@maskyungso0: "Aku dengar kamu ngobrol lama sama pria baru di rumah nomor 17. Akrab banget katanya." Rania yang sedang menyiapkan makan malam langsung menghentikan tangannya. Dia menatap Fajar dengan bingung. "Kita cuma ngobrol sebentar. Dia tetangga baru. Namanya Rangga. Memangnya kenapa?" "Sampai tertawa? Sampai dikasih nasihat? Apa yang kalian bicarakan?" Rania menarik napas panjang. "Kita bicara soal tekanan keuangan, Fajar. Sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu tanyakan." Fajar tersenyum sinis. "Oh, jadi sekarang kamu lebih nyaman cerita sama orang lain daripada sama suamimu?" Kalimat itu langsung menusuk hati Rania. Bukan karena tuduhannya, tetapi karena lagi-lagi Fajar memilih percaya gosip dibanding bertanya padanya. "Apa maksudmu?" "Kamu belakangan ini berubah. Dingin. Jauh. Jangan-jangan sekarang kamu lebih suka mencari perhatian orang lain." Semua beban yang selama ini dipendam Rania akhirnya meledak. "Aku yang mencari perhatian?" suaranya bergetar menahan emosi. "Aku yang setiap hari dipaksa memikirkan semua tagihan? Aku yang harus menanggung masalah yang bukan tanggung jawabku? Aku yang terus disalahkan, sekarang masih dituduh hanya karena mengobrol dengan tetangga?" Fajar terpaku. Selama ini Rania selalu diam. Baru kali ini istrinya melawan sekeras itu. Rania tidak berhenti. "Daripada sibuk mendengar gosip orang, lebih baik pikirkan semua utang keluargamu yang selama ini ikut kutanggung. Cicilan mobil ibumu, utang souvenir, uang muka venue, gaun mahal. Semua itu tidak datang begitu saja. Aku yang bekerja keras untuk menutupinya. Tapi yang kamu persoalkan justru obrolanku dengan tetangga." Fajar mencoba menjelaskan. "Aku cuma khawatir..." "Khawatir?" potong Rania. "Kalau benar khawatir, kamu akan bertanya kenapa aku sampai harus bercerita kepada orang lain. Kamu akan mencari tahu apa yang sedang kupikul. Bukan langsung menuduh." Suasana rumah mendadak sunyi. Fajar kehilangan kata-kata. Rania menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Selama ini aku terus berharap kamu berubah. Aku menunggu kamu menjadi suami yang melindungiku, bukan ikut menambah bebanku. Tapi ternyata harapan itu sia-sia." Tanpa berkata apa-apa lagi, Rania berjalan menuju kamar tamu lalu mengunci pintunya. Dari balik pintu terdengar suara Fajar. "Aku cuma ingin keluarga kita baik-baik saja, Rania." Rania menjawab dengan suara datar. "Keluargamu memang baik-baik saja karena selama ini aku yang menanggung semuanya. Tapi keluarga kita... rasanya sudah hampir tidak ada." Malam itu mereka kembali tidur di kamar yang berbeda. Untuk pertama kalinya, Rania tidak menangis. Dia membuka aplikasi catatan di ponselnya, lalu mengetik sebuah judul. Operasi Pembebasan. Rania sudah selesai berharap. Kini saatnya menyusun langkah. Dan dari obrolan singkatnya dengan Rangga sore tadi, dia akhirnya menyadari satu hal penting... Bahwa mengatakan "tidak" bukanlah sebuah kesalahan. Itu adalah hak. Besok, dia akan mulai belajar menggunakan hak itu. Bersambung... Baca kisah lengkapnya di KBM App. Judul : Selera Terhalang Salary Penulis : Lian Niskala #ceritafiksi #ceritacinta #ceritaviral
Mas Kyung Soo
Region: ID
Friday 24 July 2026 05:36:10 GMT
Music
Download
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @maskyungso0, please go to the Tikwm
homepage.