@hellowtnbe_tvs: POV : Lily of The Valley (Part 1) Sore ini di kediaman keluarga Aditesvara terasa meneduhkan. Cahaya matahari yang mulai condong masuk melalui jendela-jendela besar berbingkai kayu, jatuh di atas lantai marmer dan memantul lembut pada ukiran-ukiran khas Jawa yang menghiasi hampir setiap sudut ruangan. Rumah ini mewah. Namun kemewahannya tidak terasa berlebihan. Ada sesuatu yang membuatnya tetap hangat—mungkin karena dominasi kayu jati, ukiran tradisional, atau aroma samar bunga yang berasal dari vas di atas meja. Aku duduk di sofa ruang santai sambil memangku sketchbook desain. Di halaman pertama, sudah tertulis nama calon pengantin laki laki yang menjadi klienku. Hari ini aku hanya akan berdiskusi design baju pengantin khusus laki laki saja karena aku hanya dikontak untuk itu. ADITESVARA JAYAMANDALA. Di bawahnya, beberapa kolom sudah kubuat untuk mencatat ukuran tubuh, preferensi bahan, warna, siluet, hingga detail ornamen yang nantinya akan menjadi acuan dalam proses pembuatan busana. Aku menyiapkan pensil mekanik, penghapus, penggaris kecil, lalu membuka halaman baru. Tatapanku berpindah kepada dua orang yang duduk di hadapanku. Aditesvara Jayamandala. Calon pengantin laki-laki yang sejak tadi tampak begitu tenang sampai aku sempat bertanya-tanya apakah dia memang selalu seserius itu. Di sebelahnya ada Thansahayu Kagum Rajeshvani, calon istrinya. Jauh berbeda dari Mandala, Sahayu memiliki pembawaan yang lebih lembut. Cara bicaranya sopan dan ekspresinya mudah berubah mengikuti pembicaraan. Aku menarik napas kecil. Sebagai desainer, aku yang harus memulai. “Mas Mandala” Tatapannya beralih kepadaku. “Iya?” Aku tersenyum. “Untuk baju pengantinnya, Mas Mandala mau model yang seperti apa?” Hening sebentar. Mandala terlihat berpikir. Walaupun sebenarnya aku tidak yakin dia benar-benar sedang berpikir atau hanya sedang memilih seberapa sedikit kata yang akan dia gunakan. “Simpel", jawabnya. Aku menunggu. Dia tidak melanjutkan. “Terus?” “Berwibawa” Aku mengangguk pelan. Simple dan berwibawa. Aku menuliskan kedua kata itu di sketchbook. Namun setelahnya, ujung pensilku berhenti. Aku menatap catatan tersebut beberapa detik. Brief yang sangat singkat. Aku mengangkat wajah. “Cuma itu, Mas?” “Iya cuman itu” Aku menahan napas. Aku mengalihkan perhatian kepada Sahayu. Setidaknya masih ada harapan untuk mendapatkan penjelasan tambahan. “Mbak Sahayu mungkin punya gambaran yang lebih spesifik untuk design baju pengantin Mas Mandala?” Sahayu tersenyum kecil. “Sebenarnya saya lebih ingin menyesuaikan dengan karakter Mas Mandala" Aku langsung kembali mencatat. “Seperti apa ya, Mbak?” “Saya ingin ketika Mas Mandala memakai busana yang membuat auranya tetap terasa kuat” Aku mengangguk. Sahayu melanjutkan dengan tenang. “Mas Mandala bukan tipe orang yang membutuhkan banyak detail untuk terlihat menonjol. Jadi saya rasa desainnya jangan terlalu ramai. Sepertinya akan lebih bagus kalau siluetnya tegas, bersih, dan terlihat berkelas” Pensilku bergerak mengikuti penjelasannya. “Untuk sentuhan tradisionalnya itu tetap ada unsur Jawa, cukup melalui detail ornamen atau struktur busananya” Aku berhenti menulis. “Jadi adat Jawanya tetap terasa, tapi tidak terlalu berat. Begitu ya Mbak?” Sahayu mengangguk. “Iya Mbak Sora” Aku membuat beberapa garis kecil di halaman. “Berarti arahnya lebih ke modern-tradisional. Siluet tetap clean, potongan dibuat tegas untuk menonjolkan karakter Mas Mandala, lalu unsur Jawanya dimasukkan melalui detail yang lebih subtil” “Betul...”, jawab Sahayu singkat. Aku lalu mengalihkan pandanganku ke Mandala. “Kalau untuk pemilihan warnanya, apakah ada warna warna khusus yang Mas Mandala mau?" Mandala menjawab tanpa banyak berpikir. “Warna hitam saja” Aku mendongak. “Hitam saja?” “Saya tidak terlalu paham dengan warna, paduan warna yang Mbak Sora maksud. Pilihkan saja apa yang cocok untuk saya dan juga cocok dipadukan dengan warna pilihan saya, yaitu hitam” (bismillah, lanjut ke kolom komentar yaa) #haruto #treasure #pov #fyp #trending
🦋
Region: ID
Saturday 08 August 2026 17:23:32 GMT
Music
Download
Comments
🦋 :
(4). Jantungku seperti berhenti berdetak saat tatapanku jatuh pada jemarinya. Di sana, pada buku jari manis tangan kanannya, terdapat luka goresan yang cukup panjang. Darah segar perlahan merembes keluar, membasahi kulitnya yang pucat.
