@sanjar__sm:

sss’
sss’
Open In TikTok:
Region: FR
Friday 31 July 2026 19:11:25 GMT
75
4
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @sanjar__sm, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

MAAF ITU DATANG... SETELAH PASIEN SUDAH TAK BISA MEMBACANYA Satu per satu permintaan maaf mulai bermunculan. Video diunggah. Surat pernyataan ditulis. Kalimat penyesalan dipublikasikan. Semua mengakui komentar yang pernah mereka tulis tidak pantas, tidak berempati, dan tidak mencerminkan etika profesi tenaga kesehatan. Namun, publik bertanya satu hal yang sederhana. Mengapa empati baru hadir setelah kematian menjadi berita? Yurizal Tri Chaerawan sebelumnya hanya menyampaikan keluhan sebagai seorang pasien. Ia bercerita harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan ruang rawat inap. Sebuah keluhan yang seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi pelayanan. Yang datang justru bukan empati. Sebagian komentar berubah menjadi ejekan. Ada yang merendahkan, ada yang mencibir, bahkan ada yang menjadikan penderitaan seorang pasien sebagai bahan candaan. Menurut sahabatnya, Firhan Arief, Yurizal bahkan sempat menangis setelah membaca ribuan komentar yang menghujaninya. Beberapa hari kemudian, kabar duka itu datang. Perlu ditegaskan, hingga kini belum ada keterangan resmi yang menyatakan bahwa komentar-komentar tersebut menjadi penyebab meninggalnya Yurizal. Hal itu harus tetap dibuktikan melalui fakta dan proses yang berlaku. Namun ada kenyataan lain yang tidak bisa dibantah. Kata-kata yang kehilangan empati telah melukai kepercayaan publik terhadap profesi yang seharusnya menjadi tempat mencari harapan. Kini, dokter, perawat, petugas perekam medis, hingga tenaga kesehatan lainnya mulai menyampaikan permintaan maaf. Sebagian mengaku siap menerima sanksi etik maupun hukum. Sebagian memilih menutup akun atau rehat dari media sosial setelah identitas mereka tersebar luas. Tetapi peristiwa ini seharusnya tidak berhenti pada permintaan maaf. Ini adalah alarm bagi seluruh profesi, bahwa media sosial bukan ruang bebas untuk meninggalkan kemanusiaan. Gelar, sumpah profesi, dan ilmu pengetahuan akan kehilangan maknanya ketika empati ditinggalkan. Seorang pasien datang ke rumah sakit membawa rasa sakit. Jangan biarkan ia juga pulang membawa luka karena kata-kata. Karena pada akhirnya, permintaan maaf memang dapat memperbaiki kesalahan, tetapi tidak selalu dapat menghapus luka yang telah ditinggalkan. #Nakes #Viral
MAAF ITU DATANG... SETELAH PASIEN SUDAH TAK BISA MEMBACANYA Satu per satu permintaan maaf mulai bermunculan. Video diunggah. Surat pernyataan ditulis. Kalimat penyesalan dipublikasikan. Semua mengakui komentar yang pernah mereka tulis tidak pantas, tidak berempati, dan tidak mencerminkan etika profesi tenaga kesehatan. Namun, publik bertanya satu hal yang sederhana. Mengapa empati baru hadir setelah kematian menjadi berita? Yurizal Tri Chaerawan sebelumnya hanya menyampaikan keluhan sebagai seorang pasien. Ia bercerita harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan ruang rawat inap. Sebuah keluhan yang seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi pelayanan. Yang datang justru bukan empati. Sebagian komentar berubah menjadi ejekan. Ada yang merendahkan, ada yang mencibir, bahkan ada yang menjadikan penderitaan seorang pasien sebagai bahan candaan. Menurut sahabatnya, Firhan Arief, Yurizal bahkan sempat menangis setelah membaca ribuan komentar yang menghujaninya. Beberapa hari kemudian, kabar duka itu datang. Perlu ditegaskan, hingga kini belum ada keterangan resmi yang menyatakan bahwa komentar-komentar tersebut menjadi penyebab meninggalnya Yurizal. Hal itu harus tetap dibuktikan melalui fakta dan proses yang berlaku. Namun ada kenyataan lain yang tidak bisa dibantah. Kata-kata yang kehilangan empati telah melukai kepercayaan publik terhadap profesi yang seharusnya menjadi tempat mencari harapan. Kini, dokter, perawat, petugas perekam medis, hingga tenaga kesehatan lainnya mulai menyampaikan permintaan maaf. Sebagian mengaku siap menerima sanksi etik maupun hukum. Sebagian memilih menutup akun atau rehat dari media sosial setelah identitas mereka tersebar luas. Tetapi peristiwa ini seharusnya tidak berhenti pada permintaan maaf. Ini adalah alarm bagi seluruh profesi, bahwa media sosial bukan ruang bebas untuk meninggalkan kemanusiaan. Gelar, sumpah profesi, dan ilmu pengetahuan akan kehilangan maknanya ketika empati ditinggalkan. Seorang pasien datang ke rumah sakit membawa rasa sakit. Jangan biarkan ia juga pulang membawa luka karena kata-kata. Karena pada akhirnya, permintaan maaf memang dapat memperbaiki kesalahan, tetapi tidak selalu dapat menghapus luka yang telah ditinggalkan. #Nakes #Viral

About