@mahiletzerihun4: #ገብርኤል🙏🙏

mahi🌸
mahi🌸
Open In TikTok:
Region: ET
Sunday 26 July 2026 09:26:09 GMT
1511
372
8
5

Music

Download

Comments

netsanetbishaw
nesti🦋🐝 :
የአመት ሰው ይበለን አሜን 🙏🙏🙏
2026-07-26 16:29:05
0
tsionawit2130
ፅዮን :
ገብርኤል አባቴ🙏🙏🙏
2026-07-26 14:47:53
0
meski454
@fikre fikr :
🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰
2026-07-26 11:42:11
1
simu1426
semu❤😘😘 :
❤️❤️❤️
2026-07-26 10:56:18
1
yabsira.melese0
✝️𝗬𝗲𝗮𝗯 የተክልዬ ✝️ :
🙏🙏🙏
2026-07-26 14:29:28
1
mengesha.moges2
መንገ ማን 🫶🫶🫶 :
🥰🥰🥰
2026-07-26 16:30:29
1
To see more videos from user @mahiletzerihun4, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Coba bayangin ini sebentar… Ada lebih dari 2 juta manusia berkumpul di Mina, lalu semuanya harus melempar batu ke satu titik yang sama… dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan anehnya, tempat ini sekarang justru jadi salah satu sistem pengendalian massa paling canggih di dunia. Inilah Jamarat. Dulu, lokasi lempar jumrah ini sangat sederhana. Hanya berupa pilar kecil di tengah lembah. Tapi ketika jumlah jemaah terus meningkat, para insinyur sadar satu hal: Masalah terbesar di sini bukan cuaca panas… melainkan pergerakan manusia itu sendiri. Karena saat kerumunan terlalu padat, manusia nggak lagi bergerak sebagai individu. Massa mulai bergerak seperti aliran cairan. Makanya desain Jamarat modern dibuat berdasarkan simulasi ilmiah. Para insinyur memakai teknologi bernama agent-based modeling. Jadi jutaan manusia virtual disimulasikan di komputer untuk mencari titik macet dan pola tabrakan arus. Dari situ lahirlah desain baru berbentuk dinding elips sepanjang 26 meter. Kenapa elips? Karena bentuk ini membuat jemaah terus bergerak lurus. Datang, lempar batu, lalu langsung keluar tanpa perlu putar balik. Area keluarnya juga dibuat 3 kali lebih lebar daripada pintu masuk agar arus manusia langsung menyebar. Sekarang Jamarat punya beberapa lantai besar dengan jalur masuk dan keluar yang dipisah total. Tapi ada fakta menarik yang jarang diketahui. Walaupun bangunannya modern, para ulama memberi syarat khusus: Setiap kerikil yang dilempar tetap harus jatuh ke tanah historis asli di bawah. Karena itu dibuat corong raksasa di dalam struktur Jamarat yang mengalirkan semua batu langsung ke basement. Dan di bawah sana… ada sistem otomatis yang bekerja tanpa henti. Kerikil dikumpulkan, disaring, dibersihkan, lalu diproses ulang secara otomatis. Bahkan sekarang pengelolaan Jamarat dibantu AI dan drone yang memantau kepadatan manusia secara real-time. Dari sebuah pilar kecil di tengah gurun… Jamarat berubah menjadi perpaduan unik antara ritual kuno, sains modern, dan teknologi masa depan.”
“Coba bayangin ini sebentar… Ada lebih dari 2 juta manusia berkumpul di Mina, lalu semuanya harus melempar batu ke satu titik yang sama… dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan anehnya, tempat ini sekarang justru jadi salah satu sistem pengendalian massa paling canggih di dunia. Inilah Jamarat. Dulu, lokasi lempar jumrah ini sangat sederhana. Hanya berupa pilar kecil di tengah lembah. Tapi ketika jumlah jemaah terus meningkat, para insinyur sadar satu hal: Masalah terbesar di sini bukan cuaca panas… melainkan pergerakan manusia itu sendiri. Karena saat kerumunan terlalu padat, manusia nggak lagi bergerak sebagai individu. Massa mulai bergerak seperti aliran cairan. Makanya desain Jamarat modern dibuat berdasarkan simulasi ilmiah. Para insinyur memakai teknologi bernama agent-based modeling. Jadi jutaan manusia virtual disimulasikan di komputer untuk mencari titik macet dan pola tabrakan arus. Dari situ lahirlah desain baru berbentuk dinding elips sepanjang 26 meter. Kenapa elips? Karena bentuk ini membuat jemaah terus bergerak lurus. Datang, lempar batu, lalu langsung keluar tanpa perlu putar balik. Area keluarnya juga dibuat 3 kali lebih lebar daripada pintu masuk agar arus manusia langsung menyebar. Sekarang Jamarat punya beberapa lantai besar dengan jalur masuk dan keluar yang dipisah total. Tapi ada fakta menarik yang jarang diketahui. Walaupun bangunannya modern, para ulama memberi syarat khusus: Setiap kerikil yang dilempar tetap harus jatuh ke tanah historis asli di bawah. Karena itu dibuat corong raksasa di dalam struktur Jamarat yang mengalirkan semua batu langsung ke basement. Dan di bawah sana… ada sistem otomatis yang bekerja tanpa henti. Kerikil dikumpulkan, disaring, dibersihkan, lalu diproses ulang secara otomatis. Bahkan sekarang pengelolaan Jamarat dibantu AI dan drone yang memantau kepadatan manusia secara real-time. Dari sebuah pilar kecil di tengah gurun… Jamarat berubah menjadi perpaduan unik antara ritual kuno, sains modern, dan teknologi masa depan.”

About