hi.jeck :
Maaf sebelumnya. Kalau berbicara soal tunjangan kinerja (tunkin) TNI dan Polri, perlu dipahami bahwa selisihnya hanya sekitar Rp200.000–Rp300.000. Apakah dengan selisih sebesar itu kalian menganggap tunkin TNI sudah sangat besar?
Banyak yang mungkin belum mengetahui kondisi anggota TNI setelah lulus pendidikan. Sebagian besar tidak kembali ke daerah asalnya. Ada yang berasal dari Sumatra tetapi ditempatkan di Papua, dan sebaliknya. Penempatan anggota TNI bisa sampai ke pelosok yang sangat terpencil.
Sementara itu, banyak anggota Polri setelah lulus pendidikan kembali bertugas di daerah asalnya. Memang ada yang ditempatkan di luar daerah, misalnya Brimob, tetapi jumlahnya relatif lebih sedikit dan umumnya masih berada di kota-kota besar.
Tahukah kalian berapa biaya yang harus dikeluarkan seorang anggota TNI hanya untuk pulang cuti? Dalam banyak kasus, biayanya bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah, tergantung lokasi penugasannya. Itu baru biaya perjalanan untuk bertemu keluarga. Sementara anggota yang bertugas dekat dengan daerah asalnya tentu tidak menanggung biaya sebesar itu.
Yang membuat heran, ketika gaji TNI lebih kecil, banyak yang menyebutnya "gaji imut". Namun ketika ada kenaikan tunjangan yang hanya sekitar Rp200.000–Rp300.000, tiba-tiba muncul anggapan bahwa gaji TNI sudah besar. Bukankah itu penilaian yang bertolak belakang?
Jadi, sebelum mengatakan tunkin TNI sudah besar, cobalah lihat juga beban, biaya, dan pengorbanan yang harus dijalani. Apakah selisih sekitar Rp200.000–Rp300.000 benar-benar sebanding dengan biaya perjalanan, penempatan yang jauh dari keluarga, serta tugas di daerah-daerah terpencil yang harus dihadapi banyak anggota TNI?
2026-07-31 03:45:25