@luvvv_jakee_sunoo: pov: part 4 Beberapa bulan setelah lamaran keluarga Pratama... Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pernikahan Ivy Ardhana dan Kai Pratama. --- Mansion keluarga Ardhana dipenuhi keluarga besar, tamu penting, dan rekan bisnis. Ivy yang biasanya selalu terlihat percaya diri dan sulit ditebak... Hari itu terlihat berbeda. Dia mengenakan gaun pernikahan elegan. Wajahnya tetap cantik dan anggun, tetapi ada ketenangan yang jarang kamu lihat sebelumnya. Kamu berdiri di sampingnya sebelum acara dimulai. "Kok diem?" Ivy menatapmu melalui cermin. "Gue cuma mikir." "Mikir apa?" "Siapa sangka." Kamu tersenyum kecil. "Dulu lo yang paling keras nolak perjodohan." Ivy tertawa kecil. "Jangan diingat." "Memalukan." Kamu mengangkat alis. "Kenapa? Bukannya lo bilang nggak mau sama orang yang duduk di kursi roda?" Ivy langsung diam. Kamu sengaja mengingatkannya. Tapi kali ini ekspresinya tidak marah. Dia hanya menunduk. "Gue salah." Kamu sedikit terkejut. Jarang sekali Ivy mengakui kesalahannya. "Kai ngajarin gue sesuatu." "Apa?" "Jangan menilai seseorang cuma dari satu keadaan." Kamu tersenyum tipis. "Akhirnya otak lo bekerja juga." Ivy langsung melotot. "Mulut lo masih sama." Kalian berdua tertawa. --- Pernikahan berjalan sangat indah. Kai berdiri di depan altar dengan gagah. Tidak ada lagi kursi roda. Tidak ada lagi rasa takut. Saat Ivy berjalan menghampirinya, Kai menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan. "Aku janji akan selalu menjaga kamu." Ivy tersenyum. "Aku juga." --- Setelah acara selesai... Keluarga Ardhana dan keluarga Pratama resmi menjadi satu keluarga besar. Ivy dan Kai akhirnya menikah lebih dulu. --- Sementara itu... Kamu dan Heeseung memilih keputusan yang berbeda. Kalian sepakat untuk tidak langsung menikah. Bukan karena tidak cocok. Tapi karena kalian ingin mengenal satu sama lain lebih jauh. Setidaknya... Itulah alasan yang diketahui semua orang. --- Di sebuah restoran, kamu dan Heeseung membicarakan hal itu. "Ayah dan keluarga sudah menanyakan tanggal pernikahan." Heeseung berkata sambil melihat dokumen di tangannya. Kamu mengangguk. "Aku tahu." "Lalu?" Kamu menatapnya. "Menurutku kita jangan terburu-buru." Heeseung diam. "Kita masih belum terlalu mengenal satu sama lain." "Kita hanya menjalani perjodohan." Heeseung tampak berpikir. Lalu mengangguk. "Saya setuju." --- Namun... Heeseung tidak tahu alasan sebenarnya kamu meminta waktu. Bukan hanya karena ingin mengenalnya. Ada alasan lain. Kamu ingin mencari tahu. Kenapa dia berpura-pura lumpuh. --- Dalam pikiranmu: "Gue nggak butuh waktu buat jatuh cinta." "Gue cuma butuh waktu buat membongkar rahasia lo, Lee Heeseung." "Kenapa lo harus berpura-pura?" "Apa yang sebenarnya lo sembunyikan?" --- Hari-hari berikutnya... Kamu mulai lebih sering bertemu Heeseung. Kadang makan siang bersama. Kadang membahas bisnis. Kadang menghadiri acara perusahaan. Di depan semua orang, kamu tetap bersikap seperti calon istri yang ingin mengenal pasangannya. Tidak ada yang curiga. Termasuk Daniel. --- Suatu hari, Daniel melihat kalian dari kejauhan. Heeseung dan kamu sedang berdiskusi tentang bisnis. Daniel tersenyum kecil. "Tuan." Heeseung menoleh. "Apa?" "Nona YN terlihat semakin