@hccd.9: gi gỉ gì gi cái gì cũng được 🫶🏻 #coffee #bread #cream #hanoi

Hổ chó chuột dê
Hổ chó chuột dê
Open In TikTok:
Region: VN
Wednesday 19 August 2026 07:48:25 GMT
4027
129
10
9

Music

Download

Comments

nguyenthithutrang_012
Thu Trang :
Em xin ảnh đk ạ?
2026-08-28 04:30:26
1
ssiiccuullaa_12
_trn.nhungg12 :
Lẩu ngong đấy
2026-08-19 10:51:21
1
diewnynh
🎀DiewLynhh⭐️ :
t để ý cái nhạc
2026-08-28 04:06:50
1
chauu18117
… :
Khẹc khẹc
2026-08-19 12:47:42
0
bo.ha037
Bảo Hứa :
Ủng hộ nhau cùng phát triển nha
2026-08-27 22:05:25
0
embong0602
Bống 🥨 :
🥰🥰🥰
2026-08-19 07:53:10
0
To see more videos from user @hccd.9, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

sean & sie secret admire | au - Matahari pukul tiga sore di SMA Pelita Bangsa tidak pernah kenal kompromi. Sinarnya menembus kaca-kaca jendela perpustakaan yang berdebu, menciptakan pilar-pilar cahaya jingga yang menyinari jutaan partikel debu yang menari di udara. Suasananya hening, hanya interupsi kecil dari suara detak jam dinding kuno dan dengung AC tua yang napasnya sudah kembang kempis. Natasha Kirana berdiri di sana, di antara barisan rak buku yang menjulang tinggi seperti benteng. Tangannya yang kecil menggenggam erat sebuah papan jalan berisi tumpukan proposal OSIS yang harusnya ia setor ke ruang kepala sekolah setengah jam yang lalu. Tapi persetan dengan proposal itu. Jantungnya saat ini sedang memukul-mukul rongga dadanya jauh lebih kencang daripada tuntutan revisi dari Kevin Pratama, si Ketua OSIS yang perfeksionis. Gadis itu menarik napas panjang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan Bu Lastri penjaga perpustakaan yang hobi drakoran sedang tidak memperhatikannya. Setelah merasa aman, Natasha melangkah pelan menuju sudut paling belakang. Rak fiksi remaja, baris ketiga dari bawah. Di sanalah benda itu berada. Sebuah buku bersampul biru kusam dengan judul yang sudah hampir terhapus: Filosofi Kopi. Bagi Natasha, buku itu adalah kotak pos rahasia. Selama dua tahun, Natasha sudah menjadi
sean & sie secret admire | au - Matahari pukul tiga sore di SMA Pelita Bangsa tidak pernah kenal kompromi. Sinarnya menembus kaca-kaca jendela perpustakaan yang berdebu, menciptakan pilar-pilar cahaya jingga yang menyinari jutaan partikel debu yang menari di udara. Suasananya hening, hanya interupsi kecil dari suara detak jam dinding kuno dan dengung AC tua yang napasnya sudah kembang kempis. Natasha Kirana berdiri di sana, di antara barisan rak buku yang menjulang tinggi seperti benteng. Tangannya yang kecil menggenggam erat sebuah papan jalan berisi tumpukan proposal OSIS yang harusnya ia setor ke ruang kepala sekolah setengah jam yang lalu. Tapi persetan dengan proposal itu. Jantungnya saat ini sedang memukul-mukul rongga dadanya jauh lebih kencang daripada tuntutan revisi dari Kevin Pratama, si Ketua OSIS yang perfeksionis. Gadis itu menarik napas panjang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan Bu Lastri penjaga perpustakaan yang hobi drakoran sedang tidak memperhatikannya. Setelah merasa aman, Natasha melangkah pelan menuju sudut paling belakang. Rak fiksi remaja, baris ketiga dari bawah. Di sanalah benda itu berada. Sebuah buku bersampul biru kusam dengan judul yang sudah hampir terhapus: Filosofi Kopi. Bagi Natasha, buku itu adalah kotak pos rahasia. Selama dua tahun, Natasha sudah menjadi "bayangan" bagi Sean Arkatama. Ia tahu kalau perpustakaan adalah pelarian Sean saat dunia luar terasa terlalu bising. Natasha menarik buku itu dari raknya. Jemarinya yang sedikit gemetar membuka halaman paling belakang. Ia mengeluarkan selembar kertas kuning dari saku rok abu-abunya. Kertas itu sudah ia lipat rapi menjadi bentuk origami hati yang kecil. "Tadi gue liat lo hampir jatuh pas drible bola. Lain kali ikat tali sepatunya dua kali ya Sean. Jangan maksa, sehat itu lebih penting dari skor." Ia menyelipkan kertas itu di sela halaman, lalu sebuah suara berat memecah kesunyian di belakangnya. "Jadi, lo pelakunya?" Natasha tersentak hebat. Buku biru di tangannya nyaris meluncur ke lantai. Ia kaku. Natasha membalikkan badannya. Di hadapannya berdiri Sean Arkatama. Cowok itu masih mengenakan jersey basket sekolah yang basah oleh keringat. Handuk putih melingkar di lehernya. "Se-Sean? Kok... kok masih di sini?" Sean melangkah maju. "Gue udah nungguin lo dari tadi, Sha. Gue penasaran siapa orang yang tiap Selasa sore hobi banget nyelipin kertas di buku ini." "Gue... gue cuma mau balikin buku, kok." Sean mengambil buku biru itu. Ia membukanya, mengambil origami hati berwarna kuning itu. "Terus ini apa? Tugas OSIS model baru?" "Bukan apa-apa. Iseng doang." Sean terkekeh pelan. "Gue nggak sebodoh itu Sha" "Gue udah baca semua surat lo, Sha. Dari yang bulan lalu nyuruh gue jangan keseringan minum soda, sampe yang minggu lalu ngingetin gue buat pake jaket karena hujan," Sean berkata lirih. Ia memasukkan kertas kuning itu ke saku celana pendeknya. "Tebakan gue bener, tulisannya mirip banget sama notulensi rapat OSIS yang pernah gue liat di mading." "Kenapa lo lakuin ini?" Natasha menarik napas panjang. "Karena gue pikir... lo butuh seseorang yang peduli tanpa harus banyak tanya, Sean. Semua orang di sekolah cuma liat lo sebagai 'Kapten Basket yang Hebat'. Tapi gue liat lo sebagai orang yang sering duduk sendirian di sini sambil kelihatan capek banget." Sean terdiam. "Lo bener, Sha. Gue emang capek," bisik Sean. Ia menepuk puncak kepala Natasha dengan lembut. "Makasih udah perhatian sama gue Sha. Tapi mulai besok, jangan taruh kertas lagi di sini." "Oh... oke. Maaf ya kalau gue ganggu—" "Bukan gitu maksud gue," potong Sean cepat. "Maksud gue, besok temuin gue di kantin pas istirahat pertama. Gue mau denger lo ngomong 'semangat' langsung di depan muka gue, bukan lewat kertas kuning ini lagi." Sean membalikkan badan, berjalan menuju pintu keluar. "Sampai ketemu besok, Sekretaris OSIS!" Natasha berdiri mematung. Rahasia yang ia simpan rapat selama dua tahun telah terbongkar, tapi anehnya, beban dibahunya terasa terangkat #seonghyeon #au #fyp #coer

About