@temtapp: #🥃

ขนมสติ๊ก🥖
ขนมสติ๊ก🥖
Open In TikTok:
Region: TH
Wednesday 29 July 2026 12:06:39 GMT
325
41
1
0

Music

Download

Comments

octopus0795
Octopus :
❤️❤️❤️
2026-07-29 12:13:28
1
To see more videos from user @temtapp, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Gita, itu atap dapur bocor lagi.” Suara Mbak Nila terdengar dari arah pintu belakang. Aku yang sedang mencuci piring langsung menoleh, jantungku entah kenapa ikut berdegup lebih cepat. Tetesan air hujan benar-benar jatuh satu per satu dari sudut plafon, membentuk genangan kecil di lantai yang baru saja kupel. “Iya, Mbak… nanti aku lap dulu,” jawabku pelan. “Tapi jangan cuma dilap terus, Git. Itu udah lama rusaknya. Suruh suamimu, Gunawan benerin,” tambahnya, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Aku mengangguk, meski Mbak Nila sudah berbalik pergi. Tanganku terasa dingin. Bukan karena air, tapi karena aku tahu… percakapan yang sama akan terulang lagi. ⸻ Malam harinya, aku memberanikan diri. “Mas… itu atap dapur makin parah bocornya. Mbak Nila minta dibenerin,” ucapku hati-hati, sambil menyuguhkan teh hangat di meja. Mas Gunawan yang sedang rebahan sambil memainkan ponselnya hanya melirik sekilas. Wajahnya datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Ya suruh aja tukang.” Aku menarik napas. “Iya… tapi kan Mas bisa lihat dulu. Mungkin cuma perlu ditambal—” Belum sempat aku selesai bicara, dia langsung memotong. “Gita,” katanya singkat, suaranya dingin, “ini bukan rumahku.” Aku terdiam. Kalimat itu lagi. Selalu kalimat itu. Setiap ada yang rusak. Setiap ada tanggung jawab. Selalu saja—ini bukan rumahku. “Mas… tapi kita tinggal di sini,” lirihku, mencoba tetap tenang. “Ya tinggal. Tapi bukan berarti aku harus keluar uang buat benerin semuanya,” jawabnya santai, kembali fokus ke layar ponselnya. Dadaku terasa sesak. Gratis. Kami tinggal di sini tanpa bayar sepeser pun. Mbak Nila bahkan tidak pernah menuntut apa-apa, selain satu hal—merawat rumah ini. Apa itu terlalu berat? Atau… memang suamiku yang terlalu tidak peduli? ⸻ Keesokan paginya, hujan turun lagi. Mbak Nila berdiri di ambang dapur, memandangi semuanya tanpa bicara. Tapi dari cara napasnya yang berat, aku tahu… dia sedang menahan kesal. “Gita,” panggilnya akhirnya. “Iya, Mbak…” “Kamu udah ngomong sama Gunawan?” Aku mengangguk pelan. “Udah…” “Terus?” Aku menelan ludah. Rasanya sulit sekali mengulang kata-kata itu. “Mas bilang… ini bukan rumahnya.” Hening.  “Bukan rumahnya? Terus selama ini dia tinggal di mana? Hotel?” nada suaranya mulai meninggi. Aku tak menjawab. Apa yang bisa kujawab? Bukankah aku juga bertanya hal yang sama dalam hati? Mbak Nila menghela napas panjang, lalu tertawa kecil—tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu. “Git… Mbak itu gak pernah minta kalian bayar sewa. Mbak cuma minta satu hal. Satu.” Ia menatapku lekat. “Rawat rumah ini.” Aku merasa seperti ditampar. “Iya, Mbak… aku tahu…” “Kalau suamimu gak mau bertanggung jawab,” lanjutnya, kini suaranya dingin, “lalu sampai kapan Mbak harus diam?” Aku terdiam. Sampai kapan? Aku sendiri tidak tahu. ⸻ Malam itu, suasana rumah terasa berbeda. Tidak ada suara televisi. Tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Hanya ada diam yang menggantung di setiap sudut. Mas Gunawan tetap seperti biasa—cuek, santai, seolah tidak ada yang salah.  “Mas,” panggilku pelan. “Hmm?” “Kita ini… gak enak sama Mbak Nila.” “Kamu ini kenapa sih? Dari tadi ngomongin itu terus.” “Karena ini penting, Mas…” “Yang penting itu kita punya tempat tinggal. Udah. Gak usah dipikirin ribet,” potongnya cepat. “Kalau Mbak Nila marah gimana?” Mas Gunawan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tapi entah kenapa terasa kosong. “Dia kakakmu. Gak mungkin ngusir.” Deg. Jantungku seperti jatuh. Gak mungkin ngusir? Keyakinan itu… terlalu yakin. Atau justru… terlalu tidak tahu diri? Aku menatap wajah suamiku lama. Mencari sesuatu—rasa, empati, atau setidaknya sedikit kepedulian. Tapi yang kutemukan hanya sikap dingin yang sama. Dan untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang membuatku takut sendiri— Kalau suatu hari Kak Nila benar-benar tidak tahan lagi dan memilih mengusir kami… Apa yang akan dilakukan Mas Gunawan? Dan lebih dari itu… apa aku masih akan tetap diam di sisi suami seperti ini? Lanjut di KBM App Judul : Numpang Tapi Nyolot Penulis : Naimatun_Niqmah
