Na_yoen :
Menurutku, mutual respect sesama manusia aja. Sebagai perempuan, justru aku agak terganggu dengan kalimat “dicintai dan dirayakan selayaknya perempuan”. Memangnya seperti apa “selayaknya perempuan”? Kenapa cinta yang layak harus didefinisikan berdasarkan gender?
Kita semua, terlepas dari gender, pernah minder dan insecure tentang apakah kita benar-benar dicintai, dihargai, dan dirayakan. Jadi mungkin pertanyaannya perlu dibalik: bukan “kapan aku akan dicintai selayaknya perempuan?”, tetapi “kenapa dua manusia yang saling berbagi rasa tidak bisa saling mencintai dan menghargai dengan layak?”
Kalau seseorang mengkhianati kepercayaan, merendahkan, atau tidak menghormati pasangannya, menurutku itu bukan karena dia gagal memperlakukan “perempuan selayaknya perempuan”, tetapi karena dia gagal memperlakukan manusia lain dengan rasa hormat. Dan ketika kita menjadikan laki-laki sebagai pihak yang menentukan apakah kita layak dicintai, bukankah kita justru sedang menggantungkan nilai diri kita pada validasi mereka?
Sebelum menunggu seseorang mencintai kita dengan “selayaknya”, mungkin kita perlu belajar mencintai dan menghargai diri sendiri terlebih dahulu. Kita boleh ingin dicintai, tapi jangan sampai lupa klo kita tetap berharga bahkan sebelum seseorang datang untuk mencintai kita.
Karena pada akhirnya, dicintai dengan tulus bukan sesuatu yang “selayaknya perempuan”. Itu "selayaknya manusia".
2026-08-20 04:23:23