@le_c7g3: #pourtoi

Capucine
Capucine
Open In TikTok:
Region: FR
Wednesday 19 August 2026 15:26:04 GMT
135
31
1
1

Music

Download

Comments

ambre.736
@amber🍋 :
Ces plus tôt moi qui bouffe tout ton frigo mdr 😂
2026-08-19 17:48:17
0
To see more videos from user @le_c7g3, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Wajah gadis itu sangat familier. Tatapan mata hazelnya membuat Jennie seolah sedang melihat seseorang dari masa lalunya. Dia.. Jennie yang mendadak diserang rasa gugup luar biasa langsung memalingkan wajahnya. “Itu.. Lala?” batin Jennie. — Hari kedua festival. Di kantin sekolah saat jam istirahat, Jennie duduk bersama kedua sahabatnya, Irene dan Rosé. Suasana sangat bising, penuh dengan murid-murid dari berbagai sekolah. “Eh, Jen, lo ngerasa nggak sih?” Rosé tiba-tiba menyenggol lengan Jennie sambil berbisik. Matanya melirik ke arah meja panjang di sudut kantin, tempat rombongan perwakilan dari Daegu makan. Jennie mengerutkan dahi “Ngerasa apa?” “Itu loh, perwakilan teater dari Daegu yang tinggi itu, yang berponi. Dari kemaren sampai sekarang, dia sering banget curi-curi pandang ke arah lo” “Eh, iya lagi, Jen. Gue juga beberapa kali nangkep dia kayak natap lo lama gitu” timpal Irene, ikut berbisik. Jantung Jennie mencelos. Ia tahu itu. Ia merasakannya. Tapi.. ia masih ragu. Apa benar itu Lala-nya? “Perasaan kalian aja kali” “Jangan-jangan.. dia naksir lo?” goda Irene sambil terkikik geli. Jennie memutar bola matanya menanggapi godaan Irene, lalu menyeruput jus jeruknya. Sejak Junior High School hingga Senior High School, Jennie tak pernah mau berpacaran meski banyak yang tertarik padanya. Alasannya, ia sudah memiliki seseorang, dan Irene serta Rosé tahu itu. Sementara Rosé hanya diam menatap ke arah gadis berponi yang sedang berbincang bersama teman-temannya, seolah sedang menyelidiki. Rosé mengeluarkan ponselnya, lalu sibuk mencari sesuatu “Nah, dapet! Namanya Lalisa Manoban” Jennie membeku sesaat. Lalisa.. Manoban? Jennie memang tidak pernah tau nama lengkap Lisa. Yang ia tahu nama Lala-nya itu adalah Lalisa. Irene mengernyitkan alisnya “Terus? Lo kenal?” Rosé berdecak “Lo inget pacar kecil Jennie?” Irene terdiam, otaknya mulai mengingat-ingat “Wait! Siapa namanya? Lalisa?” Rosé mengangguk semangat. “Jen, nama pacar kecil lo itu Lala, kan?” “I-iya” “You get what I mean, Ren?” tanya Rosé. Hening sesaat. Brak! Irene menggebrak meja, hendak bersuara, tapi Rosé lebih dulu membekap mulutnya karena tahu Irene pasti akan berteriak. “Gila ya lo! Ngapain gebrak-gebrak meja?!” bisik Rosé penuh tekanan. Jennie segera meminta maaf kepada orang-orang sekitar atas keributan temannya. Dan tatapannya bertemu dengan Lisa. Tapi Jennie buru-buru memalingkan wajahnya. Irene melepas tangan Rosé dengan napas memburu “Tangan lo bau terasi, sialan!” “Eh?” Rosé menghidu tangannya dan ternyata benar, bau terasi. Ia cengengesan menatap Irene “Sorry, sorry” Irene menatap kesal pada Rosé sambil terus mengusap mulut dan hidungnya. “Lagian lo ngapain sih, Ren? Tiba-tiba gebrak meja gitu? tanya Jennie. “Gue tau kenapa si Lalisa itu selalu liatin lo, Jen” “Jelasin, Ren! Tunjukkan pada si Jennie ini gimana kemampuan detektif kita” suruh Rosé sambil mengibaskan rambutnya. Wajah Irene seketika berubah angkuh, membuat Jennie menatap malas kedua sahabatnya ini. “Udah ah, buruan, emang kenapa?” Irene dan Rosé terkekeh. “Lo nggak ngeh, Jen? Nama dia, kan, Lalisa. Bisa disingkat jadi Lala. Dia juga dari Daegu, kayak pacar kecil lo. Gue yakin dia tuh Lala yang selalu lo ceritain ke kita” “Kalian berpisah udah cukup lama, dia pasti nggak tau gimana wajah lo sekarang setelah beranjak remaja, begitu juga dengan lo, kan? Dia mungkin ngerasa familier, makanya sering natap lo gitu” jelas Irene. Jennie terdiam. Benar kata Irene. Ia dan Lisa sama-sama tak tahu seperti apa wajah satu sama lain setelah beranjak remaja. Sejak berpisah di gerbang sekolah dasar di Daegu, mereka tak pernah lagi berkontak, apalagi bertemu. Jennie menggeleng pelan “Masa dari nama dan asal doang kalian langsung bilang itu Lala” Rosé mengulurkan tangannya, menarik keluar liontin berbentuk setengah sayap kupu-kupu yang tersembunyi di balik kerah baju Jennie. “Kalau gue bilang dia juga pakai kalung dengan liontin yang persis sama dengan kalung yang selalu lo pakai ini, lo masih nggak percaya sama kita?” Jennie tersentak “K-kalung?” ••• TBC #jenlisa #au #fyp
