@uno.yk_:

UNO You Know🖤💠
UNO You Know🖤💠
Open In TikTok:
Region: CA
Friday 14 August 2026 14:26:22 GMT
23168
5043
16
151

Music

Download

Comments

d2345yhd
Veronica :
I will disappear from you 🥱🫣
2026-08-21 20:00:06
0
faviraya
pretty Dami💕 :
with immediate effect
2026-08-22 20:44:37
0
princesslunar636
♓️P… lunar🍭✂️ :
Gbam
2026-08-14 17:13:57
2
serene_blessing
𝓑♡ :
Immediately.
2026-08-15 20:16:39
0
julyqueen805
Peace :
as suppose
2026-08-14 15:48:59
1
couragpealyn
Courage Luxe Design 🪡🧵 :
Oh 🥺🥺
2026-08-16 13:43:39
0
unique_similoluwa125
simi.era🌸 :
sharp sharp
2026-08-16 12:35:04
0
grllkqueen2
𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷🧸💕 :
Real
2026-08-14 18:53:52
0
yourrichie3
Richie✨🇨🇳 :
Gm
2026-08-14 14:45:45
1
whuraola090
Mosunmola😔🩷 :
Fr
2026-08-15 20:49:47
0
princess.45255
Seyrah 💫🥹❤️ :
Pls on repost button pls 😪😭
2026-08-15 21:06:02
0
bbyshine03
🥀Šħîňê :
You deserve my follow 🥰🥰
2026-08-15 09:06:44
0
olamhi89
Ola Mhï DHĒ❤️🤍 :
That one no concern me, make TikTok just help me commot my account from shadow banned oh
2026-08-14 16:48:15
0
favysunshine6
Sunshine Lifestyle✨ :
TikTok I’m not robot o
2026-08-14 14:43:19
0
dino6217
Dino :
💯
2026-08-22 10:44:51
0
To see more videos from user @uno.yk_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