nyaman bersama Anda." Heeseung diam sebentar. Lalu menjawab, "Dia memang berbeda." Daniel tersenyum. "Berbeda dalam hal apa?" Heeseung melihat ke arahmu. "Dia tidak pernah melihat saya sebagai seseorang yang lemah." --- Sementara itu... Kamu yang sedang berjalan mendekati mereka berpikir dalam hati. "Tunggu saja, Lee Heeseung." "Suatu hari nanti gue bakal tahu semuanya." Tanpa kamu sadari... Semakin lama kamu mencoba membongkar rahasianya... Semakin sulit bagimu untuk tetap melihat Heeseung hanya sebagai sebuah misteri. Karena perlahan... Kamu mulai mengenal sosok asli di balik pria dingin itu. --- lanjutan di komen, klo ga ada di sl. mau link sl? DM aku yaa #heeseung #EVAN #fypシ #4u
⋆˚𝜗jjungwonie`🐈⬛
Region: ID
Friday 07 August 2026 10:54:18 GMT
Music
Download
Comments
सिर्जना गुरुङ्ग :
I couldn't find just 4 plz 😭
2026-08-07 12:23:52
0
Ray_van :
lama bgt nungguinnya kak😭
2026-08-07 10:59:45
1
chicken nuggets 🐓 :
rmpp
2026-08-07 12:05:24
0
sha's :
LANJUT
2026-08-07 11:23:38
0
oel_lake :
LANJUT POKONYA
2026-08-07 12:57:10
0
jjungwoniee2 :
4. Kamu menggeleng pelan.
"Keberatan sih..."
"Lalu?"
"Tapi percuma juga menolak sekarang."
Heeseung mengangguk.
"Itu benar."
Kamu menatap langit sore.
"Lagipula..."
"Kita sudah sama-sama tahu dari awal kalau ini perjodohan."
Heeseung tidak membantah.
---
Suasana kembali hening.
Lalu kamu berkata pelan,
"Heeseung."
"Hm?"
"Kamu pernah menyesal nggak?"
"Menyesal apa?"
"Harus menjalani hidup sesuai keputusan keluarga."
Heeseung terdiam cukup lama.
Tatapannya lurus ke depan.
"Ada hal yang tidak bisa kita pilih."
"Dan ada hal yang bisa kita putuskan setelah menerimanya."
Kamu memandangnya.
Jawaban itu terdengar sederhana.
Tapi entah kenapa...
Kamu merasa ada makna lain di baliknya.
Makna yang mungkin berhubungan dengan rahasia yang masih dia sembunyikan.
---
Malam itu, setelah keluarga Lee pulang...
Kamu berdiri di balkon kamar.
Undangan pernikahan contoh sudah berada di meja.
Gaun pengantin mulai dipilih.
Gedung sudah dipesan.
Semuanya bergerak begitu cepat.
Kamu memegang ponsel sambil menatap langit.
"Dua bulan lagi..."
"Sebelum hari itu tiba..."
"Gue harus tahu."
"Kenapa sebenarnya lo memilih hidup dengan kebohongan itu, Lee Heeseung."
Sementara itu, di mobil yang membawanya pulang...
Heeseung menatap keluar jendela.
Daniel yang duduk di depan berkata pelan,
"Pak."
"Hm?"
"Apakah sudah waktunya mengatakan yang sebenarnya kepada Nona YN?"
Heeseung menutup matanya sejenak.
"Belum."
Dia sama sekali tidak menyadari...
Bahwa orang yang akan menjadi istrinya sudah mengetahui rahasia itu sejak lama.
2026-08-07 11:00:37
7
jayy :
6. "Semoga bukan berarti buruk."
Direktur itu tersenyum.
"Justru sebaliknya."
"Terlihat lebih segar."
"Terima kasih."
---
Sore harinya.
Saat kamu baru keluar dari ruang rapat, ponselmu bergetar.
Heeseung.
Kamu mengangkat telepon.
"Halo?"
"Sedang di kantor?"
"Iya."
"Saya kebetulan ada rapat di gedung sebelah."
"Kemudian?"
"Saya ingin mengembalikan dokumen yang kemarin tertinggal."
Kamu mengangguk meski dia tidak bisa melihatnya.
"Baik."
---
Sekitar dua puluh menit kemudian.
Heeseung tiba di kantor Ardhana Group bersama Daniel.
Seperti biasa...
Di depan umum, dia tetap duduk di kursi roda.
Daniel mendorongnya memasuki lobi.