Wajah gadis itu sangat familier. Tatapan mata hazelnya membuat Jennie seolah sedang melihat seseorang dari masa lalunya. Dia.. Jennie yang mendadak diserang rasa gugup luar biasa langsung memalingkan wajahnya. “Itu.. Lala?” batin Jennie. — Hari kedua festival. Di kantin sekolah saat jam istirahat, Jennie duduk bersama kedua sahabatnya, Irene dan Rosé. Suasana sangat bising, penuh dengan murid-murid dari berbagai sekolah. “Eh, Jen, lo ngerasa nggak sih?” Rosé tiba-tiba menyenggol lengan Jennie sambil berbisik. Matanya melirik ke arah meja panjang di sudut kantin, tempat rombongan perwakilan dari Daegu makan. Jennie mengerutkan dahi “Ngerasa apa?” “Itu loh, perwakilan teater dari Daegu yang tinggi itu, yang berponi. Dari kemaren sampai sekarang, dia sering banget curi-curi pandang ke arah lo” “Eh, iya lagi, Jen. Gue juga beberapa kali nangkep dia kayak natap lo lama gitu” timpal Irene, ikut berbisik. Jantung Jennie mencelos. Ia tahu itu. Ia merasakannya. Tapi.. ia masih ragu. Apa benar itu Lala-nya? “Perasaan kalian aja kali” “Jangan-jangan.. dia naksir lo?” goda Irene sambil terkikik geli. Jennie memutar bola matanya menanggapi godaan Irene, lalu menyeruput jus jeruknya. Sejak Junior High School hingga Senior High School, Jennie tak pernah mau berpacaran meski banyak yang tertarik padanya. Alasannya, ia sudah memiliki seseorang, dan Irene serta Rosé tahu itu. Sementara Rosé hanya diam menatap ke arah gadis berponi yang sedang berbincang bersama teman-temannya, seolah sedang menyelidiki. Rosé mengeluarkan ponselnya, lalu sibuk mencari sesuatu “Nah, dapet! Namanya Lalisa Manoban” Jennie membeku sesaat. Lalisa.. Manoban? Jennie memang tidak pernah tau nama lengkap Lisa. Yang ia tahu nama Lala-nya itu adalah Lalisa. Irene mengernyitkan alisnya “Terus? Lo kenal?” Rosé berdecak “Lo inget pacar kecil Jennie?” Irene terdiam, otaknya mulai mengingat-ingat “Wait! Siapa namanya? Lalisa?” Rosé mengangguk semangat. “Jen, nama pacar kecil lo itu Lala, kan?” “I-iya” “You get what I mean, Ren?” tanya Rosé. Hening sesaat. Brak! Irene menggebrak meja, hendak bersuara, tapi Rosé lebih dulu membekap mulutnya karena tahu Irene pasti akan berteriak. “Gila ya lo! Ngapain gebrak-gebrak meja?!” bisik Rosé penuh tekanan. Jennie segera meminta maaf kepada orang-orang sekitar atas keributan temannya. Dan tatapannya bertemu dengan Lisa. Tapi Jennie buru-buru memalingkan wajahnya. Irene melepas tangan Rosé dengan napas memburu “Tangan lo bau terasi, sialan!” “Eh?” Rosé menghidu tangannya dan ternyata benar, bau terasi. Ia cengengesan menatap Irene “Sorry, sorry” Irene menatap kesal pada Rosé sambil terus mengusap mulut dan hidungnya. “Lagian lo ngapain sih, Ren? Tiba-tiba gebrak meja gitu? tanya Jennie. “Gue tau kenapa si Lalisa itu selalu liatin lo, Jen” “Jelasin, Ren! Tunjukkan pada si Jennie ini gimana kemampuan detektif kita” suruh Rosé sambil mengibaskan rambutnya. Wajah Irene seketika berubah angkuh, membuat Jennie menatap malas kedua sahabatnya ini. “Udah ah, buruan, emang kenapa?” Irene dan Rosé terkekeh. “Lo nggak ngeh, Jen? Nama dia, kan, Lalisa. Bisa disingkat jadi Lala. Dia juga dari Daegu, kayak pacar kecil lo. Gue yakin dia tuh Lala yang selalu lo ceritain ke kita” “Kalian berpisah udah cukup lama, dia pasti nggak tau gimana wajah lo sekarang setelah beranjak remaja, begitu juga dengan lo, kan? Dia mungkin ngerasa familier, makanya sering natap lo gitu” jelas Irene. Jennie terdiam. Benar kata Irene. Ia dan Lisa sama-sama tak tahu seperti apa wajah satu sama lain setelah beranjak remaja. Sejak berpisah di gerbang sekolah dasar di Daegu, mereka tak pernah lagi berkontak, apalagi bertemu. Jennie menggeleng pelan “Masa dari nama dan asal doang kalian langsung bilang itu Lala” Rosé mengulurkan tangannya, menarik keluar liontin berbentuk setengah sayap kupu-kupu yang tersembunyi di balik kerah baju Jennie. “Kalau gue bilang dia juga pakai kalung dengan liontin yang persis sama dengan kalung yang selalu lo pakai ini, lo masih nggak percaya sama kita?” Jennie tersentak “K-kalung?” ••• TBC #jenlisa #au #fyp

About