@noimithietkesg:

Noimisaigon
Noimisaigon
Open In TikTok:
Region: VN
Sunday 16 August 2026 02:41:35 GMT
755
147
7
1

Music

Download

Comments

tttuyetchinh
tuyetchinh :
Cưng quá đi
2026-08-16 02:51:54
0
tuantr2207
22th.07. ✨ :
Cho thơm má tý
2026-08-16 04:00:10
0
ngocquang85zamilsteel
NgocQuang WELDER WEDING :
🥰🥰🥰
2026-08-17 05:25:34
0
phamhoangkhanh_nek
khanh hoàng :
😋🥰🥰🤓
2026-08-17 04:01:29
0
minhhuyphan70
Minh Huy Phan :
❤️❤️❤️
2026-08-16 10:30:58
0
dyx3jx26umqa
Trịnh Huy :
❤️❤️❤️
2026-08-16 03:11:03
0
tranlegiahuy79
GiaHuy69 :
🥰🥰🥰
2026-08-17 05:48:19
0
To see more videos from user @noimithietkesg, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#janjingjing [2/3]  Malam itu, Janhae sedang makan malam bersama keluarganya. Suasana rumah terasa hangat, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan selama tinggal di Eropa. ‎ ‎Ibunya terus mengambilkan makanan untuknya. ‎ ‎
#janjingjing [2/3] Malam itu, Janhae sedang makan malam bersama keluarganya. Suasana rumah terasa hangat, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan selama tinggal di Eropa. ‎ ‎Ibunya terus mengambilkan makanan untuknya. ‎ ‎"Jan, makan yang banyak. Kamu kelihatan lebih kurus." ‎ ‎Janhae tertawa kecil. ‎ ‎"Iya, Ma. Aku kangen masakan rumah." ‎ ‎Mereka mengobrol tentang banyak hal. Tentang Eropa, pekerjaan Janhae, dan kehidupan selama tiga tahun terakhir. ‎ ‎Namun tiba-tiba ibunya terdiam. ‎ ‎"Jan..." ‎ ‎"Iya, Ma?" ‎ ‎"Kamu masih ingat Jingjing?" ‎ ‎Mendengar nama itu, Janhae langsung menghentikan makannya. ‎ ‎"Iya." ‎ ‎Ibunya menunduk sesaat sebelum melanjutkan. ‎ ‎"Jingjing sudah meninggal." ‎ ‎Janhae membeku. ‎ ‎Sendok yang ada di tangannya perlahan terlepas. ‎ ‎"A-apa?" ‎ ‎"Dia menikah setahun setelah kamu pergi ke Eropa." ‎ ‎Janhae hanya diam mendengarkan. ‎ ‎"Tapi rumah tangganya tidak berjalan baik. Dia mengalami banyak penderitaan. Sampai akhirnya kondisi dirinya semakin memburuk dan dia meninggal tahun lalu." ‎ ‎Ruangan itu mendadak terasa sunyi bagi Janhae. ‎ ‎Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. ‎ ‎Orang yang dulu pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya kini sudah tidak ada. ‎ ‎"Di mana makam Jingjing?" ‎ ‎Suara Janhae terdengar pelan. ‎ ‎Ibunya menatapnya khawatir. ‎ ‎"Jan..." ‎ ‎"Di mana makamnya, Ma?" ‎ ‎Akhirnya ibunya memberikan alamat pemakaman itu. ‎ ‎Tanpa berpikir panjang, Janhae langsung berdiri dari kursinya. ‎ ‎"Mau ke mana malam-malam begini?" tanya ayahnya. ‎ ‎"Aku mau liat makamnya." ‎ ‎Beberapa detik kemudian, Janhae sudah berada di dalam mobil. ‎ ‎--- ‎ ‎Malam semakin larut ketika Janhae tiba di pemakaman. ‎ ‎Lampu-lampu jalan yang redup menemani langkahnya menyusuri deretan makam. ‎ ‎Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah batu nisan. ‎ ‎Di sana tertulis nama yang begitu ia kenal. ‎ ‎Jingjing. ‎ ‎Untuk beberapa saat, Janhae hanya berdiri diam. ‎ ‎Dadanya terasa sesak. ‎ ‎Tiga tahun. ‎ ‎Tiga tahun ia pergi untuk mencoba melupakan Jingjing. ‎ ‎Tiga tahun ia berharap suatu hari nanti bisa bertemu lagi dengannya. ‎ ‎Namun bukan pertemuan seperti ini yang ia bayangkan. ‎ ‎Perlahan ia berjongkok di depan makam itu. ‎ ‎"Halo, Jing..." ‎ ‎Suaranya bergetar. ‎ ‎"Aku pulang." ‎ ‎Air mata mulai jatuh satu per satu. ‎ ‎"Maaf sempat marah sama kamu karena pergi dari hidupku." ‎ ‎Janhae tertawa kecil, meski suaranya terdengar menyakitkan. ‎ ‎"Tapi ternyata sekarang kamu pergi lebih jauh lagi." ‎ ‎Ia menundukkan kepala. ‎ ‎"Andai aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini..." ‎ ‎Kalimat itu terhenti begitu saja. ‎ ‎Malam terasa semakin dingin. ‎ ‎Janhae duduk cukup lama di sana, ditemani keheningan dan kenangan tentang seseorang yang pernah sangat ia cintai. ‎ ‎Sebelum pulang, ia mengusap pelan batu nisan itu. ‎ ‎"Selamat istirahat." ‎ ‎Lalu untuk pertama kalinya malam itu, Janhae membiarkan dirinya menangis tanpa mencoba menahannya lagi. ‎Karena kini ia sadar... ‎ ‎Tidak semua orang yang kita cintai akan kembali. ‎ Tidak semua kepulangan berakhir dengan pelukan. Ada yang pulang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal di depan sebuah nisan. ‎ ‎ . . . . yahhh jadi ubi... #os

About