Begitu pintu lift terbuka...
Tatapan Heeseung langsung menemukanmu yang baru keluar dari ruang kerja.
Kamu berjalan menghampirinya dengan langkah tenang.
Rambut maroonmu memantulkan cahaya lampu lobi.
Heeseung sempat terdiam beberapa detik.
"Kamu..."
Kamu mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Rambutmu."
"Oh."
Kamu menyentuh ujung rambutmu.
"Ganti warna."
Heeseung memperhatikannya sebentar lagi.
"...Cocok."
Jawabannya singkat.
Namun cukup membuat Daniel menoleh diam-diam ke arah atasannya.
Jarang sekali Heeseung memberikan komentar tentang penampilan seseorang.
Kamu tersenyum tipis.
"Terima kasih."
Dalam hati, kamu justru berpikir,
"Dingin tetap dingin."
"Tapi setidaknya... dia memperhatikan perubahan kecil juga."
2026-08-07 11:04:12
10
jake :
2. Di dalam rumah...
Kamu semakin kagum.
Interiornya sangat mewah.
Ruang tamu luas.
Lampu gantung besar.
Lukisan mahal menghiasi dinding.
Semua terlihat elegan.
"Kai selera rumahnya bagus."
Ivy menyilangkan tangan.
"Jelas."
"Suami gue kan orang sukses."
Kamu langsung menatapnya.
"Suami gue?"
Ivy tersenyum bangga.
"Iya."
"Kenapa? Iri?"
Kamu tertawa kecil.
"Percaya diri banget."
---
Tidak lama kemudian Kai turun dari lantai atas.
Berbeda dari dulu...
Kini Kai berjalan normal.
Tidak ada lagi kursi roda.
Dia mengenakan pakaian santai, tapi tetap terlihat berwibawa.
"Sudah datang."
Kamu mengangguk.
"Kondisi kaki lo gimana?"
Kai tersenyum tipis.
"Sudah jauh lebih baik."
Ivy langsung menyela.
"Karena gue yang jagain."
Kai menatapnya.
"Kamu juga yang paling banyak memarahiku."
Ivy langsung diam.
Kamu tertawa.
"Masih aja."
---
Saat makan bersama...
Suasana jauh lebih santai.
Kamu melihat Ivy dan Kai.
Mereka berbeda dari dulu.
Kai yang biasanya dingin kini terlihat lebih lembut saat bersama Ivy.
Dan Ivy yang biasanya egois kini lebih perhatian.
Heeseung juga memperhatikan mereka.
"Mereka terlihat bahagia."
Kamu menoleh.
"Iya."
Lalu kamu tersenyum kecil.
"Kadang orang memang berubah."
Heeseung menatapmu.
"Kamu juga?"
Kamu mengangkat alis.
"Apa maksudnya?"
"Dulu kamu sangat menolak perjodohan ini."
Kamu terdiam sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
"Manusia bisa berubah pikiran."
Heeseung tidak menjawab.
Tapi tatapannya sedikit melembut.
---
Malam semakin larut.
Sebelum pulang, Ivy menarikmu sebentar.
"YN."
"Hm?"
"Lo sama Heeseung gimana?"
Kamu menatapnya.
"Kenapa?"
"Kan kalian belum menikah."
Kamu tersenyum kecil.
"Masih proses."
Ivy menyipitkan mata.
"Jangan bilang lo masih curiga sama dia."
Kamu langsung diam.
Ivy menangkap perubahan wajahmu.
"Lo masih nyari tahu sesuatu, kan?"
Kamu tertawa kecil.
"Lo terlalu kenal gue."
Ivy tersenyum.
"Tapi hati-hati."
"Kenapa?"
"Jangan sampai niat awal lo cuma mencari rahasia dia..."
"...malah bikin lo benar-benar suka sama dia."
Kamu terdiam.
Karena untuk pertama kalinya...
Ucapan Ivy membuatmu berpikir.
2026-08-07 10:58:14
8
jake :
1. Beberapa hari setelah pernikahan Ivy dan Kai.
Kehidupan kalian mulai berubah.
Ivy yang dulu selalu tinggal di mansion Ardhana, sekarang sudah memiliki rumah sendiri bersama Kai.
Sebagai saudara kembar, meskipun kalian sering bertengkar dan saling mengejek...
