Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@tysnva2:
tysnopaa
Open In TikTok:
Region: ID
Wednesday 05 August 2026 15:09:13 GMT
272
21
0
1
Music
Download
No Watermark .mp4 (
0.84MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
0.84MB
)
Watermark .mp4 (
1.82MB
)
Music .mp3
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @tysnva2, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
#CapCut#viral#foryou
#foryou #tag #fyp #viral #beautiful
Suara keras dari gebrakan meja di depanku membuatku tersentak. Kepalaku terangkat dari lengan yang sedari tadi menjadi bantalku. Mata masih berat, penglihatan kabur. Cahaya putih dari jendela membuatku mengerjapkan mata berkali-kali. Lalu aku mendengarnya. Tawa yang sudah lama tidak aku dengar. Tawa yang kukira akan selamanya menjadi kenangan, yang terkubur bersama peti mati dan bunga-bunga di pemakaman. "Na, bangunn woy!" Aku mengangkat kepalaku sepenuhnya. Mataku menyesuaikan diri dengan cahaya, dan di depanku— Mahesa. Mahesa yang masih muda. Mahesa dengan rambut hitam yang sedikit acak-acakan, seragam SMA yang dikenakan dengan santai, dan senyum lebar yang selalu membuat semua orang di sekitarnya merasa hangat. Aku membeku. "Kamu kenapa sih? Kayak baru lihat hantu," ucap Mahesa sambil terkekeh. Matanya yang dulu selalu menatapku dengan penuh cinta, sekarang menatapku dengan bingung bercampur geli. "Udah cepet bangun, jangan bengong gitu. Sebentar lagi Bu Lena masuk. Kamu tahu sendiri kan, guru killer satu itu kalo lihat muridnya bengong?" Aku tidak mendengar sepatah kata pun yang dia ucapkan. Yang aku dengar hanyalah detak jantungku yang berdegup kencang. Wajahnya, wajah yang dulu selalu kubayangkan setiap malam selama bertahun-tahun setelah dia pergi. Air mata itu keluar begitu saja. Mengalir deras di pipiku tanpa aku bisa menghentikannya. Mahesa terkejut. Senyumnya langsung menghilang, digantikan oleh ekspresi panik. "Hei Na, kamu kenapa? Kok nangis? Ada apa? Aku cuma bercanda soal Bu Lena, kamu nggak usah takut—" Aku tidak bisa menjawab. Aku menangis sambil terus memandangi wajahnya. "Mas..." bisikku. Satu kata itu membuat Mahesa terdiam. Tangannya yang hampir terangkat untuk mengusap air mataku berhenti di udara. "Ma... maksud kamu?" Suaranya serak, "Kamu panggil aku... mas?" Aku tak menyadari kesalahanku. Aku masih menganggap semua ini hanyalah mimpi karena rasa rindu yang begitu dalam padanya. "Aruna." Suara lain memotong. Aku menoleh ke arah pintu. Sagara berdiri di sana. Dengan seragam SMA yang rapih dan rambut sedikit basah. Di tangannya, satu botol minuman kaleng, jenis kesukaanku. Masih mengembun karena dingin. "Kak Sagara?" "Kamu kenapa?" Sagara berjalan mendekat, langkahnya cepat. Matanya langsung tertuju pada air mata di wajahku. "Kenapa nangis? Siapa yang bikin kamu nangis?" Dia menoleh ke arah Mahesa. Mahesa mengangkat kedua tangannya dengan cepat. "Gue gak ngapa-ngapain, cuy. Dia tiba-tiba nangis sendiri. Gue juga bingung." Sagara mengerutkan kening. Tapi dia tidak memperdebatkannya. Dia malah berjongkok di samping mejaku, sejajar dengan wajahku, dan menatapku dengan lembut. "Sayang," bisiknya, panggilan yang sudah sangat akrab di telingaku. "Kamu pasti kecapekan. Makanya tadi kamu tidur siang. Ada mimpi buruk?" Aku menggeleng. Aku bahkan masih terus merasa semua ini hanyalah mimpi. Mimpi yang aku takut akan segera berakhir. Sagara mengulurkan botol minum di tangannya. "Minum dulu." "Kak..." "Hmm?" "Bisa tampar aku?" Sagara maupun Mahesa terdiam, mereka saling pandang sebelum akhirnya Sagara terkekeh geli. "Kamu lagi kenapa sih hari ini?" Sagara mencubit pelan pipiku, pelan, tapi semuanya terasa nyata. Sesaat kemudian, aku menampar keras pipiku sendiri. "Aruna?!" Sentak keduanya, membuat beberapa siswa di dalam kelas menoleh serempak. Aku memegang pipiku, sakit. "Hei? Kamu kenapa? Kita ke UKS ya?" Aku menggeleng, air mataku kembali luruh. Mataku menatap kedua pria yang berdiri di hadapanku dengan wajah panik. Dengan napas memburu aku segera beranjak pergi meninggalkan keduanya. Di luar, semua orang melihat ke arahku dengan bingung. Ruangan kelas ini, suasana ini, semuanya percis sama seperti apa yang telah aku lalui dulu. Aku segera berlari cepat menuju toilet. Beberapa siswi segera pergi saat melihat keanehanku, aku mencuci muka dengan gerakan cepat. Cipratan air itu terasa nyata, seragam yang aku kenakan hampir basah dibagian atas. Aku menatap cermin, pantulan diriku yang tampak jauh lebih muda. Diriku di usia SMA. #mingyu #scoups #seventeen #au #fyp
#قروب_ابو_حصه #nvr_86 #اكسبلورexplore
#videoviral #toutlemonde #flypシ #vues
Finesse // #julianalvarez #worldcup2026 #fyp #mograph #aftereffectsedit
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy