@xkfj_kejgxj: #britishaccent #british#Uk #england #britishboy

🪽🥥🪽
🪽🥥🪽
Open In TikTok:
Region: CH
Wednesday 22 July 2026 19:34:25 GMT
71266
17330
131
1361

Music

Download

Comments

xalinty
Benji :
im british but none of my friends are 😭😭
2026-08-01 07:12:59
2
xrttes
xrttes :
I need British or American friends so I can practice the language
2026-08-01 00:51:32
8
liel_engel
Liel Engel :
I learn in 2020 how to do British accent and it stick to me till this day. so grateful🙏🏻😘💕
2026-07-31 22:33:54
0
kyzceo
ky :
need british friends
2026-07-31 07:43:51
155
issy_602
🍂 𝐈𝐬𝐬𝐲 🍂 :
I love this trend as a Brit bc it makes me feel so special 😭
2026-08-01 07:50:33
7
sadohise
. :
if only I knew British friends 😭💔
2026-08-01 07:04:59
4
hollie_.cs
𝕳𝖔𝖑𝖑𝖎𝖊 :
no it's annoying talking to people for the first time and always hearing 'oh my godddd are you britishhhhh'
2026-07-31 02:36:45
9
xtslex
𝓵𝓮𝔁 ꨄ :
First time being an aesthetic don’t know how to feel
2026-07-22 19:36:12
36
secretacc..422
𝑹𝒊𝒍𝒆𝒚 + 𝑯𝒂𝒓𝒑𝒔 ♡ :
I wanna be British so bad
2026-07-29 18:44:53
19
user17427543196158
jack :
I’m from greater Manchester
2026-07-23 19:54:39
8
chaytii_0x
†ꨄ🍁 :
I'm half British but I don't have a British cuz I live in Germany 😭
2026-07-27 10:34:59
7
manxcharvtok
lukebennett170 2.0 :
Which one tho? There’s 60+
2026-07-28 13:46:22
7
taraji19475
￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ ￴ :
I need a British mutual
2026-07-31 19:06:34
1
cestzoyaa
⋆zoyaˎˊ˗ :
need british friends fr
2026-07-31 13:08:40
5
kyrzkii_
kyy :
wo'ahh
2026-07-31 05:33:50
3
l_emw_10
lydia 😝 :
HAH I have one
2026-07-27 20:33:15
4
ashh3068
ashh :
I wish I had British accent 😭. Anyone to teach me???
2026-07-31 23:28:31
0
To see more videos from user @xkfj_kejgxj, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV ; #jeongbby [oneshot] Sore itu ruang latihan udah hampir kosong. Lampu neon masih nyala terang, tapi suasananya beda — lebih sepi, lebih tenang. Cuma suara AC yang berdengung halus sama pantulan bayangan mereka di cermin besar. Jeongwoo duduk selonjoran di lantai, punggungnya nyandar ke kaca. Kaosnya agak basah karena keringat, rambutnya sedikit jatuh ke dahi. Nafasnya masih berat habis latihan koreo yang lumayan nguras tenaga. Doyoung jalan pelan ke arahnya, bawa dua botol air. Dia duduk di sebelah Jeongwoo tanpa banyak suara, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. “Capek?” tanyanya lembut sambil nyodorin air. Jeongwoo nerima botolnya, terus nyengir lebar. “Kalau kamu yang nanya, jadi nggak capek.” Doyoung geleng kecil. “Kamu tuh… selalu aja.” “Tapi bener.” Jeongwoo nengok, matanya berbinar meski masih ngos-ngosan. “Kalau kamu ada, rasanya latihan seberat apa pun jadi ringan.” Doyoung nggak langsung jawab. Dia cuma senyum tipis, tapi senyum itu lama. Terlalu lama sampai Jeongwoo sadar dan jadi salah tingkah sendiri. Sunyi turun pelan di antara mereka. Cermin di depan memantulkan dua sosok yang duduk berdekatan — lutut hampir bersentuhan. Jeongwoo mainin tutup botolnya, sementara Doyoung diam-diam ngeliatin profil wajahnya. Hidungnya, garis rahangnya, bibirnya yang masih agak merah karena kebiasaan digigit waktu fokus latihan. “Hyung…” suara Jeongwoo lebih pelan dari biasanya. “Hm?” Jeongwoo ragu sebentar. Lalu dia beraniin diri natap Doyoung lurus-lurus. “Kamu tau nggak sih kalau kamu itu bikin deg-degan?” Doyoung kedip pelan, kaget tapi berusaha tenang. “Jeongwoo…” “Serius.” Kali ini nadanya nggak bercanda. “Kalau kamu deket gini… rasanya aneh. Kayak… jantungku nggak ngerti harus santai atau lari maraton.” Doyoung ketawa kecil, tapi tawanya tipis. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya — jadi lebih dalam. Dia angkat tangan, ragu sesaat sebelum menyibakkan sedikit rambut Jeongwoo yang nempel di dahi karena keringat. Sentuhannya pelan banget, hampir nggak kerasa. Jeongwoo langsung diem. Biasanya dia bakal komentar, bakal bercanda. Tapi sekarang nggak. Dia cuma ngeliatin Doyoung, napasnya pelan tapi terasa berat. Jarak mereka makin dekat tanpa sadar. Bahu bersentuhan. Napas mulai terasa hangat di wajah masing-masing. “Kalau kamu nggak mau, bilang ya,” bisik Doyoung, suaranya rendah dan hati-hati. Jeongwoo nggak jawab pakai kata-kata. Dia cuma senyum kecil. Senyum yang beda dari biasanya — nggak berisik, nggak lebay. Tulus. Dan itu cukup. Doyoung condong sedikit. Tangannya naik, pelan nahan pipi Jeongwoo. Hangat. Lembut. Seolah dia takut kalau terlalu cepat, momen ini bakal pecah. Jeongwoo merem setengah, jantungnya kayak mau lompat. Dan bibir mereka ketemu. Bukan yang tergesa. Bukan yang dalam. Cuma kecupan ringan yang terasa lebih lama dari hitungan detik sebenarnya. Seolah waktu di ruang latihan itu berhenti cuma buat mereka berdua. Begitu menjauh, Jeongwoo langsung buka mata lebar-lebar. Pipinya merah banget. Dia nutup muka pakai kedua tangan. “YA AMPUN HYUNG!” Doyoung ketawa kecil, kali ini lebih jelas. “Tadi katanya nggak capek?” “Itu sebelum kamu bikin jantungku mau copot!” Jeongwoo protes, suaranya campur malu dan panik. “Aku latihan dance aja nggak segini deg-degannya!” Doyoung cuma senyum, terus dengan pelan narik pergelangan tangan Jeongwoo biar nggak nutup muka lagi. Wajah Jeongwoo masih merah. Matanya nggak berani lama-lama ketemu tatapan Doyoung. “Lucu banget,” gumam Doyoung. “Hyung!” Jeongwoo makin salting. Tapi waktu Doyoung narik dia lebih dekat dan meluknya pelan, Jeongwoo nggak nolak. Pelukan itu hangat. Nggak ketat, cuma cukup buat bikin rasa deg-degan tadi berubah jadi nyaman. “Kalau deg-degan, sini aja,” bisik Doyoung di dekat telinganya. Jeongwoo diam beberapa detik. Lalu pelan-pelan dia nyender lebih dalam ke dada Doyoung, tangannya narik sedikit ujung baju hyungnya. “Kalau kamu terus kayak gini…” gumamnya pelan. “Kenapa?” “Aku bisa kecanduan.” #alternativeuniverse #parkjeongwoo #kimdoyoung #treasure
POV ; #jeongbby [oneshot] Sore itu ruang latihan udah hampir kosong. Lampu neon masih nyala terang, tapi suasananya beda — lebih sepi, lebih tenang. Cuma suara AC yang berdengung halus sama pantulan bayangan mereka di cermin besar. Jeongwoo duduk selonjoran di lantai, punggungnya nyandar ke kaca. Kaosnya agak basah karena keringat, rambutnya sedikit jatuh ke dahi. Nafasnya masih berat habis latihan koreo yang lumayan nguras tenaga. Doyoung jalan pelan ke arahnya, bawa dua botol air. Dia duduk di sebelah Jeongwoo tanpa banyak suara, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. “Capek?” tanyanya lembut sambil nyodorin air. Jeongwoo nerima botolnya, terus nyengir lebar. “Kalau kamu yang nanya, jadi nggak capek.” Doyoung geleng kecil. “Kamu