@aksarapena.id: Lucunya, kita sering diajari menjadi tempat pulang bagi banyak orang, tetapi tidak pernah diajari cara pulang kepada diri sendiri. Kamu sibuk merawat hati orang-orang yang bahkan tak sadar kamu sedang berdarah. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa mengalah itu mulia, memahami itu dewasa, dan memendam adalah bukti sabar luar biasa. Lama-kelamaan, kita hafal membaca perubahan nada bicara orang lain, tetapi asing terhadap suara hati sendiri. Kamu belajar memahami. Belajar mengalah. Belajar memaklumi. Kamu memberi ruang bagi kecewa, marah, lelah, bahkan ego orang lain. Tapi setiap kali perasaanmu sendiri ingin bicara, kamu menyuruhnya diam. Seolah-olah ia tidak sepenting itu. Kamu terlalu sering bertanya, "Apa yang mereka rasakan?" Sampai lupa ada satu pertanyaan yang tidak pernah kamu ajukan kepada dirimu sendiri: "Bagaimana dengan aku?" Mungkin itu sebabnya kamu menjadi orang yang selalu tampak baik-baik saja. Bukan karena hidupmu benar-benar baik, melainkan karena kamu sudah terlalu terbiasa menyembunyikan segala yang ingin disampaikan hatimu. Setiap kecewa kamu telan. Setiap lelah kamu anggap biasa. Setiap air mata kamu tunda sampai semua orang tertidur. Seolah-olah perasaanmu harus selalu antre, menunggu giliran yang tidak pernah benar-benar datang. Perasaanmu juga pantas diberi ruang. Bukan setelah semua orang selesai didahulukan. Bukan setelah semua luka orang lain sembuh. Sekarang. Sebab jika terus kau paksa diam, ia tidak akan benar-benar hilang. Ia akan menjelma menjadi lelah yang tak bisa dijelaskan, senyum yang terasa berat, dan hati yang perlahan lupa bagaimana rasanya bahagia. Barangkali, menjadi manusia dewasa itu bukan sekadar mampu memeluk orang lain. Melainkan berani berkata kepada diri sendiri, "Kali ini, aku tidak akan meninggalkanmu lagi." #aksarapena #sebuahtulisan #berhakdidengar #prosa #fyp
AksaraPena_
Region: ID
Sunday 16 August 2026 06:45:46 GMT
Music
Download
Comments
diyan :
Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa mengalah itu mulia Memahami itu dewasa& memendam adalah bukti sabar luar biasa.Baca ini aku tersenyum.Tersenyum ke diri sendiri.Karena ternyata selama ini aku bangga jadi orang yg paling ngerti.Paling sabar.Paling dewasa.Paling bisa mengalah.Sampai lupa kapan terakhir kali aku ngerti sama diri sendiri.Kamu belajar memahami.Belajar mengalah Belajar memaklumi.Kamu memberi ruang bagi kecewa.marah,lelah bahkan ego orang lain.Tapi setiap kali perasaanmu sendiri ingin bicara.Kamu menyuruhnya diam.Gila ngena banget.Karena aku memang begitu.Aku hafal jam berapa dia sedih.Hafal nada suara kalau dia capek.Hafal cara nenangin semua orang.Tapi asing sama suara didalam kepalaku sendiri.Karena kelamaan disuruh nanti dulu ya...Kamu terlalu sering bertanya.Apa yg mereka rasakan Sampai lupa ada satu pertanyaan yg tidak pernah kamu ajukan ke dirimu sendiri.Bagaimana dengan aku?Gila sih pertanyaan ini.Sederhana 3 kata.Tapi seumur hidup baru sekarang aku berani jujur.Aku capek.Aku kecewa.Aku juga butuh dipahami.Setiap kecewa kamu telan.Setiap lelah kamu anggap biasa.Setiap air mata kamu tunda sampai semua orang tertidur Iya karena kita diajari nangis itu berisik.Lelah itu lebay.Kecewa itu gak dewasa.Jadi kita simpan.Kita telan dan kita tunda.Sampai dunia tidur.Baru kita runtuh pelan2 dikamar.Perasanmu jg pantas diberi ruang.Bukan setelah semua orang selesai didahulukan.Bkn setelah semua luka org lain sembuh.Ini kalimat yg ngebuka kunci.Selama ini aku nunggu giliran.Nunggu semua orang baik2 dulu.Nunggu semua orang sembuh dulu.Baru aku boleh capek.Baru aku blh istirahat Padahal kalau hrs dipaksa diam.Ia tdk akan benar2 hilang.Ia akan menjelma jadi lelah yg tak bisa dijelaskan Senyum yg terasa berat & hati yg perlahan lupa.Bgmna rasanya bhagia & kalimat terakhir ini..brng kali mnjdi manusia dewasa itu bukan sekedar mampu memeluk org lain.Melainkan berani berkata kpd diri sendiri.Kali ini aku tdk akan meninggalkanmu lgi.Bhwa mnjaga orang lain itu mulia.Tpi mnjaga diri sendiri itu wajib.Aku gk tau hrs jwb apa krn jwban terbaik adalah .Aku pulang.Pulang kediri sendiri.Pelan2 tanpa drama dan tanpa berisik.Ini bukan ego.Ini bukan lemah.Ini pulang
2026-08-16 10:56:52
4
Sriastuti Madu Lestari :
Aku baik baik saja 🥹🥲
2026-08-16 07:19:46
1
verarputra :
Cukup simpan dalam sunyi,hanya Allah dan aku...🥹🥹🥹🙏
2026-08-16 08:03:50
3
Atie W :
Ya...
