Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@1_elshenawy_1: #حالات_واتس #تصميم_فيديوهات🎶🎤🎬 #حزين #foryou #عصام_صاصا
ريبوستك🫵🏻 عندي🙋🏻♂️
Open In TikTok:
Region: EG
Thursday 13 August 2026 01:00:48 GMT
11258
666
5
32
Music
Download
No Watermark .mp4 (
0.52MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
0.48MB
)
Watermark .mp4 (
0.86MB
)
Music .mp3
Comments
KAREEM :
يا الله 😔💔🥀
2026-08-13 04:22:07
0
~ابو سليم~😎🔥 :
💔🫶🏻
2026-08-21 13:31:56
0
ال🎖️ح🚨رز💫🚔 :
🥰🥰🥰
2026-08-13 01:08:37
1
To see more videos from user @1_elshenawy_1, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
First UCL🔜 // #napoli #sscnapoli #fyp #ucl #viral // UCL DRAW // Champions League Draw // Editor: @ae.bali
@2jii🦅
#fyp #parati
POV: Aspal jalanan Kota Surabaya bulan ini seperti cermin yang memantulkan bayangan. Sayangnya, bayangan yang dipantulkan itu sinar matahari. Panas. Cuacanya menggila membuat kebanyakan orang mudah marah, tak terkecuali kamu. “Dasar cowok brengsek,” umpatmu memaki kesal. “Maksudnya apa ya, Mbak? Kok tiba-tiba saya dibrengsek-brengsekin,” sahut seorang pria berkemeja rapi berdiri dari duduknya. Ia siap beradu mulut denganmu sekarang. “Eh? Bukan, Mas! Maksud saya yang brengsek itu bukan masnya. Ada yang lebih brengsek gitu,” balasmu setengah panik sampai tanganmu melambai menepis dugaannya. Pria itu menekuk dahinya sebal seraya berkacak pinggang. Masih pagi bukannya mendapat rezeki, tetapi diberi maki. “Ya berarti saya brengsek, dong? Kan kata sampeyan ada yang lebih brengsek,” ucapnya cepat. Beberapa orang—menunggu bus datang di halte, mulai curi-curi pandang ke arah kalian. Kamu merutuki diri sebab mengumpat tidak tahu tempat. Sebenarnya apes saja lantaran baru turun dari bus kota untuk pindah jalur malah dipertemukan dengan pria sensi. “Mas, sudah, ya? Saya nggak ingin ribut. Saya minta maaf banget kalau bikin salah paham,” tandasmu tak ingin memperpanjang hal sepele. Bukannya menjawab, pria itu menolehkan kepala acuh tak acuh melengos. Kaki panjangnya melangkah satu kali di depanmu memunggungi. Netranya memperhatikan keberadaan bus elektrik dengan nomor koridor yang kamu tuju. “Antri, Mbak. Saya udah nunggu duluan dari tadi,” ucapnya dingin tanpa menolehkan kepala yang membuatmu menyipitkan mata sebal. Begitu bus tiba, kamu masuk setelah pria menyebalkan itu lebih dulu melangkah di depan. Napasmu berembus berat saat mendapati bangku bersisa kosong tepat satu di sampingnya. “Permisi,” ujarmu mendudukkan diri. Perjalanan dari Surabaya bagian barat ke timur menempuh waktu lama, kurang lebih dua jam. Jika berdiri terus-terusan bisa-bisa kakimu pegal. Masih pagi seperti ini harus menjaga energi. Pria itu tidak menggubris. Ia memiringkan badan menghadap jendela tidak berminat melakukan komunikasi denganmu. Hidungmu mendengus kesal. Lagipula siapa juga yang ingin mengajaknya berbicara? Cih. ——— “Oalah, maba ta kamu?” Kamu mendongakkan kepala pada cecunguk yang ternyata berhenti di titik sama. Jari telunjukmu menunjuk diri sendiri. “Saya, Mas?” Ia memutar bola mata malas. “Ya, iyalah. Emang saya ngomong sama siapa lagi? Di sini kan cuma ada kita berdua.” “Oh, iya… saya memang maba. Kenapa, Mas?” “Fakultas apa?” tanyanya lugas. Kamu mulai merasa bahwa kalian berada di kampus yang sama. “FSAD,” jawabmu berjalan di sampingnya. Pria itu tampak tersenyum tipis dan mengangguk menatap depan. “Jurusan?” “Matematika, Mas.” “Hm! Mateng kon,” desisnya lirih berpekik. Kamu yang menangkap samar sorakan tersebut menatap curiga. “Sekarang jam…” ucap pria itu berlagak melihat arloji yang melingkari lengan kirinya. Salah satu alisnya terangkat usil. “Lima menit lagi gerbang ditutup. Kalau kamu telat saya yang hukum,” lanjutnya mengeluarkan id card panitia ospek sebelum mengalungkan di leher penuh kesombongan. Sunghoon Hartono. Kamu terpaku akan namanya. Tampan seperti paras yang dimilikinya. “Kamu nggak lari? Apa mau saya hukum?” tanyanya memecah lamunan. “Eh? Kenapa saya harus lari?” tanyamu balik. Sunghoon tampak tidak habis pikir. “Ini saya siap-siap hukum kamu loh, Dek. Masa maba nggak disiplin begini? Ayo lari biar saya kejar.” Tiba-tiba saja tawamu menguar. Aneh, tetapi lucu. “Apa sih, Mas.” “Kok apa sih, apa sih. Kamu ini diajari disiplin jangan cengengesan,” balasnya tajam yang tak menusuk hati toh kamu tidak peduli. “Matematika juga?” tanyamu mengalihkan topik. “Nggak usah tanya-tanya saya. Sana cepet masuk barisanmu. Mana tanda pengenalnya?” Kepalamu menggeleng pelan. “Nggak punya.” Sunghoon tampak sangsi. Entah kenapa dimatanya kamu tidak sopan. “Kamu tak kasih poin pelanggaran. Besok-besok belajar sama saya.” “Saya maba pascasarjana, Mas. Kamu yang harusnya belajar sama saya,” pungkasmu berlagak tinggi hati. (+(1-4)) #sunghoon #enhypenedit
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy