@meerab.kanwal.editor: Meerab kanwal editor. #viral_video #foryourpage #trendingvideo #unfreezemyaccount #viewsproblem @❤️‍🩹—M—❤️‍🩹 @MEERAB KANWAL @Kanwal @❤JUTT JEE❤ @user60950097790

❥ MEERAB KANWAL EDITOR ❥
❥ MEERAB KANWAL EDITOR ❥
Open In TikTok:
Region: PK
Monday 10 August 2026 06:56:58 GMT
1653
375
35
9

Music

Download

Comments

mubeenkhanliyaqat
mubinkhan. :
😘😘❤️‍🩹❤️‍🩹💋💋 i love you
2026-09-26 18:36:18
0
waqas1122330
Muhammad Hafeez :
[Sticker]
2026-08-14 07:39:23
0
abigail.anjum174
Abigail Anjum174 :
cute girl 🥰🥰🥰💕💕💕
2026-08-23 07:49:46
0
wasif.jutt013
Wasif Jutt :
♥️♥️♥️
2026-08-10 11:58:49
1
anas.khan2646
s👑👑m :
🥰👍
2026-08-10 07:11:51
0
zilaeed2
zilaeedButt :
[Sticker] 🥰🥰🥰🥰
2026-08-27 20:43:04
0
user572346972
Asad Ali :
2026-08-13 17:07:40
0
waqas1122330
Muhammad Hafeez :
[Photo]
2026-08-14 07:39:41
0
abdulsattar8456
Malik Tabish 🌹 :
🥰🥰🥰
2026-08-17 12:01:51
0
ali125as0
Hamza 125 :
🥰🥰🥰
2026-08-10 14:52:50
0
arslan.aslam3794
Arslan Aslam :
🥰🥰🥰
2026-08-16 13:07:58
0
khokar.masti.main
❤️Man {N⁰ L⁰ve} :::{}======>❤️ :
❤️❤️❤️
2026-08-14 12:35:42
0
user0560275
Sher Ali Sher :
❤️❤️❤️
2026-08-14 11:48:09
0
amaan.tanoli7
Amaan Tanoli :
🥰🥰🥰
2026-08-17 10:55:55
0
zohaibchaudhary1231
Zohaib :
🥰🥰🥰
2026-08-13 14:34:55
0
rana.haris334
Rana Haris :
🥰🥰🥰
2026-08-13 12:21:58
0
amaantanoli27
Aᴋ᭄Aʍᴀᴀηᴮᴼˢˢ :
❤️❤️❤️
2026-08-11 11:13:36
0
rajaabubakar.786
rajaabubakar 786 :
🥰🥰🥰
2026-08-11 10:27:45
0
hassanpathan428
Hassanpathan :
🥰🥰🥰
2026-08-11 07:24:33
0
m.dani1501
M Dani :
🥰🥰🥰
2026-08-11 06:53:15
0
farooq.jatt02
Farooq jatt :
❤️❤️❤️
2026-08-10 18:51:49
0
faizan.arshad.ansa
Faizan Arshad 🔥♥️ :
🥰🥰🥰
2026-08-18 13:27:37
0
ismail..king2
ismail king. 🇵🇰 .🤫 :
🥰🥰🥰
2026-08-10 12:46:08
0
alamehar1
پاگل لڈقا :
😘😘😘
2026-08-10 07:08:47
1
To see more videos from user @meerab.kanwal.editor, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kata Al-Ghazali, ada tanda ketika ilmu agama mulai tidak menyelamatkanmu, tetapi justru membuatmu semakin sulit menerima nasihat. Bukan karena terlalu banyak ilmu. Masalahnya muncul ketika ilmu yang seharusnya membuat seseorang semakin mengenal kelemahan dirinya justru dipakai untuk memperkuat rasa bahwa dirinya lebih tahu, lebih benar, dan lebih tinggi daripada orang lain. Al-Ghazali sangat serius membicarakan persoalan ini dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dalam Kitab al-‘Ilm, ia mengkritik bentuk pengetahuan yang berubah menjadi alat untuk berdebat, mencari kemenangan, kedudukan, atau kemuliaan di hadapan manusia. Baginya, ilmu agama yang benar tidak cukup membuat seseorang pandai berbicara tentang agama. Ilmu harus berhubungan dengan amal, pembentukan akhlak, dan perjalanan seseorang menuju Allah. Karena itu, ada pertanyaan yang lebih penting daripada “Seberapa banyak yang sudah saya pelajari?” Pertanyaannya adalah: “Apa yang ilmu itu lakukan terhadap diriku?” Apakah setelah belajar agama kita menjadi lebih mudah mengakui kesalahan? Lebih tenang ketika dikoreksi? Lebih mampu berkata, “Saya tidak tahu”? Lebih berhati-hati dalam menilai orang lain? Atau justru semakin sulit menerima pendapat yang berbeda? Di sinilah ilmu bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat halus. Seseorang mengetahui banyak dalil tentang tawaduk, tetapi dirinya sendiri sulit menerima koreksi. Ia mengetahui bahaya kesombongan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang meremehkan orang lain. Ia hafal nasihat tentang ikhlas, tetapi sangat terganggu ketika amalnya tidak dihargai. Ia sering berbicara tentang kebenaran, tetapi ketika kebenaran itu datang untuk membantah pendapatnya sendiri, ia tiba-tiba memiliki seribu alasan untuk menolaknya. Masalahnya bukan pada ilmu. Masalahnya adalah ego telah menemukan cara baru untuk mempertahankan dirinya melalui ilmu. Ini yang membuat penyakit tersebut sulit dikenali. Kalau seseorang sombong karena harta, kita mungkin masih bisa melihatnya. Kalau seseorang sombong karena jabatan, tandanya lebih mudah terlihat. Tetapi ketika seseorang sombong karena ilmu, kesombongannya bisa memakai bahasa agama. Ia bisa terdengar sangat meyakinkan. Bisa mengutip kitab. Bisa menyebut nama ulama. Bisa memenangkan perdebatan. Bahkan bisa terlihat sedang membela kebenaran. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah ia masih mampu menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak berpihak kepadanya? Al-Ghazali melihat ilmu sebagai sesuatu yang seharusnya membawa manusia kepada pengenalan terhadap dirinya dan Allah. Ihya’ sendiri disusun sebagai upaya menghidupkan kembali ilmu agama yang menurut Al-Ghazali telah kehilangan dimensi batin dan amalnya. Ia mengkritik keadaan ketika pengetahuan agama berubah menjadi sarana mengejar kepentingan duniawi. Maka ukuran keberhasilan belajar agama bukan hanya bertambahnya apa yang bisa kita jelaskan kepada orang lain. Tetapi juga bertambahnya kemampuan kita untuk bercermin kepada diri sendiri. Kalau dulu ketika dikritik kita langsung marah, lalu setelah bertahun-tahun belajar agama kita masih melakukan hal yang sama, ada sesuatu yang perlu diperiksa. Kalau dulu kita mudah merasa paling benar, kemudian setelah membaca puluhan kitab kita justru semakin sulit mengakui kesalahan, mungkin masalahnya bukan kurang ilmu. Mungkin ilmu itu belum benar-benar sampai kepada hati. Sebab ilmu yang hidup tidak hanya membuat seseorang mampu mengatakan, “Ini benar dan itu salah.” Ia juga membuat seseorang cukup rendah hati untuk bertanya: “Bagaimana kalau kali ini justru aku yang salah?” Dan mungkin itulah salah satu tanda ilmu yang benar-benar bermanfaat. Bukan ketika seseorang semakin pandai membuat orang lain diam. Tetapi ketika ia semakin mudah diam untuk mendengarkan kebenaran. #ribath💫 #ustadzgaul
Kata Al-Ghazali, ada tanda ketika ilmu agama mulai tidak menyelamatkanmu, tetapi justru membuatmu semakin sulit menerima nasihat. Bukan karena terlalu banyak ilmu. Masalahnya muncul ketika ilmu yang seharusnya membuat seseorang semakin mengenal kelemahan dirinya justru dipakai untuk memperkuat rasa bahwa dirinya lebih tahu, lebih benar, dan lebih tinggi daripada orang lain. Al-Ghazali sangat serius membicarakan persoalan ini dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dalam Kitab al-‘Ilm, ia mengkritik bentuk pengetahuan yang berubah menjadi alat untuk berdebat, mencari kemenangan, kedudukan, atau kemuliaan di hadapan manusia. Baginya, ilmu agama yang