tuh… selalu aja.” “Tapi bener.” Jeongwoo nengok, matanya berbinar meski masih ngos-ngosan. “Kalau kamu ada, rasanya latihan seberat apa pun jadi ringan.” Doyoung nggak langsung jawab. Dia cuma senyum tipis, tapi senyum itu lama. Terlalu lama sampai Jeongwoo sadar dan jadi salah tingkah sendiri. Sunyi turun pelan di antara mereka. Cermin di depan memantulkan dua sosok yang duduk berdekatan — lutut hampir bersentuhan. Jeongwoo mainin tutup botolnya, sementara Doyoung diam-diam ngeliatin profil wajahnya. Hidungnya, garis rahangnya, bibirnya yang masih agak merah karena kebiasaan digigit waktu fokus latihan. “Hyung…” suara Jeongwoo lebih pelan dari biasanya. “Hm?” Jeongwoo ragu sebentar. Lalu dia beraniin diri natap Doyoung lurus-lurus. “Kamu tau nggak sih kalau kamu itu bikin deg-degan?” Doyoung kedip pelan, kaget tapi berusaha tenang. “Jeongwoo…” “Serius.” Kali ini nadanya nggak bercanda. “Kalau kamu deket gini… rasanya aneh. Kayak… jantungku nggak ngerti harus santai atau lari maraton.” Doyoung ketawa kecil, tapi tawanya tipis. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya — jadi lebih dalam. Dia angkat tangan, ragu sesaat sebelum menyibakkan sedikit rambut Jeongwoo yang nempel di dahi karena keringat. Sentuhannya pelan banget, hampir nggak kerasa. Jeongwoo langsung diem. Biasanya dia bakal komentar, bakal bercanda. Tapi sekarang nggak. Dia cuma ngeliatin Doyoung, napasnya pelan tapi terasa berat. Jarak mereka makin dekat tanpa sadar. Bahu bersentuhan. Napas mulai terasa hangat di wajah masing-masing. “Kalau kamu nggak mau, bilang ya,” bisik Doyoung, suaranya rendah dan hati-hati. Jeongwoo nggak jawab pakai kata-kata. Dia cuma senyum kecil. Senyum yang beda dari biasanya — nggak berisik, nggak lebay. Tulus. Dan itu cukup. Doyoung condong sedikit. Tangannya naik, pelan nahan pipi Jeongwoo. Hangat. Lembut. Seolah dia takut kalau terlalu cepat, momen ini bakal pecah. Jeongwoo merem setengah, jantungnya kayak mau lompat. Dan bibir mereka ketemu. Bukan yang tergesa. Bukan yang dalam. Cuma kecupan ringan yang terasa lebih lama dari hitungan detik sebenarnya. Seolah waktu di ruang latihan itu berhenti cuma buat mereka berdua. Begitu menjauh, Jeongwoo langsung buka mata lebar-lebar. Pipinya merah banget. Dia nutup muka pakai kedua tangan. “YA AMPUN HYUNG!” Doyoung ketawa kecil, kali ini lebih jelas. “Tadi katanya nggak capek?” “Itu sebelum kamu bikin jantungku mau copot!” Jeongwoo protes, suaranya campur malu dan panik. “Aku latihan dance aja nggak segini deg-degannya!” Doyoung cuma senyum, terus dengan pelan narik pergelangan tangan Jeongwoo biar nggak nutup muka lagi. Wajah Jeongwoo masih merah. Matanya nggak berani lama-lama ketemu tatapan Doyoung. “Lucu banget,” gumam Doyoung. “Hyung!” Jeongwoo makin salting. Tapi waktu Doyoung narik dia lebih dekat dan meluknya pelan, Jeongwoo nggak nolak. Pelukan itu hangat. Nggak ketat, cuma cukup buat bikin rasa deg-degan tadi berubah jadi nyaman. “Kalau deg-degan, sini aja,” bisik Doyoung di dekat telinganya. Jeongwoo diam beberapa detik. Lalu pelan-pelan dia nyender lebih dalam ke dada Doyoung, tangannya narik sedikit ujung baju hyungnya. “Kalau kamu terus kayak gini…” gumamnya pelan. “Kenapa?” “Aku bisa kecanduan.” #alternativeuniverse #parkjeongwoo #kimdoyoung #treasure

About