ojol :
Dalam filsafat, kepemilikan termasuk kategori aksidental. Kepemilikan tidak menentukan hakikat sesuatu, tetapi menunjukkan relasi tertentu antara sesuatu dengan pihak yang memilikinya. Ketika dikatakan “rumah ini milik saya”, rumah itu tidak berubah hakikatnya. Ia tetap merupakan rumah ketika berpindah pemilik. Demikian pula tanah: status kepemilikannya dapat berubah tanpa mengubah keberadaan tanah itu sendiri.
Karena itu, perlu dibedakan antara fakta menempati secara historis dan kepemilikan secara hakiki. Menjadi penghuni pertama hanya merupakan fakta mengenai urutan kehadiran. Sebuah suku atau kelompok tidak menciptakan bumi, gunung, sungai, dan tanah yang ditempatinya. Semua itu telah ada sebelum kelompok tersebut hadir dan tetap dapat ada setelah kelompok tersebut tidak lagi berada di sana. Tidak ada kelompok manusia yang memiliki status sebagai pemilik eksistensial atas bumi.
Dalam perspektif keagamaan, gagasan ini bahkan ditemukan dalam berbagai tradisi kitab suci. Al-Qur’an mengenal ungkapan tentang bumi sebagai milik Tuhan, sementara tradisi Biblikal dan Mazmur juga menegaskan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan. Pesan dasarnya bersifat universal: manusia bukan pemilik eksistensial bumi. Manusia menerima bumi untuk ditempati, dimanfaatkan, dikelola, dan diwariskan.
Dengan demikian, kepemilikan manusia lebih tepat dipahami sebagai hak guna dan hak kelola yang bersifat relasional. Hak tersebut dapat diakui secara hukum, adat, atau politik, tetapi tidak berubah menjadi kepemilikan ontologis. Bahkan jika suatu kelompok telah hidup di suatu wilayah selama berabad-abad, hubungan historis itu tidak menjadikan wilayah tersebut sebagai bagian dari substansi kelompok tersebut.
Persoalannya menjadi serius ketika konstruksi kepemilikan teritorial diangkat menjadi klaim mutlak. Wilayah yang secara historis dihuni suatu kelompok kemudian dianggap hanya boleh dihuni oleh kelompok itu, sementara manusia lain yang telah hidup, bekerja, berkeluarga, dan membangun kehidupannya di sana diperlakukan sebagai orang asing. Pada titik ini, konstruksi kepemilikan mulai mengorbankan eksistensi manusia.
2026-08-19 02:05:04