@turkish_series227: #CapCut #emirsarrihan #daha17 #لاتزال_في_السابعة_عشر ..

turkish_series227
turkish_series227
Open In TikTok:
Region: TN
Monday 17 August 2026 12:44:14 GMT
124126
5526
210
516

Music

Download

Comments

boske2722
🔱DOSKE_22🔱 :
مائه فه چه نكرئ ته خودئ
2026-08-19 21:42:34
0
zuhaib8808
Zuhaib :
i donot why people are hating him and also teo and aras he is such a gentleman
2026-08-17 16:21:55
25
enescooper38
𝙈𝙪𝙝𝙖𝙢𝙢𝙚𝙙 𝙀𝙣𝙚𝙨 :
186’dan uzun gibi duruyor ata’dan uzun 191-92 olabilir
2026-08-17 19:29:39
47
z.n872
Zainab :
شكله تسعينات😂
2026-08-17 18:43:26
83
marvel.hocam
Marvel Hocam :
düz mantık düşünelim ilk öncelikle bu boyun yanlış olduğu belli çünkü Ata yaşatın boyu 1.85 abisini oynayan kişi yani Aras karakterimizin boyu 1.87 bu durumda bu onlardan uzun ancak teoman'ın babasından kısa o zaman bu olanda yaklaşık olarak 1.88 ila 1.89 arasında bir boya sahiptir
2026-08-17 19:41:49
4
its.emirxx
Змир🇷🇺 :
Çağan 1.88 olm emir daha uzun
2026-08-18 13:06:19
16
tanzeelkakar30
T A N Z E E L :
2002❌. 1999
2026-08-17 18:14:33
23
xelilovv_23
𝓧. :
Çağan ve Atadan uzun 1.88+ var
2026-08-18 08:45:16
6
rabia_kandemir2
𝐫𝐚𝐛𝐢𝐚꩜ :
ya abi çağandan bile uzun bu 190 var
2026-08-19 21:14:35
0
s1urixx
😋 :
اراس 1.88 هو1.90
2026-08-17 23:39:23
8
alya20444
ملكة العالم 🦉 :
شبه نيومان اووي اختلاف لون الشعر
2026-08-17 17:45:37
30
ezgisel56
ezgisel :
Rahat 195 var
2026-08-18 23:16:19
0
teodenizz6
teodenDİZİ🫰🏿👅🤩 :
Editi Chatcgpt mi yapti
2026-08-18 16:49:48
3
nmnml50
الأسمر 🇺🇲 :
طلع مسودن بالمسلسل 🥰
2026-08-18 16:39:52
1
amal.driditiktok.com
amoula 😜❤️ :
اراس مايجي اي شيء بي نسبة لي هاذا صراحا ليلي اذا اختارت هاذا احسن من اراس 😂🥰♥️♥️
2026-08-18 02:08:24
0
umut.tmr
Umu7🇹🇷 :
ata 180 cm çağan 183 cm Emir 185-186 cm
2026-08-19 20:49:49
1
To see more videos from user @turkish_series227, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : Keonho dan ketukan pintunya di kamar kosan lantai duamu resmi berubah menjadi rutinitas baru sejak insiden penataan kulkas hari itu—sekaligus anehnya, mulai terasa familier. Cowok jangkung bermuka badak itu benar-benar memanfaatkan stok daging premium dan jajaran susu almond di dalam kulkas kecilmu sebagai alasan sah untuk terus menyusup masuk. Hampir setiap hari setelah kelasnya selesai, Keonho akan mengetuk pintumu sembari menenteng makanan instan, lalu tanpa tahu malu berjongkok di depan area dapur kecilmu hanya untuk mengajakmu makan bersama.  Kamu selalu menyambutnya dengan omelan ketus dan wajah masam, namun Keonho hanya akan membalasnya dengan kekehan renyah penuh ketengilan. Hingga akhirnya, tibalah hari kelahiranmu di tanah perantauan. Malam itu, jam digital di atas meja belajar sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat empat puluh lima menit. Hari ulang tahunmu tinggal menyisakan lima belas menit lagi sebelum berganti hari, namun suasana kamar kosan justru terasa semakin sepi dan dingin oleh embusan angin Bandung yang menerobos celah jendela. Di sinilah, di kamar sempit ini, alasan tersembunyi mengapa kamu nekat merantau sejauh ini akhirnya mengendap dengan begitu sesak. Merantau ke Universitas Pradipa bukan hanya sekadar misi pelarianmu untuk menghindari kejaran Keonho, melainkan sebuah pelarian dari kenyataan rumah yang sudah tidak lagi menerimamu. Sejak lama, hubungan kedua orang tuamu di kota asal selalu dipenuhi pertengkaran hebat yang melelahkan. Puncaknya adalah ketika ibumu memutuskan untuk menikah lagi. Seolah eksistensimu tidak pernah ada, ibumu perlahan mengabaikanmu dan sepenuhnya lebih mengutamakan anak tiri dari suami barunya tersebut. Kamu terus-menerus dibanding-bandingkan, disalahkan hanya karena jalan hidupmu tidak sejalan dengan apa yang ibumu mau. Luka itu semakin diperparah ketika ayah tirimu mengusirmu secara halus dengan dalih