Kamu tetap merasa sedikit aneh karena tidak lagi melihat Ivy setiap hari.
---
Sore itu, kamu sedang duduk di ruang keluarga bersama Heeseung.
Heeseung masih menggunakan kursi roda seperti biasanya di depan keluarga dan orang luar.
Kamu sudah terbiasa melihatnya seperti itu.
Tapi setiap kali hanya ada kalian atau situasi tertentu...
Kamu selalu teringat rahasianya.
"Sampai kapan lo mau pura-pura, Heeseung?"
Tiba-tiba kamu mengambil ponsel.
"Aku mau telepon Ivy."
Heeseung yang sedang membaca dokumen menoleh.
"Untuk apa?"
"Mampir."
"Ke rumahnya?"
"Iya."
Heeseung mengangguk kecil.
"Baik."
---
Kamu menekan tombol panggil.
"Ivy."
Beberapa detik kemudian suara Ivy terdengar.
"Kenapa?"
"Lo sibuk?"
"Kenapa? Mau ganggu gue?"
Kamu tersenyum kecil.
"Ya."
"Datang ke rumah lo."
Ivy langsung tertawa.
"Lo kangen gue?"
"Jangan mimpi."
"Terus?"
"Gue cuma mau lihat rumah baru lo."
Ivy terdiam sebentar.
Lalu terdengar suara senyum di suaranya.
"Yaudah datang."
"Tapi jangan komentar aneh-aneh."
"Gue nggak janji."
---
Tidak lama kemudian, kamu dan Heeseung berangkat.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar.
Kamu langsung terdiam.
Rumah Kai dan Ivy...
Ternyata bukan rumah biasa.
Gerbang tinggi.
Halaman luas.
Taman yang tertata rapi.
Bangunan modern dengan desain mewah.
Kamu mengangkat alis.
"Wow."
Heeseung melirikmu.
"Kamu terkejut?"
"Sedikit."
Kamu melihat rumah itu lagi.
"Keluarga Pratama ternyata tidak main-main."
Heeseung tersenyum tipis.
"Kamu baru tahu?"
Kamu menoleh.
"Kenapa?"
"Keluarga Pratama sudah lama masuk jajaran keluarga bisnis besar."
Kamu mengangguk.
"Ya, tapi tetap saja."
"Keren."
---
Begitu kalian masuk...
Ivy langsung menyambut.
"Lama banget."
Kamu memeluknya sebentar.
"Padahal baru beberapa hari."
Ivy tersenyum.
"Ya tetap aja."
Lalu dia melihat Heeseung.
"Masuklah."
Heeseung mengangguk sopan.
"Terima kasih."
---
2026-08-07 10:56:38
7
jayy :
5. Keesokan paginya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamu memutuskan mengambil cuti setengah hari dari kantor.
Mobilmu berhenti di sebuah salon premium langgananmu.
Begitu masuk, para staf langsung menyambutmu.
"Selamat pagi, Nona YN."
"Pagi."
Salah satu hair stylist menghampiri.
"Hari ini ingin treatment seperti biasa?"
Kamu menggeleng.
"Nggak."
"Aku mau ganti warna rambut."
"Warna apa, Nona?"
Kamu membuka galeri ponsel lalu menunjukkan sebuah foto.
"Warna ini."
Hair stylist tersenyum.
"Maroon... mirip warna buah ceri."
"Iya."
"Baik, kami siapkan."
---
Beberapa jam kemudian...
Proses pewarnaan selesai.
Hair stylist memutar kursi agar kamu menghadap cermin.
"Nah, silakan dilihat."
Kamu memperhatikan pantulan dirimu.
Rambut hitammu kini berubah menjadi maroon gelap, dengan kilau kemerahan seperti buah ceri saat terkena cahaya.
Kamu menyentuh ujung rambutmu.
"Bagus."
Hair stylist tersenyum lega.
"Cocok sekali dengan warna kulit Nona."
Kamu mengangguk puas.
"Terima kasih."
---
Selesai dari salon, kamu langsung pulang sebentar untuk berganti pakaian.
Hari itu, kamu memilih gaya yang berbeda.
Kemeja putih.
Blazer putih.
Celana panjang putih.
Sepatu hak tinggi putih.
