@aislingyu._zy: "Cửu gia,ngài có bằng lòng cưới ta không?" [Hoa Khai Cẩm Tú] - Đặng Ân Hy,Đinh Vũ Hề #hoakhaicamtu #danganhy #dinhvuhe #phimcotrangtrungquoc #xuhuong #saohoangu #tiktok

aisling.
aisling.
Open In TikTok:
Region: VN
Saturday 15 August 2026 00:00:00 GMT
27074
1181
6
71

Music

Download

Comments

w84.u.vr
md. :
coi khúc này cười vì hphuc cho ảnh quó
2026-08-15 06:37:31
11
anhduyen366
安杜延🍀😘😎 :
phim hay quá mong chiếu nhiều tập hơn
2026-08-16 12:27:45
2
lav0p3
Vũ La :
tập bao nhiu vậy ạ
2026-08-16 02:57:17
1
me.suhan2021
🍀Mộc 🍀 :
T kưng chết luôn🥰🥰🥰
2026-08-15 06:11:29
1
user6396926282125
支持安樂死 :
我是無奈 這樣財團才會安排好我的亡生
2026-08-18 22:31:36
0
mochi5ting
mochi5ting :
💗💗💗💗💗
2026-08-15 08:39:27
0
To see more videos from user @aislingyu._zy, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | Lampu club dan dentuman musik yang menggema semalam kini hanya tersisa sebagai riak samar di kepalamu. Kamu baru saja terbangun. Terduduk di atas kasur, satu tangan memegangi kepalamu yang berdenyut berat, disusul ringisan kecil saat sinar matahari menyelinap melalui celah gorden apartemenmu. Dan yang lebih mengganggu, kamu bahkan tak mengingat persis apa yang terjadi semalam. Yang kamu ingat hanya tangismu yang pecah diam-diam di sudut club, diselingi racauan tanpa arah setelah mengetahui pacarmu berselingkuh. Namun, ada satu hal yang paling mengusik pikiranmu. Siapa yang mengantarmu pulang tadi malam? Kamu langsung menyingkap selimut, mencari ponsel yang entah sejak kapan tergeletak di atas kasur. Begitu menemukannya, jemarimu buru-buru membuka ponsel dan mencari satu nama. Shabrina. Tanpa pikir panjang, kamu menekan tombol panggil. Sambungan baru berdering dua kali sebelum suara serak terdengar dari seberang. “Apaan?” Suara gadis itu masih berat, jelas seperti belum sepenuhnya sadar dari tidur. “Bri, semalem gue pulang sama siapa?” tanyamu penuh penasaran. “Lah, lo nggak inget?” Nada Shabrina seketika berubah sedikit kaget. Kamu mengerutkan kening, berusaha mengingat potongan-potongan kejadian semalam. Kamu berdecak. “Kalau inget, ngapain gue nanya?” “Sunghoon.” Satu nama itu membuat keningmu semakin berkerut. “Hah? Sunghoon? Siapa? Gue nggak kenal, anjir.” Shabrina mendengus, tawa kecilnya nyaris lolos. “Pak Sunghoon, astaga. Yang punya lounge tempat kita dugem semalam, loh.” Matamu langsung terbelalak kaget. “What?! G-gue ngapain aja semalem?” Suaramu mendadak meninggi. “G-gue nggak aneh-aneh, kan? K-kok bisa gue sama dia?” Shabrina memutar bola mata diseberang. “Lo semalem nangisnya kayak dunia mau kiamat tahu, nggak.” Kamu terdiam, masih mencerna seluruh perkataan Shabrina tentangmu. Shabrina menghembuskan napas panjang sebelum kembali bersuara. “Lagian lo ngapain sih nangisin mokondo segitunya? Cowok di dunia ini masih banyak.” “Of course. Tapi yang seganteng Justin nggak banyak,” gumammu enteng. Shabrina langsung mendengkus jijik. “Tuh kan. Bego. Kata gue sih stop, ya.” Kamu memejamkan mata sebentar. Yang dikatakan Shabrina... memang ada benarnya juga. Kamu terlalu bodoh demi pria seperti Justin. ••• Di sisi lain, di ruang kerjanya, Sunghoon masih duduk menghadap laptop. Beberapa dokumen terbuka di atas meja ketika ponselnya yang diletakkan di samping laptop bergetar pelan. Satu notifikasi masuk, dengan nomor asing. 💬 Unknown Number Selamat pagi, Pak Sunghoon. Saya y/n. Kata Shabrina, semalam Bapak yang nganter saya pulang? Thank you sebelumnya. Sorry kalau semalam saya merepotkan. Sunghoon terdiam. Jadi, ini gadis yang ia antar pulang semalam? Jemarinya sempat bergerak hendak membalas, tapi urung. Tatapannya justru tertahan pada pesan itu beberapa detik, sebelum akhirnya beralih pada foto profil nomor itu. Begitu foto wajahmu muncul di layar, Sunghoon memandanginya cukup lama. Sesuatu nyaris terlukis di sudut bibirnya. Hampir, namun senyum itu tak pernah benar-benar muncul. “Oh... this one?” gumamnya lirih. Kepalanya mengangguk kecil, sementara manik matanya masih terpaku pada layar. Jempolnya kemudian bergerak perlahan, menyentuh bibirnya sendiri. Ingatan tentang semalam kembali melintas begitu saja. Tentang rasa hangat yang mendarat persis disana, tentang gadis yang bahkan dalam keadaan setengah sadar masih sempat membuatnya kehilangan kata-kata. Sunghoon menghembuskan napas pendek, sebelum akhirnya ia menaruh ponselnya dan pesan itu tetap dibiarkan tanpa balasan. ••• Tatapan Justin di ruang tamu apartemenmu terasa lebih panas daripada matahari yang menyengat di luar sana. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, jemarinya sesekali mengepal. Sejak tadi, matanya tak lepas darimu yang sama sekali tak terlihat terganggu. Kamu bahkan masih sibuk mematut diri di depan cermin, merapikan riasan seolah keberadaan Justin di sana bukan sesuatu yang perlu dipedulikan. “Semalem lo ke mana?” +💬 #pov #sunghoon #sunghoonenhypen #sunghoonedit #fyp
POV | Lampu club dan dentuman musik yang menggema semalam kini hanya tersisa sebagai riak samar di kepalamu. Kamu baru saja terbangun. Terduduk di atas kasur, satu tangan memegangi kepalamu yang berdenyut berat, disusul ringisan kecil saat sinar matahari menyelinap melalui celah gorden apartemenmu. Dan yang lebih mengganggu, kamu bahkan tak mengingat persis apa yang terjadi semalam. Yang kamu ingat hanya tangismu yang pecah diam-diam di sudut club, diselingi racauan tanpa arah setelah mengetahui pacarmu berselingkuh. Namun, ada satu hal yang paling mengusik pikiranmu. Siapa yang mengantarmu pulang tadi malam? Kamu langsung menyingkap selimut, mencari ponsel yang entah sejak kapan tergeletak di atas kasur. Begitu menemukannya, jemarimu buru-buru membuka ponsel dan mencari satu nama. Shabrina. Tanpa pikir panjang, kamu menekan tombol panggil. Sambungan baru berdering dua kali sebelum suara serak terdengar dari seberang. “Apaan?” Suara gadis itu masih berat, jelas seperti belum sepenuhnya sadar dari tidur. “Bri, semalem gue pulang sama siapa?” tanyamu penuh penasaran. “Lah, lo nggak inget?” Nada Shabrina seketika berubah sedikit kaget. Kamu mengerutkan kening, berusaha mengingat potongan-potongan kejadian semalam. Kamu berdecak. “Kalau inget, ngapain gue nanya?” “Sunghoon.” Satu nama itu membuat keningmu semakin berkerut. “Hah? Sunghoon? Siapa? Gue nggak kenal, anjir.” Shabrina mendengus, tawa kecilnya nyaris lolos. “Pak Sunghoon, astaga. Yang punya lounge tempat kita dugem semalam, loh.” Matamu langsung terbelalak kaget. “What?! G-gue ngapain aja semalem?” Suaramu mendadak meninggi. “G-gue nggak aneh-aneh, kan? K-kok bisa gue sama dia?” Shabrina memutar bola mata diseberang. “Lo semalem nangisnya kayak dunia mau kiamat tahu, nggak.” Kamu terdiam, masih mencerna seluruh perkataan Shabrina tentangmu. Shabrina menghembuskan napas panjang sebelum kembali bersuara. “Lagian lo ngapain sih nangisin mokondo segitunya? Cowok di dunia ini masih banyak.” “Of course. Tapi yang seganteng Justin nggak banyak,” gumammu enteng. Shabrina langsung mendengkus jijik. “Tuh kan. Bego. Kata gue sih stop, ya.” Kamu memejamkan mata sebentar. Yang dikatakan Shabrina... memang ada benarnya juga. Kamu terlalu bodoh demi pria seperti Justin. ••• Di sisi lain, di ruang kerjanya, Sunghoon masih duduk menghadap laptop. Beberapa dokumen terbuka di atas meja ketika ponselnya yang diletakkan di samping laptop bergetar pelan. Satu notifikasi masuk, dengan nomor asing. 💬 Unknown Number Selamat pagi, Pak Sunghoon. Saya y/n. Kata Shabrina, semalam Bapak yang nganter saya pulang? Thank you sebelumnya. Sorry kalau semalam saya merepotkan. Sunghoon terdiam. Jadi, ini gadis yang ia antar pulang semalam? Jemarinya sempat bergerak hendak membalas, tapi urung. Tatapannya justru tertahan pada pesan itu beberapa detik, sebelum akhirnya beralih pada foto profil nomor itu. Begitu foto wajahmu muncul di layar, Sunghoon memandanginya cukup lama. Sesuatu nyaris terlukis di sudut bibirnya. Hampir, namun senyum itu tak pernah benar-benar muncul. “Oh... this one?” gumamnya lirih. Kepalanya mengangguk kecil, sementara manik matanya masih terpaku pada layar. Jempolnya kemudian bergerak perlahan, menyentuh bibirnya sendiri. Ingatan tentang semalam kembali melintas begitu saja. Tentang rasa hangat yang mendarat persis disana, tentang gadis yang bahkan dalam keadaan setengah sadar masih sempat membuatnya kehilangan kata-kata. Sunghoon menghembuskan napas pendek, sebelum akhirnya ia menaruh ponselnya dan pesan itu tetap dibiarkan tanpa balasan. ••• Tatapan Justin di ruang tamu apartemenmu terasa lebih panas daripada matahari yang menyengat di luar sana. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, jemarinya sesekali mengepal. Sejak tadi, matanya tak lepas darimu yang sama sekali tak terlihat terganggu. Kamu bahkan masih sibuk mematut diri di depan cermin, merapikan riasan seolah keberadaan Justin di sana bukan sesuatu yang perlu dipedulikan. “Semalem lo ke mana?” +💬 #pov #sunghoon #sunghoonenhypen #sunghoonedit #fyp

About