartu kelas dua. Pasien bukan karung tinju. Kemiskinan bukan dosa. Profesi kesehatan bukan lisensi untuk kehilangan empati. Dokter dan nakes memang manusia. Bisa lelah, stres, jenuh, bahkan marah. Tetapi pasien juga manusia. Mereka datang bukan untuk dihina, melainkan untuk ditolong. Kasus Yurizal harus menjadi tamparan keras. Pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan obat, infus, kamar, dan alat canggih. Ia membutuhkan sesuatu yang tidak dijual di apotek, kemanusiaan. Kita tidak bisa mengembalikan Yurizal. Tetapi kita bisa memastikan keluhannya tidak mati bersamanya. Sebab suatu hari nanti, semua manusia akan mendapat nomor antrean yang sama. Namanya kematian. Semoga ketika giliran kita tiba, di samping kita masih ada manusia. Bukan monster yang memegang keyboard. Foto Ai hanya ilustrasi Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM

About