Tanpa sadar, jemariku bergerak cepat meraih pergelangan tangannya. Aku menangkup tangan itu dengan kedua telapak tanganku sendiri, menunduk dalam-dalam dengan rasa bersalah yang langsung menghantam rongga dada.
"Ya ampun, darahnya keluar banyak, Mas... Maafin saya Mas. Kalau Mas gak ngelindungi saya supaya gak kena lukisan itu, pasti saya yang sudah terluka sekarang". Suaraku sarat akan rasa bersalah. "Maaf, Mas. Ini gara-gara saya"
Mandala tidak langsung menarik tangannya. Laki-laki itu justru menatapku lekat-lekat, lalu menghela napas pelan seolah rasa sakit di jarinya sama sekali bukan hal yang penting.
"Bukan salah kamu. Sudah, jangan melow begitu", ucap Mandala tenang, suaranya serendah biasanya namun terdengar tegas.
Aku mendongak, hendak bertanya di mana letak kotak P3K di rumah sebesar ini, namun Mandala mendahuluiku.
"Tolong obati lukanya, ya", pinta Mandala tanpa ragu, menatapku lurus-lurus. "Biasanya Sahayu yang telaten ngurusin hal-hal begini kalau saya terluka. Saya orangnya nggak sabaran dan sama sekali nggak telaten kalau harus membersihkan luka sendiri"
Aku mengerjap cepat, tertegun sejenak.
"Kotak P3K ada di dalam lemari konsol sebelah kiri" lanjut Mandala memberikan instruksi dengan gestur dagunya. "Hanya lima langkah dari posisi duduk Mbak Sora. Ambil sebentar, ya"
Aku bergegas bangkit, melangkah cepat menuju sudut ruangan yang dimaksud. Jemariku membuka lemari konsol bercorak klasik itu, menemukan kotak putih berlogo palang merah di dalamnya, lalu kembali ke sofa dengan napas yang masih sedikit memburu.
Begitu duduk di sanpingnya, aku mulai membersihkan sisa darah di sekitar jari manisnya menggunakan kapas beralkohol. Mandala sama sekali tidak bergeming. Laki-laki itu membiarkan jemarinya berada dalam genggamanku, sementara tatapannya lurus mengamati setiap gerak-gerikku yang berhati-hati.
2026-08-08 17:26:13
3
🦋 :
(6). Aku membalik buku tersebut, menyodorkannya tepat di hadapan Mandala. Di atas kertas putih itu, guratan pensilku menampilkan desain jas berkerah shawl modern dengan potongan tegas yang membingkai siluet bahu, dipadukan dengan aksen bordir motif batik kawung yang samar pada bagian kelopak jas—sangat subtil namun berkelas.
Mandala menunduk, mengamati setiap detail goresan pensilku dalam diam. Cukup lama ia tertegun di atas halaman itu, sebelum akhirnya anggukan kepala pelan tersaji nyata. Guratan kepuasannya terpampang jelas dari cara matanya meneliti garis demi garis rancanganku.
"Bagus. Sesuai dengan apa yang saya mau. Clean, tegas, dan tidak berlebihan", puji Mandala singkat, namun sarat akan kelegaan.
Darahku mendadak berdesir naik ke permukaan pipi. Pujian yang keluar dari bibir laki-laki seserius Mandala memiliki daya kejut tersendiri yang membuatku salah tingkah. Aku menunduk seketika, meremas ujung jemariku di atas pangkuan untuk menyembunyikan rona merah yang telanjur menjalar di wajah.
"Terima kasih, Mas", cicitku pelan, terdengar sedikit salah tingkah.
