@sadiam.77: Missing you … #grief #parentloss

Sadiam.
Sadiam.
Open In TikTok:
Region: US
Sunday 16 August 2026 21:09:02 GMT
64640
15469
124
725

Music

Download

Comments

alyciamar_tinezz
Alycia Martinez 👸🏻 :
I didn’t know how to feel. I couldn’t cry I couldn’t nothin. I just couldn’t believe. Seeing his lifeless body when we found him was already enough.
2026-08-18 20:20:07
246
peanutt.buttter
⋆. 𐙚˚࿔ L A U R A 𝜗𝜚˚⋆ :
They had the funeral without me there because I was too far and it was too close to my birthday, they still my dad bro
2026-08-19 11:07:29
1
jmjavier201119mon23
J IS M. :
Ilost my dad the day he died im the one who witnessed it but when the last day of hes funeral i wasnt crying but when they about to close the casket i could not cry i cried hard when i remember my dad in hes daily lofe routine i dont know if i cam accept this and dont know if i cam make it with out my dad im worried about my mom and my brother my brother is only 9 and im 15 my is only 39 when he died but after his funeral the next day is hes 40 birtday😭
2026-08-20 12:27:52
1
fit4_mc
fit4_mc :
Man I cried a day later I couldn’t shed no tears
2026-08-19 15:08:12
0
laycock5420
Courtney laycock :
I cried when I was in the hospital bc I had to leave his dead body on the rd I cried when his truck was taken away but now I just feel so numb, so lost, people tell me I should get help but I keep saying im fine.. tbh idk anymore
2026-08-19 14:50:17
1
klefairyy
karina sherene⋆˚࿔ :
How it felt seeing them put his body into the cremating machine 💔
2026-08-18 17:35:25
9
kadenmaynor
Kaden💐🫶🏽💗 :
I don’t think any pain will genuinely ever compare to seeing him in that casket for the first and last time.
2026-08-18 22:22:54
63
mistymist.t
Amethyst🍃 :
Thought I wouldn’t cry but once his casket was slowly closing the casket realized that was the last time I’d see his face 💔
2026-08-18 16:07:35
30
___m452
; :
i fainted BTW💔
2026-08-17 13:27:55
29
imactuallysuperew
ディーズ :
feels like i’ve been watching life happen, like im not even here fr…
2026-08-18 14:28:02
12
mabena__13
mabena__13 :
Love you dad 💔
2026-08-20 11:42:14
5
msyella214
msyella214 :
I just knew my life was gonna be so different without him ..just wasn’t ready to say goodbye
2026-08-18 17:27:22
6
aryanahnicolee
aryanahnicolee⁷ :
we didn’t have a funeral just straight cremation and i didn’t get my chance to say goodbye to the man who loved me for me
2026-08-17 22:20:02
6
uuhnette
annette🎀 :
a literal part of my soul was buried with him that day..god do I miss him
2026-08-20 03:09:21
5
To see more videos from user @sadiam.77, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bab 4 — Api yang Menelan Dunia (Bagian 2)
Bab 4 — Api yang Menelan Dunia (Bagian 2) "Api yang paling berbahaya bukanlah api yang membakar kota. Melainkan api yang membakar kepercayaan." Dua minggu berlalu. Insiden demi insiden terus terjadi di berbagai wilayah Hutan Jura. Tidak ada serangan besar. Tidak ada pasukan yang mengibarkan bendera perang. Namun setiap hari... Selalu ada desa yang dirampok. Selalu ada karavan yang menghilang. Selalu ada keluarga yang kehilangan seseorang. Dan perlahan... Rakyat mulai hidup dalam ketakutan. Di ruang rapat Tempest. Tumpukan laporan kini memenuhi hampir seluruh meja. Benimaru membaca satu per satu. Tangannya berhenti pada sebuah laporan dari desa bagian timur. Tiga warga sipil