@lizzie_cuevas: A work in progress, but I like where she’s going. #BecomingHer #betonyourself #SelfGrowth #NYCLifestyle #NYCCreator

Elizabeth Cuevas
Elizabeth Cuevas
Open In TikTok:
Region: US
Friday 21 August 2026 03:04:01 GMT
475
56
7
1

Music

Download

Comments

chloewendler
Chloë Wendler :
oh my heart 🥺
2026-08-24 14:17:54
1
wreckxng
jillian :
a star 💖
2026-08-22 02:37:28
1
chloemmccullough
chloe mccullough :
you’re incredible🩷🩷
2026-08-21 16:52:48
1
yoav1994
יואב פניני :
Or to be with
2026-08-21 16:18:49
0
To see more videos from user @lizzie_cuevas, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

TAHUN 1989… AKU PERGI, DAN MUNGKIN SAAT ITULAH AKU KEHILANGANMU SELAMANYA Tahun 1989.. Aku pergi meninggalkan kampung halaman. Bukan karena aku tidak ingin tinggal. Bukan karena aku ingin melupakan siapa-siapa. Aku hanya sedang mengejar kehidupan. Aku pergi membawa sebuah mimpi sederhana... Suatu hari nanti aku akan kembali. Membawa hasil dari keringatku sendiri. Membawa sesuatu yang bisa kubanggakan. Membuktikan bahwa kepergianku bukan sebuah kesalahan. Saat itu aku masih begitu muda. Aku belum mengerti bahwa kehidupan kadang meminta kita memilih... Antara mengejar masa depan... Atau mempertahankan seseorang yang kita cintai. Dan aku memilih pergi. Aku memilih perjalanan panjang. Aku memilih perantauan. Selamanya akan menjadi kata-kata yang tidak pernah sampai. Begitulah terkadang kehidupan mempermainkan hati manusia. Kita meninggalkan seseorang dengan keyakinan akan kembali. Bahwa orang yang pernah begitu berarti dalam hidupku... Baik-baik saja. Namun bahkan harapan sederhana itu pun belum tentu menjadi kenyataan. Nama kita hanya akan tinggal sebagai kenangan di dalam hati masing-masing. Kamu adalah bagian dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Karena setiap kali aku mengingat tahun 1989... Aku tidak hanya mengingat kepergianku. Aku mengingatmu. Aku mengingat seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa cinta bisa menunggu. Ternyata... Tidak semua cinta sanggup menunggu sepanjang waktu. Dan aku tidak menyalahkanmu. Sungguh. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin memang begitulah takdir. Kita dipertemukan... Kemudian dipisahkan. Kita diberi rasa... Kemudian diuji oleh jarak. Kita diberi harapan... Kemudian diajarkan tentang kehilangan. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari masa mudaku. Terima kasih karena pernah membuatku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan tulus. Kalaupun akhirnya kita tidak bersama... Setidaknya aku pernah memiliki kenangan tentangmu. Dan mungkin... Itulah satu-satunya hal yang masih bisa kubawa sampai tua. Bukan fotomu. Bukan suratmu. Bukan pula janji-janji kita. Hanya sebuah nama... Yang sesekali muncul ketika malam terlalu sunyi. Tahun 1989... Aku pergi untuk mencari kehidupan. Aku pikir aku hanya meninggalkan kampung halaman. Ternyata... Aku juga meninggalkan seseorang yang sampai puluhan tahun kemudian... Masih sering hadir dalam ingatan. Lucunya kehidupan... Aku pergi membawa harapan untuk kembali. Tetapi ketika waktu akhirnya memberiku kesempatan untuk menoleh... Yang tersisa hanya jalan panjang yang sudah tidak bisa kutempuh kembali. Dan kamu... Sudah menjadi bagian dari jalan yang pernah kulalui. Kini aku tidak lagi menunggu. Bukan karena sudah tidak mencintai. Tetapi karena akhirnya aku sadar... Ada perbedaan antara mencintai seseorang... Dan memiliki seseorang. Aku mungkin masih menyimpan rasa. Tetapi aku harus belajar menerima kenyataan. Sebab cinta tidak selalu berarti memiliki. Kadang cinta adalah kemampuan untuk mengikhlaskan... Tiga puluh tahun lebih ternyata tidak mampu menghapus semua kenangan. Dan kalau kita tidak pernah bertemu lagi... Tidak apa-apa. Biarlah Tuhan yang menyimpan cerita kita. Biarlah waktu yang menjadi saksi. Bahwa pernah ada dua manusia... Yang pada suatu masa saling mencintai... Namun harus berjalan ke arah yang berbeda. Aku pergi pada tahun 1989... Mengejar mimpi. Mengejar kehidupan. Mengejar masa depan. Tetapi sampai hari ini... Ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kutinggalkan: kenangan tentangmu. Karena ternyata... Yang paling berat dari sebuah kepergian... Bukan ketika kaki melangkah meninggalkan kampung halaman. Tetapi ketika hati sadar... Bahwa orang yang kita tinggalkan... Mungkin tidak akan pernah kita temui lagi. Harapan tinggal harapan. Rindu tinggal rindu. Kenangan tinggal kenangan. Dan pada akhirnya... takdir sudah berbicara. Aku hanya bisa menundukkan kepala... Menerima bahwa tidak semua yang kita cintai... Ditakdirkan untuk kembali kepada kita.
