@bimra_13: Dc:@Tello Nelson #foryou @Mr D〽️pfqp #pourtoi #mrberry #danse #xyzabc

BMR_Z33
BMR_Z33
Open In TikTok:
Region: DE
Sunday 16 August 2026 08:35:19 GMT
96342
6618
16
413

Music

Download

Comments

mapangpangboeler0
Defnot Valentina :
oh.. damn...
2026-08-29 08:12:09
0
danilson662
💫Ny Dallas_øficial 💎 :
https://vt.tiktok.com/ZSVYHg23n/
2026-08-16 14:16:07
0
tomek.ausrufezeichen
tomek :
2026-08-16 09:53:00
1
usersamba40
Samba🇲🇷.🇮🇨 :
🥰🥰🥰
2026-08-28 20:18:18
0
mohammad.adam471
mohammad.adam471 :
🥰🥰🥰
2026-08-16 08:47:19
0
mohammad.adam471
mohammad.adam471 :
😁😁😁
2026-08-16 08:47:15
0
goody2130
Goody :
😳😳😳
2026-08-16 16:40:34
0
To see more videos from user @bimra_13, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Suatu hari aku sedang melaksanakan shalat di dalam kompleks suci dua Imam di Haram al-Askariyyain. Saat itu suasana begitu sunyi. Tidak ada seorang pun selain diriku. Tiba-tiba seorang lelaki Turki memasuki tempat suci tersebut. Setelah selesai berziarah, ia menghadap kepada Imam dan mulai berbicara dalam bahasa Turki. Kurang lebih, ia berkata: “Aku ingin engkau mengembalikan uang bekalku yang hilang. Engkau tahu bahwa aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk bisa pulang ke negeriku. Seluruh bekalku hanya itulah. Aku tidak akan meninggalkanmu sampai engkau mengembalikannya kepadaku.” Namun cara bicaranya semakin lama semakin keras. Ia bahkan mengucapkan beberapa perkataan dengan bahasa awam yang terdengar kurang sopan dan agak berani di hadapan Imam. Syekh Zainul Abidin as-Salmasi mendengar semua itu. Lelaki tersebut mungkin mengira bahwa sang Syekh tidak memahami bahasa Turki yang digunakannya. Maka beliau segera menghampirinya dan berkata: “Apa maksudmu berbicara seperti itu? Mengapa engkau tidak menjaga adab kepada Imam (as) dan berani berbicara seperti itu?” Beliau menegur lelaki tersebut dan memintanya menghentikan perkataannya. Namun lelaki itu justru menjawab dengan penuh keyakinan: “Apa urusanmu mencampuri urusanku dengan Imamku? Kembalilah kepada urusanmu sendiri. Aku lebih mengenal beliau dan mengetahui hak beliau daripada engkau. Aku tidak akan meninggalkannya sebelum keinginanku terpenuhi.” Syekh as-Salmasi pun kembali ke tempatnya di salah satu sudut haram, di sisi yang mengarah ke bagian kepala makam. Sementara lelaki itu kembali berdiri di dekat makam, berbicara kepada Imam dan berkeliling di sekitar dharih. Syekh as-Salmasi kemudian duduk sambil merenungkan tingkah lelaki tersebut. Tiba-tiba... Terdengar sebuah suara. Suara itu terdengar seperti bunyi rantai yang jatuh ke sebuah wadah logam. Syekh as-Salmasi segera menoleh. Di dekat dharih, dari arah bagian kepala makam, tampak sebuah kantong kecil telah terjatuh ke lantai. Yang lebih menakjubkan, saat itu lelaki Turki tadi sedang berada di sisi kaki makam. Begitu mendengar suara tersebut, ia segera berbalik menuju arah kepala. Dan ketika melihat benda yang tergeletak di sana, ia menemukan kantong miliknya! Wajahnya seketika berubah. Ia mengambil kantong tersebut dengan penuh kegembiraan. Hatinya dipenuhi kebahagiaan seolah baru saja mendapatkan kembali seluruh harapannya. Kemudian ia mendatangi Syekh as-Salmasi dan berkata dengan penuh keyakinan: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu? Aku berhasil mendapatkan kembali kantongku dari kedua Imam ini dengan perkataan-perkataanku yang tadi engkau anggap tidak sopan dan bahkan membuatmu merasa tidak nyaman.” Lalu ia melanjutkan: “Kalau aku tidak berbicara seperti itu kepada mereka, mungkin mereka tidak akan memperhatikanku.” Syekh Zainul Abidin as-Salmasi hanya bisa terdiam. Ia menyaksikan sendiri keyakinan lelaki sederhana itu dan ketulusan hatinya dalam bertawassul kepada Imam. Hatinya dipenuhi rasa takjub. Ia pun bersyukur kepada Allah SWT karena telah diperlihatkan salah satu tanda dari kekuasaan dan karāmah para Hujjah Allah dari Ahlulbayt (as). Sebuah kisah yang menyisakan renungan: Kadang-kadang seseorang datang kepada Wali Allah dengan bahasa yang sangat sederhana, bahkan dengan cara yang mungkin dianggap tidak pantas oleh orang lain. Namun di balik kesederhanaan itu bisa terdapat keyakinan yang begitu kuat. Lelaki itu tidak datang membawa banyak bekal. Ia hanya datang membawa sebuah harapan dan keyakinan bahwa Imamnya tidak akan membiarkannya pulang dalam keadaan kehilangan. Dan menurut kisah yang dinukil tersebut, harapan itu akhirnya menemukan jawabannya di tempat yang sama, di hadapan makam dua Imam Ahlulbayt (as). Referensi: 📖 Dar al-Salam, hlm. 260 – Mirza Husain al-Nuri al-Tabarsi 📖 Ma'athir al-Kubara fi Tarikh Samarra, jilid 2, hlm. 152 – Syekh Dzabihullah al-Mahallati #islam #ulama #dakwah #imamalialhadi #imamhasanalaskari
