@ai.honeycove: ChatCut just launched as a free AI video editor inside ChatGPT and Claude, letting you edit videos fast with plain English commands. Perfect for quick, mass-produced edits without any learning curve or extra software. #chatcut #aivideoeditor #chatgptplugins #quickvideoedit #aieditingtools

AI Honeycove
AI Honeycove
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 20 August 2026 02:53:57 GMT
3774
182
3
61

Music

Download

Comments

clipvault5907
Clip Vault :
this kind of workflow is interesting. i’m with team Vizard, so i’ve been keeping an eye on how these AI editors are approaching the editing side.
2026-08-20 20:23:12
2
dtrstudios1919
DTR Studios 1919 :
free really
2026-08-20 21:05:06
1
kelmedia1
Benson Kelfala :
🙏🙏🙏
2026-08-20 12:48:58
0
To see more videos from user @ai.honeycove, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Lima tahun berlalu. Banyak hal berubah. Jinji masih aktif menjadi aktris. Film demi film ia bintangi. Penghargaan demi penghargaan ia terima. Namanya semakin dikenal. Namun… Ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di jari manis tangan kirinya… Masih melingkar cincin yang seharusnya dipasangkan Jan pada hari itu. Tak pernah sekalipun ia melepasnya. Saat wartawan bertanya kenapa ia belum menikah… Jinji hanya tersenyum. “Aku masih bahagia seperti ini.” Tak ada yang tahu… Bahwa sebagian hatinya masih tertinggal pada seseorang lima tahun yang lalu. ⸻ Hari itu… Adalah ulang tahun Jan. Seperti tahun-tahun sebelumnya… Jinji datang ke makam Jan. Di tangannya ada dua gelas kopi. Satu kopi favoritnya. Satu lagi kopi favorit Jan. Juga sebuket bunga matahari. Bunga yang dulu hampir setiap hari Jan bawakan ke lokasi syuting. Jinji duduk pelan di depan makam. Ia meletakkan satu gelas kopi di samping batu nisan. “Hai…” “Aku datang lagi.” Angin berembus pelan. Jinji tersenyum kecil. “Hari ini aku baru selesai syuting.” “Capek banget.” “Tapi filmnya seru.” “Aku yakin kamu bakal ngeledekin aku kalau lihat adegannya.” Ia tertawa kecil. Walau air matanya mulai menggenang. “Oh iya…” “Emi sekarang masih sama aja.” “Masih paling berisik.” “Kapook juga.” “Masih suka bikin semua orang ketawa.” “Namtam udah buka coffee shop.” “Ciize sama Bonnie juga masih sering gangguin aku.” “Mereka semua baik-baik aja.” “Jadi…” “…kamu nggak usah khawatir.” Jinji terdiam. Menatap nama Jan yang terukir di batu nisan. “Semua orang pelan-pelan belajar buat ikhlas.” “…kecuali aku.” Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh. “Aku masih sering nyari kamu…” “Di keramaian.” “Di lokasi syuting.” “Bahkan…” “…di setiap orang yang senyumnya mirip kamu.” “Tapi nggak pernah ketemu.” Tangisnya mulai pecah. “Aku kangen…” “Kangen banget…” Ia mengusap pelan batu nisan itu. Lalu mengeluarkan bunga matahari dari tasnya. “Makasih ya…” “Udah pernah hadir di hidup aku.” “Makasih udah selalu bikin aku bahagia.” “Makasih udah selalu bawain aku bunga.” Jinji meletakkan bunga itu tepat di depan makam. Lalu berdiri perlahan. Sebelum melangkah pergi… Ia berbisik pelan. “Aku udah nunggu lima tahun…” “Sekarang gantian kamu yang nunggu aku ya…” Jinji menarik napas panjang. Air matanya kembali jatuh. “Tapi…” “…jangan lima menit.” “Aku nggak kuat kehilangan kamu untuk kedua kalinya.” Ia tersenyum tipis. Meski senyum itu penuh luka. “Lain kali…” “…kalau kita ketemu lagi.” “…jangan tinggalin aku.” Jinji membalikkan badan. Melangkah perlahan meninggalkan makam. ⸻ Di saat yang sama… Suara yang sangat ia rindukan kembali terngiang di kepalanya. Flashback lima tahun lalu. Panggilan telepon terakhir mereka. Jan: “Jin…” Jinji: “Iya?” Jan: “Tunggu aku lima menit lagi.” Jinji di masa kini menutup matanya. Air mata kembali mengalir. Lalu suara dirinya lima tahun lalu terdengar pelan. Jinji: “Iya…” ”…aku tunggu.” Langkah Jinji berhenti sesaat. Ia menoleh sekali lagi ke arah makam. Tersenyum, walau air matanya belum berhenti jatuh. Lalu berjalan pergi. Membawa cinta yang tak pernah selesai. Dan seseorang… Yang akan selalu hidup di dalam hatinya, meski waktu terus berjalan. — Selesai —  #fyp #janhae #jingjingyu #viral #sad
