@.the_crime: Am Ende muss ich trotzdem reden #trending #xyzbcafypシ #deutschland #fürdich #schule

ᥫ᭡
ᥫ᭡
Open In TikTok:
Region: DE
Monday 27 July 2026 19:40:59 GMT
1257134
253256
1528
47497

Music

Download

Comments

ilyas.ekn
Ilyas 🇹🇷 :
Redddeeeeee
2026-07-30 20:03:41
0
_m0nk1_x
V ¹⁶ ⁷ :
Bring me back
2026-07-30 15:35:55
0
ich11120
𝐒’🪭 :
,,wir beide reden okay?,,
2026-07-28 07:30:14
948
srhh_tkd
🪐’ساره :
Musste mal reden und hab gesagt“hallo für die störung“😭
2026-07-28 23:43:29
237
fbharchive
FBHApepega ིᖭ༏ᖫྀ :
is it better to knock or to die
2026-07-29 16:23:00
152
damjan.srb4
damjan.t🇷🇸 :
Ich sage ,,hallo wir brauchen ,, und du sagst ,,kreide für unsere Tafel bitte,,
2026-07-28 10:57:10
144
1904nils
Nils 04💙🤍 :
Hab geklopft Bro ist weg gerannt
2026-07-29 16:55:45
137
sarasiray72
🥭 :
„Lass beide reden”
2026-07-29 15:08:56
164
hallo_100611
𝓙𝓤𝓝𝓔 :
und am Ende hab ich geklopft und geredet
2026-07-29 20:58:17
167
ella.xoxo46
✨❤️Ella❤️✨ :
„Oh sorry falsche Tür“
2026-07-29 19:58:01
21
imaamusic
ImaaMusic :
der Blick wenn man dann jemand aus der Klasse kannte und man sich dann so angeschaut hat während die andere Person den Lehrer gefragt hat 😂
2026-07-30 00:44:55
5
brita_water
BRITA :
einfach peak zeit
2026-07-29 19:06:23
56
emma25122010marie
Emma :
Musste immer reden 💔
2026-07-28 00:11:57
110
privatkrd
privatkrd :
Ehm haben sie noch nh Stück kreide für mich Frau otte hat. Mich geschickt
2026-07-30 09:03:06
5
To see more videos from user @.the_crime, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pekerja Bangunan di Kudus Ternyata Penulis 100 Kitab Ulama! Namanya Tak Ingin Dikenal, Karyanya sudah diterbitkan sampai ke Mesir. Di jaman yang semua berlomba pamer prestasi dan mengejar sorotan, ada sosok luar biasa dari desa di Kudus yang memilih jalan sunyi.   Namanya Supriyanto, atau lebih dikenal sebagai Mbah Riyan. (Nama keilmuan: Ibnu Harjo Al Jawi)   Beliau lulusan LIPIA Jakarta tahun 2013. Sejak mahasiswa, ketelitiannya dalam tahqiq kitab—meneliti, memverifikasi keaslian, dan meluruskan naskah warisan ulama—sudah dipuji para dosen. Ilmunya tinggi, tapi hatinya tak pernah tergiur jabatan atau popularitas.   Selepas kuliah, beliau mengabdi mengajar dan mengelola perpustakaan pesantren di Sukabumi. Malam-malam dihabiskan di antara ribuan kitab lama, merapikan naskah yang sudah lusuh, membandingkan berbagai salinan, dan meluruskan bagian yang keliru tersalin.   Hasil kerja kerasnya? Lebih dari seratus kitab berhasil beliau selesaikan. Sebagian besar adalah karya ulama Nusantara yang hampir hilang ditelan zaman, bahkan ada yang sudah diterbitkan hingga ke Mesir dan negara lain.   Beberapa Kitab Hasil Tahqiq Beliau:   ✅ Is’af Al-Mutholi’ – Karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawy ✅ Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat – Karya Syaikh Abul Hasan Al-Bakri Al-Syafi’iy ✅ Al-Taufiq Al-Jaliy – Karya Syaikh Abdul Ghoni Al-Nabulisy (terbit di Mesir) ✅ Fathul Majid Fi Bayan Al-Taqlid – Karya Syaikh Ahmad Dahlan Al-Pacitaniy ✅ Dan puluhan karya ulama besar lainnya   Tujuannya cuma satu: menjaga agar warisan ilmu para leluhur tetap utuh dan bisa dipelajari dengan benar oleh generasi mendatang.   Namun saat pulang ke Kudus, tak ada yang tahu siapa beliau sebenarnya. Warga lebih mengenalnya sebagai pekerja serabutan, bahkan kuli bangunan yang sehari-hari mengangkat batu dan mengaduk semen.   Beliau sangat menjaga kesederhanaan, tak ingin dipuji, dan berprinsip:
Pekerja Bangunan di Kudus Ternyata Penulis 100 Kitab Ulama! Namanya Tak Ingin Dikenal, Karyanya sudah diterbitkan sampai ke Mesir. Di jaman yang semua berlomba pamer prestasi dan mengejar sorotan, ada sosok luar biasa dari desa di Kudus yang memilih jalan sunyi. Namanya Supriyanto, atau lebih dikenal sebagai Mbah Riyan. (Nama keilmuan: Ibnu Harjo Al Jawi) Beliau lulusan LIPIA Jakarta tahun 2013. Sejak mahasiswa, ketelitiannya dalam tahqiq kitab—meneliti, memverifikasi keaslian, dan meluruskan naskah warisan ulama—sudah dipuji para dosen. Ilmunya tinggi, tapi hatinya tak pernah tergiur jabatan atau popularitas. Selepas kuliah, beliau mengabdi mengajar dan mengelola perpustakaan pesantren di Sukabumi. Malam-malam dihabiskan di antara ribuan kitab lama, merapikan naskah yang sudah lusuh, membandingkan berbagai salinan, dan meluruskan bagian yang keliru tersalin. Hasil kerja kerasnya? Lebih dari seratus kitab berhasil beliau selesaikan. Sebagian besar adalah karya ulama Nusantara yang hampir hilang ditelan zaman, bahkan ada yang sudah diterbitkan hingga ke Mesir dan negara lain. Beberapa Kitab Hasil Tahqiq Beliau: ✅ Is’af Al-Mutholi’ – Karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawy ✅ Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat – Karya Syaikh Abul Hasan Al-Bakri Al-Syafi’iy ✅ Al-Taufiq Al-Jaliy – Karya Syaikh Abdul Ghoni Al-Nabulisy (terbit di Mesir) ✅ Fathul Majid Fi Bayan Al-Taqlid – Karya Syaikh Ahmad Dahlan Al-Pacitaniy ✅ Dan puluhan karya ulama besar lainnya Tujuannya cuma satu: menjaga agar warisan ilmu para leluhur tetap utuh dan bisa dipelajari dengan benar oleh generasi mendatang. Namun saat pulang ke Kudus, tak ada yang tahu siapa beliau sebenarnya. Warga lebih mengenalnya sebagai pekerja serabutan, bahkan kuli bangunan yang sehari-hari mengangkat batu dan mengaduk semen. Beliau sangat menjaga kesederhanaan, tak ingin dipuji, dan berprinsip: "Biarlah karyanya yang dikenal, bukan namanya." Bahkan saat mendapat penghargaan resmi dari MUI, beliau memilih tak hadir di acara itu. Sosok Mbah Riyan mengingatkan kita: Kemuliaan ilmu tak butuh panggung gemerlap. Kemuliaan sejati ada pada keikhlasan menjaga amanah, meski tak ada yang tahu siapa pelakunya. Mbah Riyan membuktikan: orang yang benar-benar berilmu, justru makin rendah hati. ✅ Jika kamu terharu dengan kesederhanaan beliau. ✅ Jika kamu bangga ada ulama yang rela tak dikenal demi menjaga agama. Bagikan kisah ini, agar menjadi teladan bagi kita semua. Komentar di bawah: Apa yang paling membuatmu kagum dari sosok Mbah Riyan? #mbahriyan #mbahriyankudus #ibnuharjoaljawi #tahqiqturots #tahqiqkitab

About