“Gita, itu atap dapur bocor lagi.” Suara Mbak Nila terdengar dari arah pintu belakang. Aku yang sedang mencuci piring langsung menoleh, jantungku entah kenapa ikut berdegup lebih cepat. Tetesan air hujan benar-benar jatuh satu per satu dari sudut plafon, membentuk genangan kecil di lantai yang baru saja kupel. “Iya, Mbak… nanti aku lap dulu,” jawabku pelan. “Tapi jangan cuma dilap terus, Git. Itu udah lama rusaknya. Suruh suamimu, Gunawan benerin,” tambahnya, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Aku mengangguk, meski Mbak Nila sudah berbalik pergi. Tanganku terasa dingin. Bukan karena air, tapi karena aku tahu… percakapan yang sama akan terulang lagi. ⸻ Malam harinya, aku memberanikan diri. “Mas… itu atap dapur makin parah bocornya. Mbak Nila minta dibenerin,” ucapku hati-hati, sambil menyuguhkan teh hangat di meja. Mas Gunawan yang sedang rebahan sambil memainkan ponselnya hanya melirik sekilas. Wajahnya datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Ya suruh aja tukang.” Aku menarik napas. “Iya… tapi kan Mas bisa lihat dulu. Mungkin cuma perlu ditambal—” Belum sempat aku selesai bicara, dia langsung memotong. “Gita,” katanya singkat, suaranya dingin, “ini bukan rumahku.” Aku terdiam. Kalimat itu lagi. Selalu kalimat itu. Setiap ada yang rusak. Setiap ada tanggung jawab. Selalu saja—ini bukan rumahku. “Mas… tapi kita tinggal di sini,” lirihku, mencoba tetap tenang. “Ya tinggal. Tapi bukan berarti aku harus keluar uang buat benerin semuanya,” jawabnya santai, kembali fokus ke layar ponselnya. Dadaku terasa sesak. Gratis. Kami tinggal di sini tanpa bayar sepeser pun. Mbak Nila bahkan tidak pernah menuntut apa-apa, selain satu hal—merawat rumah ini. Apa itu terlalu berat? Atau… memang suamiku yang terlalu tidak peduli? ⸻ Keesokan paginya, hujan turun lagi. Mbak Nila berdiri di ambang dapur, memandangi semuanya tanpa bicara. Tapi dari cara napasnya yang berat, aku tahu… dia sedang menahan kesal. “Gita,” panggilnya akhirnya. “Iya, Mbak…” “Kamu udah ngomong sama Gunawan?” Aku mengangguk pelan. “Udah…” “Terus?” Aku menelan ludah. Rasanya sulit sekali mengulang kata-kata itu. “Mas bilang… ini bukan rumahnya.” Hening. “Bukan rumahnya? Terus selama ini dia tinggal di mana? Hotel?” nada suaranya mulai meninggi. Aku tak menjawab. Apa yang bisa kujawab? Bukankah aku juga bertanya hal yang sama dalam hati? Mbak Nila menghela napas panjang, lalu tertawa kecil—tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu. “Git… Mbak itu gak pernah minta kalian bayar sewa. Mbak cuma minta satu hal. Satu.” Ia menatapku lekat. “Rawat rumah ini.” Aku merasa seperti ditampar. “Iya, Mbak… aku tahu…” “Kalau suamimu gak mau bertanggung jawab,” lanjutnya, kini suaranya dingin, “lalu sampai kapan Mbak harus diam?” Aku terdiam. Sampai kapan? Aku sendiri tidak tahu. ⸻ Malam itu, suasana rumah terasa berbeda. Tidak ada suara televisi. Tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Hanya ada diam yang menggantung di setiap sudut. Mas Gunawan tetap seperti biasa—cuek, santai, seolah tidak ada yang salah. “Mas,” panggilku pelan. “Hmm?” “Kita ini… gak enak sama Mbak Nila.” “Kamu ini kenapa sih? Dari tadi ngomongin itu terus.” “Karena ini penting, Mas…” “Yang penting itu kita punya tempat tinggal. Udah. Gak usah dipikirin ribet,” potongnya cepat. “Kalau Mbak Nila marah gimana?” Mas Gunawan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tapi entah kenapa terasa kosong. “Dia kakakmu. Gak mungkin ngusir.” Deg. Jantungku seperti jatuh. Gak mungkin ngusir? Keyakinan itu… terlalu yakin. Atau justru… terlalu tidak tahu diri? Aku menatap wajah suamiku lama. Mencari sesuatu—rasa, empati, atau setidaknya sedikit kepedulian. Tapi yang kutemukan hanya sikap dingin yang sama. Dan untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang membuatku takut sendiri— Kalau suatu hari Kak Nila benar-benar tidak tahan lagi dan memilih mengusir kami… Apa yang akan dilakukan Mas Gunawan? Dan lebih dari itu… apa aku masih akan tetap diam di sisi suami seperti ini? Lanjut di KBM App Judul : Numpang Tapi Nyolot Penulis : Naimatun_Niqmah

About