@log1kajiwa: Kutipan ini berbicara tentang kesombongan yang datang dengan wajah kenikmatan: sesuatu yang terasa manis bagi ego, tetapi diam-diam meracuni nurani dan mematikan empati. Dalam filsafat Islam, “racun bersalut madu” dapat dibaca sebagai dunia, pujian, kekuasaan, popularitas, dan kenikmatan ego ketika semuanya tidak lagi menjadi sarana, melainkan tujuan. Yang berbahaya bukan madunya, tetapi ketika seseorang begitu mabuk oleh manisnya sampai lupa bahwa racun sedang bekerja. Yang lebih ironis: manusia sering tidak sadar sedang dirusak karena racun itu tidak datang membawa rasa pahit. Ia datang sebagai pujian. Ia berkata: “Engkau hebat.” Ego menjawab: “Memang.” Ia berkata: “Engkau lebih tinggi daripada mereka.” Ego tersenyum: “Akhirnya mereka mengakuinya.” Lalu perlahan, hati mulai kehilangan kemampuan untuk melihat penderitaan orang lain. Bukan karena mata menjadi buta, tetapi karena ego terlalu sibuk menatap dirinya sendiri. Dalam perspektif tasawuf, keadaan ini dekat dengan penyakit nafs yang tidak lagi dikendalikan. Ketika seseorang terus-menerus memberi makan keinginan untuk dipuji, dihormati, dan dianggap unggul, ia bisa mencapai keadaan yang secara lahir tampak mulia, tetapi secara batin justru miskin. Ia memiliki banyak pengagum, tetapi kehilangan kejujuran terhadap dirinya sendiri. Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam banyak mengingatkan tentang jebakan melihat diri melalui amal, kedudukan, atau keadaan spiritual. Intinya tajam: jangan sampai sesuatu yang seharusnya mendekatkanmu kepada Allah justru menjadi bahan bakar untuk membesarkan egomu. Sebab ada jenis kesombongan yang sangat halus: merasa rendah hati karena orang lain menganggap kita rendah hati. Lucu, bukan? Kita bisa begitu sibuk mengutuk orang sombong, sampai tidak menyadari bahwa kita sedang menikmati kesombongan dalam bentuk yang lebih sopan. Al-Qur’an mengingatkan: > “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong...” > (QS. Al-Isra’ [17]: 37) Ayat ini bukan sekadar larangan tentang cara berjalan. Ia menyentuh penyakit batin: merasa diri terlalu besar untuk merendahkan hati. Karena itu pertanyaan dalam kutipan ini sebenarnya bukan sekadar, “Apa yang sedang kita minum?” Tetapi: “Apa yang sedang kita biarkan membius hati kita?” Apakah pujian? Kekuasaan? Kekayaan? Popularitas? Pengakuan manusia? Atau perasaan bahwa kita lebih suci daripada mereka yang sedang kita hakimi? Sebab racun paling berbahaya bukan yang membuat tubuh mati. Racun paling berbahaya adalah yang membuat tubuh tetap hidup, tetapi nurani sudah lama dikubur. Dan mungkin itulah tragedi manusia: ia bisa memiliki mahkota tanpa menjadi raja, memiliki pengikut tanpa menjadi pemimpin, memiliki banyak suara yang memujinya, namun kehilangan satu suara yang paling penting—suara hati yang masih takut kepada Allah. Jadi, sebelum merasa menjadi raja karena banyak orang menundukkan kepala kepadamu, tanyakan lebih dahulu: Apakah mereka sedang menghormatimu, atau sebenarnya egomu yang sedang meminta disembah? Karena tidak semua yang manis adalah rahmat. Sebagian hanya racun yang diberi gula agar kita rela meneguknya sampai habis. #EgoDanHati #Katakatabijak #Tasawuf #SelfReminder #LogikaJiwa

LOGIKA JIWA
LOGIKA JIWA
Open In TikTok:
Region: MY
Friday 07 August 2026 14:07:38 GMT
4656
249
0
6

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @log1kajiwa, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos


About