@growing_with_glynn: Work smarter, not harder 👏 If you’re building your math routines for the new school year, 99math gives students engaging practice while giving teachers real-time insight into how they’re doing…without adding another stack of work to your plate. And it’s free for teachers. 💜 #99math #t#teachersbacktoschool @99math💜

Hailey Glynn
Hailey Glynn
Open In TikTok:
Region: US
Monday 17 August 2026 14:57:27 GMT
305
6
0
4

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @growing_with_glynn, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Hari itu, Madinah terasa tenang. Angin berhembus lembut melewati dinding-dinding tanah dan tiang-tiang masjid yang sederhana. Para sahabat duduk melingkar di sekitar Rasulullah ﷺ—sebagian mendengarkan, sebagian merenung, sebagian lagi hanya menatap wajah mulia itu dengan penuh cinta. Umar bin Khattab رضي الله عنه ada di sana. Tiba-tiba… Seorang lelaki muncul. Tidak ada yang melihat dari mana ia datang. Tidak ada jejak perjalanan di tubuhnya. Pakaiannya sangat putih, bersih seolah baru saja dikenakan. Rambutnya hitam pekat, rapi, tidak kusut sedikit pun. Aneh. Jika ia musafir, pasti ada debu di pakaiannya. Jika ia penduduk Madinah, pasti ada yang mengenalnya. Namun… tidak seorang pun tahu siapa dia. Lelaki itu berjalan tenang, lalu langsung menuju Rasulullah ﷺ. Ia duduk sangat dekat—bahkan lututnya menempel dengan lutut Nabi ﷺ. Kedua tangannya diletakkan di atas pahanya dengan penuh adab. Semua sahabat terdiam. Suasana berubah tegang… tapi juga penuh rasa ingin tahu. Lalu lelaki itu berkata dengan suara tenang: “Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku tentang Islam.” Para sahabat terkejut. Ia memanggil Nabi ﷺ dengan namanya—bukan dengan panggilan hormat seperti kebiasaan mereka.  Tapi Rasulullah ﷺ tetap menjawab dengan tenang: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu.” Lelaki itu mengangguk, lalu berkata: “Engkau benar.” Para sahabat saling berpandangan. Ia bertanya… tapi ia juga membenarkan? Siapa sebenarnya orang ini? Namun ia belum selesai. “Kabarkan kepadaku tentang iman.” Rasulullah ﷺ menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, baik dan buruknya.” Lelaki itu kembali berkata: “Engkau benar.” Detak jantung para sahabat terasa semakin jelas. Lalu ia melanjutkan: “Kabarkan kepadaku tentang ihsan.” Kini suasana menjadi lebih dalam… seakan pertanyaan ini menyentuh inti hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Kalimat itu menembus dada. Sebagian sahabat menunduk… sebagian menahan air mata. Namun lelaki itu belum berhenti. “Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat.” Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh ketenangan: “Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Seolah menegaskan… bahkan Nabi ﷺ pun tidak mengetahui kapan waktunya. Lelaki itu mengangguk, lalu bertanya lagi: “Kalau begitu, kabarkan kepadaku tanda-tandanya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang budak wanita melahirkan tuannya… dan engkau melihat orang-orang yang dahulu miskin, tanpa alas kaki, penggembala kambing… berlomba-lomba meninggikan bangunan.” Sunyi. Kata-kata itu terasa asing… namun juga seperti bayangan masa depan yang akan datang. Lalu… Tanpa banyak kata, lelaki itu berdiri… dan pergi. Para sahabat hanya bisa menatap punggungnya hingga ia menghilang. Waktu berlalu. Keheningan masih menggantung. Kemudian Rasulullah ﷺ memandang Umar رضي الله عنه dan bertanya: “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Umar menunduk dengan penuh adab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Itu adalah Jibril… ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” Seketika dada para sahabat bergetar. Ternyata… yang duduk tadi… yang bertanya dengan tenang… yang menguji dengan pertanyaan-pertanyaan itu… adalah Malaikat Jibril. Bukan sekadar pertemuan biasa. Itu adalah pelajaran langsung dari langit—tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Tentang apa yang tampak… apa yang diyakini… dan bagaimana seharusnya hati ini hidup di hadapan Allah. Dan sejak hari itu, para sahabat tahu… bahwa agama ini bukan sekadar amalan, bukan sekadar keyakinan, tapi juga tentang merasakan bahwa Allah selalu melihat mereka. Mari bershalawat untuk Rasulullah ﷺ dikolom komen. Allahumma Shalli 'ala Muhammad✨🌙 📚HR. Nawawi No. 2