tewas. Bukan prajurit. Bukan petualang. Melainkan warga biasa. Ruangan mendadak sunyi. Gobta mengepalkan tangan. "Sampai kapan kita hanya bertahan?" "Kalau begini terus..." "Mereka akan terus menginjak-injak Tempest." Benimaru mengangkat kepalanya. "Aku tahu." "Tapi kalau kita menyerang tanpa bukti..." "Kita justru memberi mereka alasan untuk memulai perang." Tak seorang pun membantah. Karena itulah yang diinginkan musuh. Di luar istana... Pemakaman sederhana kembali digelar. Tiga peti kayu berjajar. Tak ada dentuman meriam. Tak ada iringan musik. Hanya tangisan keluarga. Seorang anak laki-laki berdiri di depan makam ayahnya. Ia menggenggam erat sebuah syal biru. "Katanya..." "Kalau ada Rimuru-sama..." "Tidak akan ada orang jahat." Ibunya memeluknya erat. Tak sanggup menjawab. Di kejauhan... Benimaru menyaksikan semuanya. Untuk pertama kalinya... Ia menundukkan kepala. Bukan kepada musuh. Melainkan kepada rakyatnya. "Maaf..." "Aku belum bisa menjadi pemimpin seperti beliau." Malam harinya. Diablo berdiri sendirian di ruang kerja Rimuru. Ia membuka lemari kecil yang selama ini tak pernah disentuh. Di dalamnya terdapat sebuah peta dunia. Peta itu dipenuhi tanda dan catatan tulisan tangan Rimuru. Di sudut bawah tertulis sebuah kalimat. "Perdamaian bukan berarti tidak ada musuh. Perdamaian adalah ketika semua orang memilih untuk tidak menjadi musuh." Diablo memejamkan mata. "Tuanku..." "Baru sekarang saya memahami betapa berat beban yang Anda pikul." Ia menggulung kembali peta itu dengan hati-hati. Di perbatasan utara. Souei memimpin pasukan pengintai. Mereka menemukan jejak pertempuran. Namun anehnya... Tidak ada mayat. Tidak ada lambang kerajaan. Hanya tanah yang dipenuhi bekas sihir. Souei berjongkok. Menyentuh tanah yang hangus. "...Mereka sengaja menghapus semua jejak." Salah satu anggota Shadow Squad bertanya, "Haruskah kita mengejar?" Souei menggeleng. "Mereka ingin kita mengejar." "Berarti..." "Di depan sana sudah ada jebakan." Sementara itu... Di sebuah ruangan gelap. Seorang pria bertopeng menerima laporan. "Rencana berjalan sesuai perkiraan." "Tempest masih menahan diri." Pria itu tersenyum tipis. "Itu karena mereka masih dipimpin oleh orang-orang yang waras." "Tapi..." "Berapa lama lagi mereka sanggup menahan amarah?" Ia menancapkan sebuah belati kecil ke peta. Tepat di wilayah Hutan Jura. "Buat mereka marah." "Buat mereka menyerang lebih dulu." "Begitu Tempest mengangkat pedangnya..." "Dunia akan menganggap mereka sebagai ancaman." Tak ada yang menyadari... Musuh yang sebenarnya tidak sedang berusaha mengalahkan Tempest. Mereka sedang berusaha menghancurkan nama baik yang telah dibangun Rimuru selama bertahun-tahun. Fajar menyingsing. Benimaru berdiri di gerbang utama Tempest. Di hadapannya, ratusan prajurit bersiap berpatroli. Ia memandang wajah mereka satu per satu. Wajah-wajah yang dulu selalu dipenuhi semangat. Kini... Dipenuhi tekad untuk melindungi rumah mereka. Benimaru menghunus pedangnya. "Bukan demi balas dendam." "Bukan demi kebencian." "Kita bertarung..." "Untuk memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan orang tuanya." Seluruh pasukan memberi hormat. Mereka tahu... Perdamaian telah berakhir. Dan mulai hari itu... Tempest tidak lagi hanya membangun negeri. Mereka juga harus mempertahankannya. #tenseishitaraslimedattaken #thattimeigotreincarnatedasaslime #animeedit #fyp

About