Lima tahun berlalu. Banyak hal berubah. Jinji masih aktif menjadi aktris. Film demi film ia bintangi. Penghargaan demi penghargaan ia terima. Namanya semakin dikenal. Namun… Ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di jari manis tangan kirinya… Masih melingkar cincin yang seharusnya dipasangkan Jan pada hari itu. Tak pernah sekalipun ia melepasnya. Saat wartawan bertanya kenapa ia belum menikah… Jinji hanya tersenyum. “Aku masih bahagia seperti ini.” Tak ada yang tahu… Bahwa sebagian hatinya masih tertinggal pada seseorang lima tahun yang lalu. ⸻ Hari itu… Adalah ulang tahun Jan. Seperti tahun-tahun sebelumnya… Jinji datang ke makam Jan. Di tangannya ada dua gelas kopi. Satu kopi favoritnya. Satu lagi kopi favorit Jan. Juga sebuket bunga matahari. Bunga yang dulu hampir setiap hari Jan bawakan ke lokasi syuting. Jinji duduk pelan di depan makam. Ia meletakkan satu gelas kopi di samping batu nisan. “Hai…” “Aku datang lagi.” Angin berembus pelan. Jinji tersenyum kecil. “Hari ini aku baru selesai syuting.” “Capek banget.” “Tapi filmnya seru.” “Aku yakin kamu bakal ngeledekin aku kalau lihat adegannya.” Ia tertawa kecil. Walau air matanya mulai menggenang. “Oh iya…” “Emi sekarang masih sama aja.” “Masih paling berisik.” “Kapook juga.” “Masih suka bikin semua orang ketawa.” “Namtam udah buka coffee shop.” “Ciize sama Bonnie juga masih sering gangguin aku.” “Mereka semua baik-baik aja.” “Jadi…” “…kamu nggak usah khawatir.” Jinji terdiam. Menatap nama Jan yang terukir di batu nisan. “Semua orang pelan-pelan belajar buat ikhlas.” “…kecuali aku.” Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh. “Aku masih sering nyari kamu…” “Di keramaian.” “Di lokasi syuting.” “Bahkan…” “…di setiap orang yang senyumnya mirip kamu.” “Tapi nggak pernah ketemu.” Tangisnya mulai pecah. “Aku kangen…” “Kangen banget…” Ia mengusap pelan batu nisan itu. Lalu mengeluarkan bunga matahari dari tasnya. “Makasih ya…” “Udah pernah hadir di hidup aku.” “Makasih udah selalu bikin aku bahagia.” “Makasih udah selalu bawain aku bunga.” Jinji meletakkan bunga itu tepat di depan makam. Lalu berdiri perlahan. Sebelum melangkah pergi… Ia berbisik pelan. “Aku udah nunggu lima tahun…” “Sekarang gantian kamu yang nunggu aku ya…” Jinji menarik napas panjang. Air matanya kembali jatuh. “Tapi…” “…jangan lima menit.” “Aku nggak kuat kehilangan kamu untuk kedua kalinya.” Ia tersenyum tipis. Meski senyum itu penuh luka. “Lain kali…” “…kalau kita ketemu lagi.” “…jangan tinggalin aku.” Jinji membalikkan badan. Melangkah perlahan meninggalkan makam. ⸻ Di saat yang sama… Suara yang sangat ia rindukan kembali terngiang di kepalanya. Flashback lima tahun lalu. Panggilan telepon terakhir mereka. Jan: “Jin…” Jinji: “Iya?” Jan: “Tunggu aku lima menit lagi.” Jinji di masa kini menutup matanya. Air mata kembali mengalir. Lalu suara dirinya lima tahun lalu terdengar pelan. Jinji: “Iya…” ”…aku tunggu.” Langkah Jinji berhenti sesaat. Ia menoleh sekali lagi ke arah makam. Tersenyum, walau air matanya belum berhenti jatuh. Lalu berjalan pergi. Membawa cinta yang tak pernah selesai. Dan seseorang… Yang akan selalu hidup di dalam hatinya, meski waktu terus berjalan. — Selesai — #fyp #janhae #jingjingyu #viral #sad

About