POV : Keonho dan ketukan pintunya di kamar kosan lantai duamu resmi berubah menjadi rutinitas baru sejak insiden penataan kulkas hari itu—sekaligus anehnya, mulai terasa familier. Cowok jangkung bermuka badak itu benar-benar memanfaatkan stok daging premium dan jajaran susu almond di dalam kulkas kecilmu sebagai alasan sah untuk terus menyusup masuk. Hampir setiap hari setelah kelasnya selesai, Keonho akan mengetuk pintumu sembari menenteng makanan instan, lalu tanpa tahu malu berjongkok di depan area dapur kecilmu hanya untuk mengajakmu makan bersama. Kamu selalu menyambutnya dengan omelan ketus dan wajah masam, namun Keonho hanya akan membalasnya dengan kekehan renyah penuh ketengilan. Hingga akhirnya, tibalah hari kelahiranmu di tanah perantauan. Malam itu, jam digital di atas meja belajar sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat empat puluh lima menit. Hari ulang tahunmu tinggal menyisakan lima belas menit lagi sebelum berganti hari, namun suasana kamar kosan justru terasa semakin sepi dan dingin oleh embusan angin Bandung yang menerobos celah jendela. Di sinilah, di kamar sempit ini, alasan tersembunyi mengapa kamu nekat merantau sejauh ini akhirnya mengendap dengan begitu sesak. Merantau ke Universitas Pradipa bukan hanya sekadar misi pelarianmu untuk menghindari kejaran Keonho, melainkan sebuah pelarian dari kenyataan rumah yang sudah tidak lagi menerimamu. Sejak lama, hubungan kedua orang tuamu di kota asal selalu dipenuhi pertengkaran hebat yang melelahkan. Puncaknya adalah ketika ibumu memutuskan untuk menikah lagi. Seolah eksistensimu tidak pernah ada, ibumu perlahan mengabaikanmu dan sepenuhnya lebih mengutamakan anak tiri dari suami barunya tersebut. Kamu terus-menerus dibanding-bandingkan, disalahkan hanya karena jalan hidupmu tidak sejalan dengan apa yang ibumu mau. Luka itu semakin diperparah ketika ayah tirimu mengusirmu secara halus dengan dalih "melatih kemandirian", memaksamu untuk segera mencari tempat tinggal lain setelah pernikahan mereka selesai. Di masa-masa kelam saat kamu menjadi korban perundungan kejam dari Keonho di sekolah, ditambah hancurnya kehangatan di dalam rumah, dunia virtual menjadi satu-satunya tempat pelarian suci di mana kamu bisa bernapas bebas. Di balik layar kaca itulah kamu menemukan kenyamanan, menjalin hubungan kasih dengan sosok yang teramat lembut, tanpa pernah menduga bahwa takdir bercanda begitu hebat saat kedok itu terbongkar dan memperlihatkan wajah Keonho di baliknya. Dan jujur saja, di tengah batinmu yang babak belur, kehadiran Keonho yang belakangan ini terus menempel dan membawa serentetan ketengilan ajaibnya secara perlahan mulai memberikan warna baru yang perlahan mengikis abu-abu di duniamu. Sambil menahan sesak yang mencekik tenggorokan, kamu duduk bersimpuh di atas lantai kamar yang dingin. Kamu menyalakan sebatang lilin kecil di atas sepotong roti sobek murah, bersiap merayakan hari lahirmu sendirian seperti biasa. Untuk mengusir sunyi yang teramat pekat, kamu menghidupkan sebuah rekaman video lama di ponselmu—sebuah rekaman kaset digital saat kamu masih berusia dua tahun. Di layar kaca yang temaram, memori masa lalu berputar dengan begitu indahnya. Terlihat sosok kecilmu sedang tertawa riang di depan kue ulang tahun yang besar, dikelilingi oleh sorakan ceria dari teman-teman kecilmu saat kamu meniup lilin. Di detik berikutnya, kamera menangkap ciuman pipi yang teramat hangat dan penuh kasih sayang dari kedua orang tuamu yang saat itu masih saling mencintai. Video itu merekam kebahagiaan yang teramat sempurna, sebuah potret "keluarga cemara" yang utuh sebelum akhirnya api badai ego orang dewasa menerjang dan menghancurkan semuanya tanpa sisa. Mendengar suara sorakan bahagia dan tawa kedua orang tuamu dari rekaman masa lalu yang kontras dengan kesunyian kamarmu saat ini, air matamu perlahan luruh membasahi pipi tanpa bisa dibendung lagi. Bahumu terguncang hebat akibat tangisan yang membakar dada. Tok! Tok! Tok! [💬💬💬lanjutan di koment!] #KEONHO #keonhoedit #cortis #fyp

About