@nattt_guerrero: 🖤 #paratii #rammstein

Natalia Guerrero
Natalia Guerrero
Open In TikTok:
Region: CO
Monday 24 August 2026 01:14:32 GMT
649
110
7
1

Music

Download

Comments

soy_vincent1
vincent :
me apunto
2026-08-24 18:22:22
0
user7779229562732
juan :
🤟🤟🤟🤟🤟🤟
2026-08-24 17:43:32
0
theblackghost.32_
☠️شبح 👻 :
😎🤟
2026-08-24 12:14:51
0
ronalserrano116
ronalserrano116 :
🌹🌹🎶😍🎶🥰🎶😍🎶🌹🌹
2026-08-24 13:51:19
0
damianchoportilla984
damiancho :
🥰🌹🌹🌹🍷🍷🍷🤘🏻🤘🏻🤘🏻🤘🏻🌹🌹🌹🥰
2026-08-24 12:44:00
0
jgr5127
JGR :
🥵🥵🥵
2026-08-24 01:45:02
0
yesidleonardobohorquez32
🌀🐉Mi yesid 😂🤣 :
😍😍😍
2026-08-24 22:26:07
0
To see more videos from user @nattt_guerrero, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#janjingjing   Malam itu, Jingjing duduk sendirian di balkon rumahnya. Ponselnya masih menampilkan pesan dari Jan yang sejak tadi belum ia balas. ‎ ‎Jan: Kamu yakin masih mau bertahan sama dia? ‎ ‎Pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya. ‎ ‎Jan tahu hubungan Jingjing dengan kekasihnya tidak baik. Terlalu sering Jingjing dibuat kecewa, diabaikan, bahkan harus menangis sendirian karena sikap kekasihnya. ‎ ‎Dan Jan selalu menjadi orang yang datang setelah semuanya terjadi. ‎ ‎Membawakan makanan ketika Jingjing lupa makan. ‎ ‎Mendengarkan ceritanya ketika Jingjing sedang sedih. ‎ ‎Menemaninya pulang ketika malam terlalu larut. ‎ ‎Jan tidak pernah mengatakan secara terang-terangan bahwa ia ingin menggantikan posisi kekasih Jingjing. ‎ ‎Tapi Jingjing tahu. ‎ ‎Malam itu, Jan akhirnya datang menemuinya. ‎ ‎
#janjingjing Malam itu, Jingjing duduk sendirian di balkon rumahnya. Ponselnya masih menampilkan pesan dari Jan yang sejak tadi belum ia balas. ‎ ‎Jan: Kamu yakin masih mau bertahan sama dia? ‎ ‎Pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya. ‎ ‎Jan tahu hubungan Jingjing dengan kekasihnya tidak baik. Terlalu sering Jingjing dibuat kecewa, diabaikan, bahkan harus menangis sendirian karena sikap kekasihnya. ‎ ‎Dan Jan selalu menjadi orang yang datang setelah semuanya terjadi. ‎ ‎Membawakan makanan ketika Jingjing lupa makan. ‎ ‎Mendengarkan ceritanya ketika Jingjing sedang sedih. ‎ ‎Menemaninya pulang ketika malam terlalu larut. ‎ ‎Jan tidak pernah mengatakan secara terang-terangan bahwa ia ingin menggantikan posisi kekasih Jingjing. ‎ ‎Tapi Jingjing tahu. ‎ ‎Malam itu, Jan akhirnya datang menemuinya. ‎ ‎"Kamu kenapa masih bertahan?" tanya Jan pelan. ‎ ‎Jingjing terdiam. ‎ ‎"Dia udah berkali-kali bikin kamu sakit. Kamu selalu bilang capek, tapi besoknya kamu balik lagi." ‎ ‎"Aku tahu." ‎ ‎"Terus kenapa?" ‎ ‎Jingjing menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. ‎ ‎"Karena cinta nggak sesederhana itu, Jan." ‎ ‎Jan menghela napas. ‎ ‎"Aku bisa bikin kamu lebih bahagia." ‎ ‎Jingjing menatapnya. ‎ ‎"Aku tahu." ‎ ‎"Aku bisa jagain kamu." ‎ ‎"Aku juga tahu." ‎ ‎"Terus kenapa kamu nggak memilih aku?" ‎ ‎Pertanyaan itu membuat Jingjing terdiam cukup lama. ‎ ‎"Karena aku nggak mau pindah dari satu hubungan ke hubungan lain hanya karena sedang terluka." ‎ ‎Jan tidak menjawab. ‎ ‎"Aku menghargai semua yang kamu lakukan buat aku," lanjut Jingjing. "Kamu selalu ada ketika aku jatuh. Kamu selalu jadi orang pertama yang nyariin aku ketika aku menghilang." ‎ ‎Jingjing tersenyum kecil. ‎ ‎"Tapi aku nggak mau memilih kamu hanya karena kamu datang di saat aku sedang kecewa sama dia." ‎ ‎Jan menatapnya dengan perasaan yang sulit disembunyikan. ‎ ‎"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar pergi dari dia?" ‎ ‎Jingjing menarik napas panjang. ‎ ‎"Entahlah." ‎ ‎"Entahlah?" ‎ ‎"Karena mungkin saat itu perasaanku juga sudah berubah." ‎ ‎Jan terdiam. ‎ ‎Jingjing berdiri dan menatap langit malam. ‎ ‎"Jan, kamu pernah dengar lagu tentang seseorang yang ingin merebut orang yang dicintainya dari hubungan yang buruk?" ‎ ‎Jan mengangguk. ‎ ‎"Kalau aku yang menyanyikan lagu balasannya..." Jingjing tersenyum tipis, "mungkin isinya bukan tentang aku memilih dia atau memilih kamu." ‎ ‎"Terus tentang apa?" ‎ ‎"Tentang seseorang yang tahu dirinya sedang berada di hubungan yang salah, tapi masih punya alasan untuk bertahan." ‎ ‎Jan menunduk. ‎ ‎"Dan tentang seseorang yang sebenarnya ingin diselamatkan, tapi belum tentu ingin diselamatkan oleh orang lain." ‎ ‎Jingjing menatap Jan. ‎ ‎"Jangan jadikan rasa sakitku sebagai kesempatan untuk mendapatkan aku." ‎Kalimat itu membuat Jan terdiam. ‎ ‎"Aku bukan hadiah yang bisa direbut hanya karena pacarku nggak memperlakukanku dengan baik." ‎ ‎Jan mengangguk perlahan. ‎ ‎"Aku cuma takut kamu terus-terusan disakitin." ‎ ‎"Aku tahu." ‎ ‎"Dan aku benci nggak bisa melakukan apa-apa." ‎ ‎Jingjing tersenyum kecil. ‎ ‎"Kamu sudah melakukan banyak hal." ‎ ‎"Apa?" ‎ ‎"Menjadi seseorang yang tetap ada." ‎ ‎Jingjing kemudian berjalan mendekati pintu. ‎ ‎"Tapi untuk urusan hatiku, biarkan aku yang menentukan." ‎ ‎Jan hanya bisa melihat Jingjing pergi. ‎ ‎Malam itu, ia akhirnya mengerti bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya. ‎ ‎Kadang, mencintai berarti tetap peduli meskipun jawaban yang diberikan bukanlah yang kita inginkan. ‎ ‎Dan bagi Jingjing, cinta memang tidak semudah memindahkan hati dari satu orang ke orang lain. ‎ ‎Karena meskipun seseorang telah terluka berkali-kali, perasaannya tetap membutuhkan waktu untuk benar-benar melepaskan. . . . . hell nahhh.. ‎

About