Suatu hari aku sedang melaksanakan shalat di dalam kompleks suci dua Imam di Haram al-Askariyyain. Saat itu suasana begitu sunyi. Tidak ada seorang pun selain diriku. Tiba-tiba seorang lelaki Turki memasuki tempat suci tersebut. Setelah selesai berziarah, ia menghadap kepada Imam dan mulai berbicara dalam bahasa Turki. Kurang lebih, ia berkata: “Aku ingin engkau mengembalikan uang bekalku yang hilang. Engkau tahu bahwa aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk bisa pulang ke negeriku. Seluruh bekalku hanya itulah. Aku tidak akan meninggalkanmu sampai engkau mengembalikannya kepadaku.” Namun cara bicaranya semakin lama semakin keras. Ia bahkan mengucapkan beberapa perkataan dengan bahasa awam yang terdengar kurang sopan dan agak berani di hadapan Imam. Syekh Zainul Abidin as-Salmasi mendengar semua itu. Lelaki tersebut mungkin mengira bahwa sang Syekh tidak memahami bahasa Turki yang digunakannya. Maka beliau segera menghampirinya dan berkata: “Apa maksudmu berbicara seperti itu? Mengapa engkau tidak menjaga adab kepada Imam (as) dan berani berbicara seperti itu?” Beliau menegur lelaki tersebut dan memintanya menghentikan perkataannya. Namun lelaki itu justru menjawab dengan penuh keyakinan: “Apa urusanmu mencampuri urusanku dengan Imamku? Kembalilah kepada urusanmu sendiri. Aku lebih mengenal beliau dan mengetahui hak beliau daripada engkau. Aku tidak akan meninggalkannya sebelum keinginanku terpenuhi.” Syekh as-Salmasi pun kembali ke tempatnya di salah satu sudut haram, di sisi yang mengarah ke bagian kepala makam. Sementara lelaki itu kembali berdiri di dekat makam, berbicara kepada Imam dan berkeliling di sekitar dharih. Syekh as-Salmasi kemudian duduk sambil merenungkan tingkah lelaki tersebut. Tiba-tiba... Terdengar sebuah suara. Suara itu terdengar seperti bunyi rantai yang jatuh ke sebuah wadah logam. Syekh as-Salmasi segera menoleh. Di dekat dharih, dari arah bagian kepala makam, tampak sebuah kantong kecil telah terjatuh ke lantai. Yang lebih menakjubkan, saat itu lelaki Turki tadi sedang berada di sisi kaki makam. Begitu mendengar suara tersebut, ia segera berbalik menuju arah kepala. Dan ketika melihat benda yang tergeletak di sana, ia menemukan kantong miliknya! Wajahnya seketika berubah. Ia mengambil kantong tersebut dengan penuh kegembiraan. Hatinya dipenuhi kebahagiaan seolah baru saja mendapatkan kembali seluruh harapannya. Kemudian ia mendatangi Syekh as-Salmasi dan berkata dengan penuh keyakinan: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu? Aku berhasil mendapatkan kembali kantongku dari kedua Imam ini dengan perkataan-perkataanku yang tadi engkau anggap tidak sopan dan bahkan membuatmu merasa tidak nyaman.” Lalu ia melanjutkan: “Kalau aku tidak berbicara seperti itu kepada mereka, mungkin mereka tidak akan memperhatikanku.” Syekh Zainul Abidin as-Salmasi hanya bisa terdiam. Ia menyaksikan sendiri keyakinan lelaki sederhana itu dan ketulusan hatinya dalam bertawassul kepada Imam. Hatinya dipenuhi rasa takjub. Ia pun bersyukur kepada Allah SWT karena telah diperlihatkan salah satu tanda dari kekuasaan dan karāmah para Hujjah Allah dari Ahlulbayt (as). Sebuah kisah yang menyisakan renungan: Kadang-kadang seseorang datang kepada Wali Allah dengan bahasa yang sangat sederhana, bahkan dengan cara yang mungkin dianggap tidak pantas oleh orang lain. Namun di balik kesederhanaan itu bisa terdapat keyakinan yang begitu kuat. Lelaki itu tidak datang membawa banyak bekal. Ia hanya datang membawa sebuah harapan dan keyakinan bahwa Imamnya tidak akan membiarkannya pulang dalam keadaan kehilangan. Dan menurut kisah yang dinukil tersebut, harapan itu akhirnya menemukan jawabannya di tempat yang sama, di hadapan makam dua Imam Ahlulbayt (as). Referensi: 📖 Dar al-Salam, hlm. 260 – Mirza Husain al-Nuri al-Tabarsi 📖 Ma'athir al-Kubara fi Tarikh Samarra, jilid 2, hlm. 152 – Syekh Dzabihullah al-Mahallati #islam #ulama #dakwah #imamalialhadi #imamhasanalaskari

About