Mandala seolah menyadari perubahan gestur tubuhku, namun ia memilih tidak berkomentar banyak. Laki-laki itu justru kembali bersuara, memecah debar yang sempat singgah.
"Setelah ini...", Mandala menjeda kalimatnya sejenak, menatapku lurus dengan sorot mata yang sulit diartikan. "...kapan saya bisa menemui Mbak Sora lagi untuk membahas kelanjutan pembuatan busana pengantin saya?"
Aku berpikir sejenak, meraba jadwal kosong di kepala sebelum mendongak menatapnya. "Sepertinya tiga minggu lagi, Mas. Kalau ada waktu luang, Mas Mandala bisa langsung datang ke butik saya"
Mandala mengangguk paham. Ia terdiam selama beberapa detik, membiarkan keheningan kembali merayap sebelum bibirnya kembali terbuka melontarkan kalimat penutup yang membuat napasku tertahan di ujung tenggorokan.
"Kalau begitu...", Mandala menatapku lekat-lekat, menyematkan makna tersembunyi di balik setiap diksi yang ia pilih dengan saksama. "...saya akan menunggu tiga minggu itu hanya untuk kembali bertemu kamu lagi"
⋆.˚🦋༘⋆
2026-08-08 17:27:14
5
🦋 :
plisss fyppppppppppppp
(2). Aku kembali menulis. Lalu pembicaraan berjalan cukup lancar setelahnya. Kami membahas jenis kain, kemungkinan penggunaan bordir, detail pada kerah, bentuk jas, hingga bagaimana unsur tradisional bisa dimasukkan tanpa membuat keseluruhan desain terlihat terlalu berat.
Aku bahkan sempat membuat beberapa sketsa kecil di pinggir halaman sebagai gambaran awal.
Sampai akhirnya... Tring tring! Suara telepon dari arah Sahayu membuat tanganku berhenti.
“Sebentar, ya”. Sahayu segera mengambil ponselnya dari dalam tas. “Halo?”
Aku kembali menundukkan kepala, merapikan catatan yang baru saja kutulis.
“Iya, saya Sahayu”
Ada jeda. Ekspresi wajahnya perlahan berubah.
“Sekarang?”
Jeda lagi.
“Baik. Saya segera ke sana”. Sahayu memutus sambungan.
Aku spontan menatapnya. Dari wajahnya, terlihat jelas ada sesuatu yang tidak beres. “Kenapa, Mbak?”
Sahayu mengembuskan napas pelan. “Dari pihak WO. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan langsung di sana”
Ia menoleh kepada Mandala. “Mas, aku harus pergi dulu”
Mandala mengangkat wajah. “Sekarang?”
“Iya. Mereka minta aku datang karena ada beberapa detail yang harus dikonfirmasi sebelum sore ini". Sahayu terlihat tidak enak hati. “Padahal diskusinya belum selesai”
"Gak papa sayang. Aku bisa selesaikan sendiri". Nada suara Mandala tetap tenang.
“Tapi—”
“Pergi saja”
Mandala kemudian berdiri. Ia meraih tas Sahayu yang tadi diletakkan di samping sofa dan menyerahkannya kepada perempuan itu.
“Jangan biarin mereka nungguin kamu terlalu lama”
Sahayu menerima tasnya. Tatapan mereka bertemu. “Mas gak keberatan?”
“Gak, Mas gak keberatan. Kamu tenang aja”, jawabannya singkat, tetapi tidak terdengar dingin.
Mandala bahkan sempat merapikan ujung rambut Sahayu yang terselip di dekat wajahnya sebelum berkata pelan. “Urusan WO juga penting sayang. Kalau butuh apa apa atau butuh bantuan, telepon Mas ya”
Sahayu tersenyum kecil. “Iya mas...”
Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum diam-diam. Ada sisi lain dari Mandala yang ternyata tidak muncul ketika dia sedang berbicara denganku sebagai klien.
Setelah itu Sahayu berbalik kepadaku. “Mbak Sora, maaf banget ya aku harus pergi dulu”
2026-08-08 17:24:48
3
🦋 :
(5). Setelah luka itu bersih dan teroles salep antiseptik, aku merobek lembaran plester luka, lalu merekatkannya dengan rapi menutupi goresan di jari manisnya.
"Sudah", bisikku pelan seraya merapikan sisa alat medis ke dalam kotak.
Mandala menarik tangannya perlahan, memandangi plester berwarna cokelat muda yang melingkar di jarinya. Sudut bibirnya berkedut tipis, menciptakan senyum samar yang nyaris tak kasat mata.