Penampilanmu terlihat bersih, elegan, dan berkelas.
Dipadukan dengan rambut maroon yang baru, auramu terlihat lebih tegas.
Kamu menatap pantulan dirimu di cermin.
"Not bad."
---
Tak lama kemudian...
Mobilmu memasuki area parkir kantor pusat Ardhana Group.
Begitu kamu turun, beberapa karyawan yang kebetulan lewat langsung menoleh.
"Itu Nona YN?"
"Rambutnya ganti warna?"
"Cocok banget."
"Tampilannya beda hari ini."
Kamu hanya mengangguk kecil kepada mereka lalu berjalan masuk ke dalam gedung.
---
Saat melewati lobi, sekretaris pribadimu menghampiri.
"Selamat pagi, Nona."
"Pagi."
"Maaf kalau lancang..."
"Hm?"
"Warna rambut baru Anda sangat cocok."
Kamu tersenyum tipis.
"Terima kasih."
---
Beberapa jam kemudian.
Kamu menghadiri rapat dengan beberapa klien penting.
Presentasi berjalan lancar.
Setelah rapat selesai, salah satu direktur senior berkata,
"Nona YN."
"Iya?"
"Penampilan Anda hari ini berbeda."
Kamu terkekeh pelan.
2026-08-07 11:03:14
6
jjungwoniee2 :
3. Beberapa minggu setelah kunjungan ke rumah Ivy dan Kai...
Kamu sedang sibuk di kantor pusat Ardhana Group.
Di ruang rapat, kamu baru saja menyelesaikan presentasi kepada jajaran direksi.
"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, rapat selesai."
"Baik, Nona YN."
Saat hendak kembali ke ruang kerja, ponselmu berdering.
Ayah.
Kamu mengangkatnya.
"Iya, Yah?"
"Segera pulang."
"Ada apa?"
"Ayah dan Ibu menunggumu."
Nada suara ayah terdengar serius.
"Baik."
---
Sore itu.
Di mansion keluarga Ardhana.
Begitu kamu masuk ke ruang keluarga, kamu melihat bukan hanya ayah dan ibumu.
Di sana juga ada...
Keluarga Lee.
Ayah Heeseung.
Ibunya.
Heeseung.
Dan Daniel yang berdiri sedikit di belakang.
Kamu sedikit mengernyit.
"Ada apa?"
Heeseung juga terlihat tidak diberi tahu sebelumnya.
Ayahmu tersenyum.
"Duduk dulu."
Kamu duduk di samping Heeseung.
Heeseung menoleh pelan.
"Kamu tahu soal ini?"
Kamu menggeleng pelan.
"Tidak."
"Aku juga."
---
Beberapa detik kemudian...
Ayahmu membuka sebuah map.
"Setelah berdiskusi dengan keluarga Lee..."
"Kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian."
Kamu langsung membeku.
"Hah?"
Heeseung juga mengangkat alis tipis.
Ibunda Lee tersenyum hangat.
"Kami pikir kalian sudah cukup saling mengenal."
Ayah Heeseung mengangguk.
"Dan kedua keluarga merasa tidak perlu menunda lebih lama."
Ayahmu menggeser sebuah kertas ke arah kalian.
"Ini tanggalnya."
Kamu melihatnya.
Tepat dua bulan lagi.
Ruangan langsung hening.
---
Ayahmu bertanya,
"Bagaimana?"
Kamu menatap Heeseung.
Heeseung juga menatapmu.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu Heeseung berbicara lebih dulu.
"Saya menghormati keputusan keluarga."
Jawabannya tenang.
Seperti biasa.
Semua mata kini tertuju padamu.
Kamu menarik napas pelan.
"...Kalau memang itu keputusan kedua keluarga..."
"...aku juga menghormatinya."
Ayahmu tersenyum puas.
"Bagus."
---
Setelah pembicaraan selesai, semua orang berpindah ke ruang makan.
Kamu keluar ke taman belakang untuk mencari udara segar.
Tak lama kemudian...
Heeseung datang menghampirimu.
Masih duduk di kursi rodanya.
"Kamu keberatan?"
Kamu menoleh.
"Soal apa?"
"Pernikahan ini."
2026-08-07 10:59:08
6
To see more videos from user @luvvv_jakee_sunoo, please go to the Tikwm
homepage.