benar tidak cukup membuat seseorang pandai berbicara tentang agama. Ilmu harus berhubungan dengan amal, pembentukan akhlak, dan perjalanan seseorang menuju Allah. Karena itu, ada pertanyaan yang lebih penting daripada “Seberapa banyak yang sudah saya pelajari?” Pertanyaannya adalah: “Apa yang ilmu itu lakukan terhadap diriku?” Apakah setelah belajar agama kita menjadi lebih mudah mengakui kesalahan? Lebih tenang ketika dikoreksi? Lebih mampu berkata, “Saya tidak tahu”? Lebih berhati-hati dalam menilai orang lain? Atau justru semakin sulit menerima pendapat yang berbeda? Di sinilah ilmu bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat halus. Seseorang mengetahui banyak dalil tentang tawaduk, tetapi dirinya sendiri sulit menerima koreksi. Ia mengetahui bahaya kesombongan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang meremehkan orang lain. Ia hafal nasihat tentang ikhlas, tetapi sangat terganggu ketika amalnya tidak dihargai. Ia sering berbicara tentang kebenaran, tetapi ketika kebenaran itu datang untuk membantah pendapatnya sendiri, ia tiba-tiba memiliki seribu alasan untuk menolaknya. Masalahnya bukan pada ilmu. Masalahnya adalah ego telah menemukan cara baru untuk mempertahankan dirinya melalui ilmu. Ini yang membuat penyakit tersebut sulit dikenali. Kalau seseorang sombong karena harta, kita mungkin masih bisa melihatnya. Kalau seseorang sombong karena jabatan, tandanya lebih mudah terlihat. Tetapi ketika seseorang sombong karena ilmu, kesombongannya bisa memakai bahasa agama. Ia bisa terdengar sangat meyakinkan. Bisa mengutip kitab. Bisa menyebut nama ulama. Bisa memenangkan perdebatan. Bahkan bisa terlihat sedang membela kebenaran. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah ia masih mampu menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak berpihak kepadanya? Al-Ghazali melihat ilmu sebagai sesuatu yang seharusnya membawa manusia kepada pengenalan terhadap dirinya dan Allah. Ihya’ sendiri disusun sebagai upaya menghidupkan kembali ilmu agama yang menurut Al-Ghazali telah kehilangan dimensi batin dan amalnya. Ia mengkritik keadaan ketika pengetahuan agama berubah menjadi sarana mengejar kepentingan duniawi. Maka ukuran keberhasilan belajar agama bukan hanya bertambahnya apa yang bisa kita jelaskan kepada orang lain. Tetapi juga bertambahnya kemampuan kita untuk bercermin kepada diri sendiri. Kalau dulu ketika dikritik kita langsung marah, lalu setelah bertahun-tahun belajar agama kita masih melakukan hal yang sama, ada sesuatu yang perlu diperiksa. Kalau dulu kita mudah merasa paling benar, kemudian setelah membaca puluhan kitab kita justru semakin sulit mengakui kesalahan, mungkin masalahnya bukan kurang ilmu. Mungkin ilmu itu belum benar-benar sampai kepada hati. Sebab ilmu yang hidup tidak hanya membuat seseorang mampu mengatakan, “Ini benar dan itu salah.” Ia juga membuat seseorang cukup rendah hati untuk bertanya: “Bagaimana kalau kali ini justru aku yang salah?” Dan mungkin itulah salah satu tanda ilmu yang benar-benar bermanfaat. Bukan ketika seseorang semakin pandai membuat orang lain diam. Tetapi ketika ia semakin mudah diam untuk mendengarkan kebenaran. #ribath💫 #ustadzgaul

About