TAHUN 1989… AKU PERGI, DAN MUNGKIN SAAT ITULAH AKU KEHILANGANMU SELAMANYA Tahun 1989.. Aku pergi meninggalkan kampung halaman. Bukan karena aku tidak ingin tinggal. Bukan karena aku ingin melupakan siapa-siapa. Aku hanya sedang mengejar kehidupan. Aku pergi membawa sebuah mimpi sederhana... Suatu hari nanti aku akan kembali. Membawa hasil dari keringatku sendiri. Membawa sesuatu yang bisa kubanggakan. Membuktikan bahwa kepergianku bukan sebuah kesalahan. Saat itu aku masih begitu muda. Aku belum mengerti bahwa kehidupan kadang meminta kita memilih... Antara mengejar masa depan... Atau mempertahankan seseorang yang kita cintai. Dan aku memilih pergi. Aku memilih perjalanan panjang. Aku memilih perantauan. Selamanya akan menjadi kata-kata yang tidak pernah sampai. Begitulah terkadang kehidupan mempermainkan hati manusia. Kita meninggalkan seseorang dengan keyakinan akan kembali. Bahwa orang yang pernah begitu berarti dalam hidupku... Baik-baik saja. Namun bahkan harapan sederhana itu pun belum tentu menjadi kenyataan. Nama kita hanya akan tinggal sebagai kenangan di dalam hati masing-masing. Kamu adalah bagian dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Karena setiap kali aku mengingat tahun 1989... Aku tidak hanya mengingat kepergianku. Aku mengingatmu. Aku mengingat seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa cinta bisa menunggu. Ternyata... Tidak semua cinta sanggup menunggu sepanjang waktu. Dan aku tidak menyalahkanmu. Sungguh. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin memang begitulah takdir. Kita dipertemukan... Kemudian dipisahkan. Kita diberi rasa... Kemudian diuji oleh jarak. Kita diberi harapan... Kemudian diajarkan tentang kehilangan. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari masa mudaku. Terima kasih karena pernah membuatku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan tulus. Kalaupun akhirnya kita tidak bersama... Setidaknya aku pernah memiliki kenangan tentangmu. Dan mungkin... Itulah satu-satunya hal yang masih bisa kubawa sampai tua. Bukan fotomu. Bukan suratmu. Bukan pula janji-janji kita. Hanya sebuah nama... Yang sesekali muncul ketika malam terlalu sunyi. Tahun 1989... Aku pergi untuk mencari kehidupan. Aku pikir aku hanya meninggalkan kampung halaman. Ternyata... Aku juga meninggalkan seseorang yang sampai puluhan tahun kemudian... Masih sering hadir dalam ingatan. Lucunya kehidupan... Aku pergi membawa harapan untuk kembali. Tetapi ketika waktu akhirnya memberiku kesempatan untuk menoleh... Yang tersisa hanya jalan panjang yang sudah tidak bisa kutempuh kembali. Dan kamu... Sudah menjadi bagian dari jalan yang pernah kulalui. Kini aku tidak lagi menunggu. Bukan karena sudah tidak mencintai. Tetapi karena akhirnya aku sadar... Ada perbedaan antara mencintai seseorang... Dan memiliki seseorang. Aku mungkin masih menyimpan rasa. Tetapi aku harus belajar menerima kenyataan. Sebab cinta tidak selalu berarti memiliki. Kadang cinta adalah kemampuan untuk mengikhlaskan... Tiga puluh tahun lebih ternyata tidak mampu menghapus semua kenangan. Dan kalau kita tidak pernah bertemu lagi... Tidak apa-apa. Biarlah Tuhan yang menyimpan cerita kita. Biarlah waktu yang menjadi saksi. Bahwa pernah ada dua manusia... Yang pada suatu masa saling mencintai... Namun harus berjalan ke arah yang berbeda. Aku pergi pada tahun 1989... Mengejar mimpi. Mengejar kehidupan. Mengejar masa depan. Tetapi sampai hari ini... Ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kutinggalkan: kenangan tentangmu. Karena ternyata... Yang paling berat dari sebuah kepergian... Bukan ketika kaki melangkah meninggalkan kampung halaman. Tetapi ketika hati sadar... Bahwa orang yang kita tinggalkan... Mungkin tidak akan pernah kita temui lagi. Harapan tinggal harapan. Rindu tinggal rindu. Kenangan tinggal kenangan. Dan pada akhirnya... takdir sudah berbicara. Aku hanya bisa menundukkan kepala... Menerima bahwa tidak semua yang kita cintai... Ditakdirkan untuk kembali kepada kita.

About