@michaelfranzese_: AI back in my day? Forget about it. 😂 But nowadays? I’d take full advantage! #michaelfranzese #AI #mob #mafia #mademan

Michael Franzese Collections
Michael Franzese Collections
Open In TikTok:
Region: US
Friday 21 August 2026 18:47:29 GMT
3165
184
6
5

Music

Download

Comments

imnewherehiguys
ItsGoingToBeOkay :
Ai can be confusing it's really hard to tell what's real and what's not and people have definitely used it with bad intentions. It's a great tool though if you want to use it to boost your platform have fun that's what this app was supposed to be about
2026-08-24 22:42:10
0
user1294447610497
Princess Life :
All true! I really love the painting behind you!
2026-08-23 05:56:36
1
velourfx7
velourfx :
First🥇
2026-08-21 18:57:10
1
f1cat_
cat :3 :
I have a question, I know you probably won't answer but anyway. What did it feel like when you swore the oath and became a made man?
2026-08-21 22:55:10
0
janettelerma
Janette Lerma :
🙏
2026-08-21 22:03:52
0
To see more videos from user @michaelfranzese_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sebatas pelarian 2 Satu tahun menikah, Mas Haidar sama sekali tidak pernah membahas masalah anak. Jadi, aku tidak tahu apakah dia menginginkan keturunan dariku atau tidak. Hanya saja, dia pernah menggunakan pengaman. Hal itu sedikit membuatku tersinggung dan bertanya-tanya apakah dia akan senang kalau tahu aku hamil?
Sebatas pelarian 2 Satu tahun menikah, Mas Haidar sama sekali tidak pernah membahas masalah anak. Jadi, aku tidak tahu apakah dia menginginkan keturunan dariku atau tidak. Hanya saja, dia pernah menggunakan pengaman. Hal itu sedikit membuatku tersinggung dan bertanya-tanya apakah dia akan senang kalau tahu aku hamil? "Sarapannya udah matang." Aku berkata setelah menyusul ke kamar. Sambil tetap menyisir rambut, dia berkata, "Duluan aja. Aku belum lapar." Ini bukan kali pertama aku mendapat penolakan. Mas Haidar memang jarang makan di rumah. Kalau aku menyiapkan sarapan, katanya kepagian. Dia bisa sarapan di Lesehan. Makan siang jelas dia pun ada di sana. Waktu malam juga lebih sering seperti itu. Hanya saja, sebagai seorang istri terkadang aku tidak enak jika tidak memasak. Lagi pula, aku pun butuh makan. Pernikahanku dengan Mas Haidar bukan lantaran dijodohkan. Dia sendiri yang meminta izin hendak meminang ketika aku baru sebulan bekerja di warung makan miliknya. Sebagai orang yang berasal dari keluarga pas-pasan dan juga pantang berpacaran, aku menerima Mas Haidar ketika keluarganya datang melamar. Sebulan kemudian, akad nikah dilaksanakan. Ya, memang sesingkat itu perjalanan kami. Aku pikir … karena dia juga tidak mau berlama-lama pacaran sehingga langsung ingin menikah. Sampai detik ini, aku belum tau kenapa Mas Haidar menikahiku. Tidak pernah ada kata cinta yang terlontar dari bibirnya. Tidak pernah ada tatapan penuh damba layaknya pasangan muda pada umumnya. Terkadang aku bertanya-tanya, apakah memang pernikahan seperti ini? Atau … memang Mas Haidar bukan tipe orang yang romantis sehingga tidak semanis laki-laki lain yang kerap mesra terhadap istrinya? "Aku masih sangat mencintai Mita, Ran. Jadi, aku akan tetap berhubungan baik dengan keluarganya." Kalimat itu diucapkan Mas Haidar tepat satu minggu setelah kami menikah. Aku berusaha memaklumi. Bahkan aku pernah mengajukan diri untuk ikut ke Batang untuk bersilaturahmi dengan keluarga Mita. Namun, Mas Haidar melarang. Bahkan sampai sekarang pun aku belum pernah diajak ke warung makan yang ada di Batang. Mas Haidar selalu meminta pengertian agar aku memaklumi bahwa dia belum bisa move on dari mantan kekasihnya. Tadinya, bagiku itu adalah tantangan. Aku bertekad akan menyembuhkan luka di hatinya dan membuat Mas Haidar melupakan Mita. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa lelah karena segala tentang Mita dijadikan prioritas. Banyak yang bilang aku beruntung dinikahi Mas Haidar. Tampan, mapan, dan penyayang. Ya, setidaknya itulah pandangan orang-orang. Memang benar, Mas Haidar penyayang. Bahkan saking sayangnya, dia masih sangat menyayangi mantan kekasihnya meski telah tiada. *** Aku menekan saklar lampu teras, tapi tetap saja lampu-lampunya tidak menyala. Aku menghela nafas. Mungkin ada kabel yang terputus atau lampunya perlu diganti. Mengabaikan masalah lampu, aku menyiapkan makan malam. Siapa tau Mas Haidar pulang cepat dan bisa kuajak bicara mengenai kehamilan ini. Mas Haidar pulang pukul sembilan malam. Sewaktu aku membukakan pintu, dia bertanya, "Kenapa gelap?" "Lampunya mati, Mas." "Kenapa nggak diganti?" "Aku nggak bisa, Mas." Aku berkata pelan. Sedikit bingung kenapa Mas Haidar bisa bertanya seperti itu. Lampu di teras itu tinggi-tinggi. Dan aku tidak tau kenapa bisa mati semua. "Makanya aku nunggu Mas Haidar," ucapku lagi. Mas Haidar yang sudah melangkah masuk ke ruang tamu berbalik. "Jangan apa-apa mengandalkan suami. Apa jatah dariku kurang sampa kamu nggak bisa nyuruh orang buat ganti lampu?" Aku tertegun. Benarkah Mas Haidar yang berkata demikian? Belum sempat hilang rasa keterkejutan di dalam diriku, Mas Haidar berkata pagi, "Belajar mandiri. Jangan apa-apa bilang sama aku!" Baiklah. Aku akan mandiri. Dan aku juga tidak akan bilang tentang kehamilan ini. Bukankah seperti itu yang dia mau? *** Lanjut ke KBM app Judul : Sebatas Pelarian Penulis : Julli Nobasa #ibmstory #novelkbm #kbm

About