`📔𝐀𝐝𝐚𝐛 𝐁𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐒𝐢𝐤𝐚𝐩 𝐈𝐥𝐦𝐢𝐚𝐡` Di antara adab paling penting dalam menuntut ilmu adalah menjaga sikap terhadap guru. Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya tawadhu’, hormat, dan husnuzan kepada orang yang mengajarkan ilmu. Sebab ilmu bukan hanya dipindahkan lewat lisan, tetapi juga diwariskan melalui adab. *Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf:* “Barang siapa berkata kepada gurunya: ‘Mengapa?’ maka ia tidak akan pernah beruntung.” Ucapan ini bukan berarti murid dilarang bertanya atau tidak boleh berdiskusi. Maksudnya adalah larangan membantah dengan sikap sombong, meremehkan guru, atau mempertanyakan perkataannya dengan nada penentangan dan merasa diri lebih tahu. Banyak orang gagal mendapatkan keberkahan ilmu bukan karena kurang cerdas, tetapi karena buruknya adab ketika belajar. Ada yang baru memahami sedikit ilmu lalu mudah menyalahkan gurunya. Ada yang lebih senang berdebat daripada mendengar. Ada pula yang sibuk mencari celah kesalahan, namun lupa memperbaiki dirinya sendiri. Padahal para ulama terdahulu duduk di hadapan guru dengan penuh penghormatan. Mereka bersabar atas kerasnya didikan, mencatat setiap faedah, dan tidak tergesa-gesa membantah sebelum benar-benar memahami maksud gurunya. Namun Islam juga tidak mengajarkan kultus terhadap guru. Guru bukan manusia ma’shum yang tidak mungkin salah. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa murid tetap boleh bertanya, berdiskusi, bahkan mengoreksi, selama dilakukan dengan adab, kelembutan, dan niat mencari kebenaran, bukan memenangkan ego. *Imam Adz-Dzahabi (w. 748 H) dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (jld. 17, hlm. 251–252)* menjelaskan bahwa jika seorang guru tidak suka dikoreksi padahal ia bukan orang yang ma’shum, maka itu adalah kekeliruan. Sebab Islam mengajarkan saling menasihati dalam kebenaran dan kasih sayang. *Maka hubungan guru dan murid yang ideal adalah hubungan yang dibangun di atas dua hal:* 1. hormat dan tawadhu’ dari murid, 2. serta kelapangan dada dan ketulusan dari guru. Murid tidak pantas merasa paling benar di hadapan gurunya. Dan guru pun tidak boleh menutup pintu diskusi ilmiah. Sebab ilmu tumbuh dengan adab, berkembang dengan musyawarah, dan menjadi berkah dengan keikhlasan. Di zaman sekarang, banyak orang mudah berbicara, mudah mengkritik, dan mudah merasa paling paham, padahal belum lama belajar. Media sosial membuat sebagian orang lupa bahwa ilmu memiliki tangga, proses, dan etika. Mereka ingin cepat dianggap alim, tetapi belum selesai memperbaiki adab terhadap guru. Padahal para ulama besar lahir dari panjangnya kesabaran dalam belajar. Mereka memuliakan guru-gurunya, mengambil manfaat dari akhlaknya, lalu setelah matang barulah mereka berdiskusi dan mengkritik dengan penuh kehormatan. Karena itu, siapa pun yang sedang menuntut ilmu hendaknya selalu menjaga hati. Jangan sampai semangat mencari kebenaran berubah menjadi kesombongan tersembunyi. Bertanyalah dengan sopan. Berdiskusilah dengan tenang. Dengarkan sebelum membantah. Dan jangan jadikan ilmu sebagai alat untuk meninggikan diri. Sebab keberhasilan dalam menuntut ilmu bukan hanya diukur dari banyaknya hafalan, tetapi dari seberapa besar adab tumbuh bersama ilmu tersebut. `𓂃©® 𝐔𝐲𝐮𝐧𝐮𝐥 𝐌𝐚𝐬𝐚'𝐢𝐥𓂃` #adab #muriddanguru
`📔𝐀𝐝𝐚𝐛 𝐁𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐒𝐢𝐤𝐚𝐩 𝐈𝐥𝐦𝐢𝐚𝐡` Di antara adab paling penting dalam menuntut ilmu adalah menjaga sikap terhadap guru. Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya tawadhu’, hormat, dan husnuzan kepada orang yang mengajarkan ilmu. Sebab ilmu bukan hanya dipindahkan lewat lisan, tetapi juga diwariskan melalui adab. *Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf:* “Barang siapa berkata kepada gurunya: ‘Mengapa?’ maka ia tidak akan pernah beruntung.” Ucapan ini bukan berarti murid dilarang bertanya atau tidak boleh berdiskusi. Maksudnya adalah larangan membantah dengan sikap sombong, meremehkan guru, atau mempertanyakan perkataannya dengan nada penentangan dan merasa diri lebih tahu. Banyak orang gagal mendapatkan keberkahan ilmu bukan karena kurang cerdas, tetapi karena buruknya adab ketika belajar. Ada yang baru memahami sedikit ilmu lalu mudah menyalahkan gurunya. Ada yang lebih senang berdebat daripada mendengar. Ada pula yang sibuk mencari celah kesalahan, namun lupa memperbaiki dirinya sendiri. Padahal para ulama terdahulu duduk di hadapan guru dengan penuh penghormatan. Mereka bersabar atas kerasnya didikan, mencatat setiap faedah, dan tidak tergesa-gesa membantah sebelum benar-benar memahami maksud gurunya. Namun Islam juga tidak mengajarkan kultus terhadap guru. Guru bukan manusia ma’shum yang tidak mungkin salah. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa murid tetap boleh bertanya, berdiskusi, bahkan mengoreksi, selama dilakukan dengan adab, kelembutan, dan niat mencari kebenaran, bukan memenangkan ego. *Imam Adz-Dzahabi (w. 748 H) dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (jld. 17, hlm. 251–252)* menjelaskan bahwa jika seorang guru tidak suka dikoreksi padahal ia bukan orang yang ma’shum, maka itu adalah kekeliruan. Sebab Islam mengajarkan saling menasihati dalam kebenaran dan kasih sayang. *Maka hubungan guru dan murid yang ideal adalah hubungan yang dibangun di atas dua hal:* 1. hormat dan tawadhu’ dari murid, 2. serta kelapangan dada dan ketulusan dari guru. Murid tidak pantas merasa paling benar di hadapan gurunya. Dan guru pun tidak boleh menutup pintu diskusi ilmiah. Sebab ilmu tumbuh dengan adab, berkembang dengan musyawarah, dan menjadi berkah dengan keikhlasan. Di zaman sekarang, banyak orang mudah berbicara, mudah mengkritik, dan mudah merasa paling paham, padahal belum lama belajar. Media sosial membuat sebagian orang lupa bahwa ilmu memiliki tangga, proses, dan etika. Mereka ingin cepat dianggap alim, tetapi belum selesai memperbaiki adab terhadap guru. Padahal para ulama besar lahir dari panjangnya kesabaran dalam belajar. Mereka memuliakan guru-gurunya, mengambil manfaat dari akhlaknya, lalu setelah matang barulah mereka berdiskusi dan mengkritik dengan penuh kehormatan. Karena itu, siapa pun yang sedang menuntut ilmu hendaknya selalu menjaga hati. Jangan sampai semangat mencari kebenaran berubah menjadi kesombongan tersembunyi. Bertanyalah dengan sopan. Berdiskusilah dengan tenang. Dengarkan sebelum membantah. Dan jangan jadikan ilmu sebagai alat untuk meninggikan diri. Sebab keberhasilan dalam menuntut ilmu bukan hanya diukur dari banyaknya hafalan, tetapi dari seberapa besar adab tumbuh bersama ilmu tersebut. `𓂃©® 𝐔𝐲𝐮𝐧𝐮𝐥 𝐌𝐚𝐬𝐚'𝐢𝐥𓂃` #adab #muriddanguru

About