Kita terlalu sering mengatakan pada orang lain tidak apa apa, aku baik baik saja, Namun ketika malam sunyi...hati kembali kepada diri, yang seutuhnya, Namun Selama Aku bersama Roobb ku aku akan baik baik saja, tidak ada tempat terbaik mengadu hanya dalam sujudku. Tak apa orang lain tak perlu tahu.
2026-08-16 13:30:14
3
Ast-R :
"Kali ini ,Aku Tidak akan Meninggalkanmu lagi 🥰😭"
2026-08-20 12:28:31
0
yaniendrawati :
nyatanya,,,
2026-08-16 12:02:26
0
BioLa's shop :
true😭😭😭😭
2026-08-16 10:59:32
0
honeybee.198 :
terbaik🥰
2026-08-16 07:59:15
1
Wiji Lestari2899 :
Menjadi manusia dewasa itu bukan sekadar mampu memeluk orang lain. Melainkan berani berkata dan memeluk diri sendiri🫠🙌
2026-08-16 09:40:13
3
widya :
iya,mencintai diri sendiri itu penting
2026-08-17 05:13:26
1
introvert232 :
aku tetap sayang kepada kalian semua❤️❤️❤️
2026-08-18 11:02:24
1
uti :
Betul sekali..aku sendiri selalu mendahulukan orang lain..apapun itu..dan untuk diriku sendiri biar yang terakhir gak apa2...yang penting orang2 yang aku sayang aku dahulukan.
2026-08-18 13:20:49
1
Adya Aishawarya :
udah kebal dn g perduli 😂
lebih baik membahagiakan diri sendiri
2026-08-16 11:17:06
1
DAMAR :
2026-08-18 06:03:58
0
TENGKU INDRA57 :
dari banyak artikel si Akserapena.,ini yang The best versi hati gua.,mengingat betapa pentingnya memberi ruang kosong untuk diri sendiri.& kalau demikian adanya gw setuju bgt😁😂🤣🤣🥰🙏
2026-08-17 16:10:35
1
atisa blue :
👍
2026-08-16 11:52:15
0
my_ra77 :
Kadang kita terlalu sibuk bertahan,
sampai lupa bahwa diri sendiri juga pantas dipeluk🥹
Kita membiarkan luka menjadi kebiasaan,
kecewa kita telan, lelah kita sebut biasa,......
Padahal perasaan bukan kelemahan yang harus disembunyikan.
Ia hanya ingin didengar, diberi ruang, lalu perlahan dipulangkan.
Sebab ada saatnya kita berhenti bertanya,
“Seberapa kuat aku bisa menahan?”
dan mulai bertanya,
“Seberapa lama lagi aku harus menyakiti diriku sendiri demi terlihat baik-baik saja?”
2026-08-16 06:57:17
4
Bang_NAS :
Banyak manusia bertandang ke ruangku, menumpahkan semua luka dan jelaga.
Aku menyediakan bejana yang bisa menampung seluruh luka dan sakit mereka, tak jarang aku juga menyediakan jamu untuk menghangatkan jiwa mereka yang sudah membeku oleh dinginnya doa yang tak kunjung terjawab.
Entah berapa puluh bejana dengan nama-nama yang berbeda, tersusun rapi di ruaangku.
Dan diantara pemiliknya ada kembali datang mengucapkan terima kasih, namun banyak juga yang kemudian hilang tanpa bilang, seolah namaku sudah terhapus dari memorinya.
Aku selalu berpikir, jika memang tugasku sebagai badut tongkrongan yang harus menyajikan kejenakaan agar jiwa-jiwa yang sedang gundah menemukan caranya tertawa.
Entah berapa topeng yang pernah kupakai untuk membuat mereka puas dan tertawa lepas.
Hingga pada titik, aku menyadari jika aku makik tenggelam di kehilangan atas diriku sendiri.
Mereka menemukan rumah yang tak pernah terkunci, meja yang penuh jamuan solusi, dan beberapa tawa yang bisa mereka nikmati.
Namun, aku sendiri bingung harus mengetuk pintu rumah yang mana, karena setiap nama yang kuketuk selalu menolak halus dengan alasab yang hampir sama.
Kata orang, menjadi orang baik dan bermanfaat adalah suatu keharusan. Tapi sepertinya, aku perlu meralat perkataan dogmatis itu, karena faktanya terlalu baik justru seringkali menemukan anomali yang mengaku dirinya sebagai saudara atau teman.
Maka sejak kesadaranku mulai terbangun, aku memutuskan untuk menepi, menutup ruangku, membuang sebua bejana derita mereka.
Karena bagiku, jika mereka tak bisa memanusiakanku, maka aku sendiri yang harus memanusiakan diriku.
Menjauhi riuh yang meracuni, adalah sebuah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
2026-08-16 08:27:33
4
To see more videos from user @aksarapena.id, please go to the Tikwm
homepage.