"Sayang banget jari manis saya terluka", ucap Mandala, suaranya terdengar rendah namun penuh atensi. "Padahal di jari ini tempat cincin nikah itu akan terpasang nanti"
Aku mengerjap, sedikit terpaku sebelum akhirnya rasa penasaran menguasaiku. Alisku terangkat sebelah.
"Kalau boleh tahu, memangnya pernikahan kalian diselenggarakan kapan, Mas?", tanyaku spontan.
"Masih tiga bulan lagi"
Kekehan kecil lolos begitu saja dari bibirku. Aku segera menutup mulutku dengan sebelah tangan, berusaha meredam tawa geli yang telanjur menyeruak.
"Tiga bulan lagi?", ulangku di sela tawa tipis. "Kalau jaraknya masih tiga bulan, luka sekecil ini pasti sudah sembuh total, Mas. Bahkan mungkin bekasnya sudah hilang entah ke mana sebelum hari-h"
Mendengar itu, Mandala justru ikut terkekeh kecil. Suara tawa bariton yang renyah itu berhasil melunturkan sisa-sisa ketegangan di antara kami, bahkan membuat laki-laki itu tampak menertawakan kecemasannya sendiri.
"Benar juga", gumamnya pelan, menggelengkan kepala tipis.
Suasana canggung yang sempat membeku seketika mencair. Mandala lantas mengubah posisinya, menegakkan punggungnya kembali menghadap meja tempat sketchbook-ku tergeletak.
"Mari kita lanjutkan", ujar Mandala kembali pada persona aslinya yang tegas. "Diskusi kita tadi sudah sampai di mana?"
Aku dengan sigap membuka lembar kerja yang sempat berantakan karena insiden tadi. "Tadi kita sempat membahas gimana memadukan unsur tradisional Jawa tanpa membuatnya terlihat mencolok, Mas. Saya sudah merangkumnya ke dalam sketsa kasar"
2026-08-08 17:26:49
3
🦋 :
(3). “Gak apa-apa, Mbak”
“Kalau ada yang perlu dikonfirmasi, kamu bisa langsung bicara dengan Mas Mandala”
Aku menoleh kepada Mandala. Kemudian kembali pada Sahayu. “Iyaa Mbak”
Sahayu tersenyum. “Terima kasih, ya"
Ia kemudian melangkah meninggalkan ruang santai. Aku memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu.
Beberapa detik kemudian, ruangan itu kembali sunyi. Aku menatap sketchbook di pangkuanku. Kemudian perlahan mengangkat wajah. Mandala sudah duduk kembali di sofa.
Keheningan di ruangan mendadak menyisakan deru napas kami yang terdengar pelan. Aku menunduk sejenak, membenarkan letak pensil di atas kertas demi merangkai kembali kalimat yang sempat terputus.
"Mas Mandala, kita bisa lanjut...", ucapanku terhenti seketika.
Belum sempat kata terakhirku lepas sepenuhnya, gerakan cepat yang tidak kasat mata terjadi dalam sepersekian detik. Mandala bangkit dari duduknya dengan sigap, menerjang ke arahku, lalu membawa tubuhku merapat ke dadanya sementara kedua lengannya mendekapku erat. Kepalaku tertutup sempurna oleh punggungnya yang bidang.
Bruk!
Suara hantaman keras menggema diiringi serpihan debu yang berhamburan. Sesuatu yang berat baru saja menghantam lantai tepat di samping tempatku duduk. Aku menahan napas, dadaku bergemuruh karena keterkejutan yang merambat cepat ke seluruh saraf. Dalam dekapannya, aku mendengar ringisan kecil tertahan dari bibir Mandala.
"Mas...?", suaraku bergetar.
Mandala perlahan melepas dekapannya, menegakkan tubuhnya seraya meringis pelan sambil memegangi punggung tangan kanannya. Aku menoleh ke sampingku. Sebuah lukisan kanvas berbingkai kayu jati ukir ukuran besar—yang tadi tergantung kokoh di dinding tepat di atas sofa—kini telah jatuh tersungkur dan kacanya pecah berkeping-keping.
Jika saja Mandala tidak bergerak secepat kilat melindungiku, bingkai kayu berat dan kaca tebal itu pasti sudah menghantam kepalaku tanpa ampun.
"Mas Mandala, Mas gak apa-apa?", tanyaku panik, matanya langsung memindai tubuh laki-laki itu.
2026-08-08 17:25:24
3
To see more videos from user @hellowtnbe_tvs, please go to the Tikwm
homepage.