Hari itu, Madinah terasa tenang. Angin berhembus lembut melewati dinding-dinding tanah dan tiang-tiang masjid yang sederhana. Para sahabat duduk melingkar di sekitar Rasulullah ﷺ—sebagian mendengarkan, sebagian merenung, sebagian lagi hanya menatap wajah mulia itu dengan penuh cinta. Umar bin Khattab رضي الله عنه ada di sana. Tiba-tiba… Seorang lelaki muncul. Tidak ada yang melihat dari mana ia datang. Tidak ada jejak perjalanan di tubuhnya. Pakaiannya sangat putih, bersih seolah baru saja dikenakan. Rambutnya hitam pekat, rapi, tidak kusut sedikit pun. Aneh. Jika ia musafir, pasti ada debu di pakaiannya. Jika ia penduduk Madinah, pasti ada yang mengenalnya. Namun… tidak seorang pun tahu siapa dia. Lelaki itu berjalan tenang, lalu langsung menuju Rasulullah ﷺ. Ia duduk sangat dekat—bahkan lututnya menempel dengan lutut Nabi ﷺ. Kedua tangannya diletakkan di atas pahanya dengan penuh adab. Semua sahabat terdiam. Suasana berubah tegang… tapi juga penuh rasa ingin tahu. Lalu lelaki itu berkata dengan suara tenang: “Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku tentang Islam.” Para sahabat terkejut. Ia memanggil Nabi ﷺ dengan namanya—bukan dengan panggilan hormat seperti kebiasaan mereka. Tapi Rasulullah ﷺ tetap menjawab dengan tenang: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu.” Lelaki itu mengangguk, lalu berkata: “Engkau benar.” Para sahabat saling berpandangan. Ia bertanya… tapi ia juga membenarkan? Siapa sebenarnya orang ini? Namun ia belum selesai. “Kabarkan kepadaku tentang iman.” Rasulullah ﷺ menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, baik dan buruknya.” Lelaki itu kembali berkata: “Engkau benar.” Detak jantung para sahabat terasa semakin jelas. Lalu ia melanjutkan: “Kabarkan kepadaku tentang ihsan.” Kini suasana menjadi lebih dalam… seakan pertanyaan ini menyentuh inti hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Kalimat itu menembus dada. Sebagian sahabat menunduk… sebagian menahan air mata. Namun lelaki itu belum berhenti. “Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat.” Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh ketenangan: “Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Seolah menegaskan… bahkan Nabi ﷺ pun tidak mengetahui kapan waktunya. Lelaki itu mengangguk, lalu bertanya lagi: “Kalau begitu, kabarkan kepadaku tanda-tandanya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang budak wanita melahirkan tuannya… dan engkau melihat orang-orang yang dahulu miskin, tanpa alas kaki, penggembala kambing… berlomba-lomba meninggikan bangunan.” Sunyi. Kata-kata itu terasa asing… namun juga seperti bayangan masa depan yang akan datang. Lalu… Tanpa banyak kata, lelaki itu berdiri… dan pergi. Para sahabat hanya bisa menatap punggungnya hingga ia menghilang. Waktu berlalu. Keheningan masih menggantung. Kemudian Rasulullah ﷺ memandang Umar رضي الله عنه dan bertanya: “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Umar menunduk dengan penuh adab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Itu adalah Jibril… ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” Seketika dada para sahabat bergetar. Ternyata… yang duduk tadi… yang bertanya dengan tenang… yang menguji dengan pertanyaan-pertanyaan itu… adalah Malaikat Jibril. Bukan sekadar pertemuan biasa. Itu adalah pelajaran langsung dari langit—tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Tentang apa yang tampak… apa yang diyakini… dan bagaimana seharusnya hati ini hidup di hadapan Allah. Dan sejak hari itu, para sahabat tahu… bahwa agama ini bukan sekadar amalan, bukan sekadar keyakinan, tapi juga tentang merasakan bahwa Allah selalu melihat mereka. Mari bershalawat untuk Rasulullah ﷺ dikolom komen. Allahumma Shalli 'ala Muhammad✨🌙 📚HR. Nawawi No. 2

About